Kiara's POV
"Ya? Kenapa bu? Dokter itu balik terkejut."
"Su...sudah dua bulan?" tanyaku tak percaya.
"Iya bu, ini usia kandungannya sudah memasuki 8 minggu yang artinya sudah mau dua bulan bu. Apa sebelum ini ibu tidak pernah memeriksakan kandungan?"
"Ti..tidak, saya pikir ini baru saja."
"Benarkah dok sudah dua bulan?" Wajah Mevil nampak berseri-seri.
"Iya pak, itu bapak tidak melihat janin yang sudah mulai membesar? Mungkin nanti setelah 3 bulan akan semakin terlihat perutnya yang mulai membesar. Kalau dari sini bisa terlihat bayi ini akan kembar, tapi tidak sedikit juga kasus yang setelah 3-4 bulan baru terlihat bayinya tidak kembar hanya karena kurang tampak makanya terlihat seperti kembar.”
“Benarkah dok anak saya kembar? Tapi istri saya ini tidak pernah mual-mual dok. Apakah itu normal?"
“Iya pak sepertinya akan kembar, nanti bulan depan kita cek lagi perkembangannya. Wah, bagus sekali pak jika bu Kinara tidak merasa mual-mual. Artinya ibu Kinara ini bukan tipikal ibu hamil yang sering mengalami baby blue. Malah jika tidak mual-mual artinya ibu Kinara tidak akan kekurangan asupan gizi."
"Apakah foto itu bisa diperbesar lagi dok? Saya ingin melihat wajah anak saya dengan jelas dan jenis kelaminnya apa dok?"
"Saat ini belum nampak pak, mungkin nanti setelah 3 sampai 7 bulan akan terlihat jelas, yang pasti saat ini kandungan ibu Kinara sedang dalam kondisi baik."
Aku menatap monitor itu dengan perasaan campur aduk, keberuntungan apa yang menghampiriku? Ternyata aku benar-benar hamil. Aku hamil anak Mevil. Ya Tuhan, terima kasih atas nikmatmu ini. Mevil menghujani wajahku dengan ciuman-ciuman kecil. Aku tertawa melihat tingkah lakunya.
"Dok, sebelumnya saya minta maaf. Saya ingin tanya, apakah boleh ibu hamil melakukan hubungan suami istri?"
"Oh tentu saja boleh pak, tapi sebaiknya pelepasannya di luar dan dilakukan dengan berhati-hati ya pak. Kandungan dua bulan masih dalam kondisi rawan, tapi tidak masalah jika ingin melakukannya. Biasanya ibu hamil hormonnya sedang meledak-ledak jadi akan lebih manja dan tidak jarang malah ibu hamil yang meminta hubungan suami istri."
"Oh jadi tidak masalah dok? Saya takut menyakiti jika memaksa melakukannya."
"Tidak perlu buru-buru pak. Bapak dan ibu bisa memulainya dengan foreplay dan melakukannya dengan pelan, maka semuanya akan baik-baik saja."
"Terima kasih dok, saya ingin meminta vitamin dan susu untuk kesehatan istri dan anak saya."
"Baik pak, saya akan membuatkan resep vitamin, susu dan minyak ikan agar kelak anak bapak menjadi anak yang cerdas."
"Tolong berikan resep terbaik dok, saya ingin anak ini lahir dengan cerdas dan sempurna."
"Baik pak."
Aku masih tidak berhenti menatap layar yang menampilkan sesosok janin dengan gerakan yang sangat pelan. Masih sangat kecil dan tidak jelas tapi aku tau itu adalah anakku. Oh astaga nak, ibu bahkan tidak menyadari kehadiranmu. Kamu tidak rewel dan membuat ibu muntah-muntah seperti ibu hamil lainnya.
"Kiara, habis ini kamu mau ke mana? Apakah ingin makan sesuatu? Apakah ingin pergi ke suatu tempat?" Ia merangkul pundakku dengan pelan dan menciumi kepalaku bertubi-tubi.
Ahhh, kusuka sekali saat Mevil bersikap sebaik ini padaku. Ia bisa begitu perhatian dengan apa yang kuinginkan, aku tau ini karena si kecil yang ada dalam perutku. Tapi tetap saja aku merasa bahagia karena perlakuan sederhana itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wind Blows
Chick-LitWaktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan. Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri. Mulanya hidupku sangat bahagia. Mereka menyekolahkanku, Mereka memberikanku fasilitas yang memadai, Aku merasa di sayangi. Hingga...
