Kiara's POV
Senyumku mengembang mengalahkan tawa sumringah Joker. Apa aku tidak salah dengar? Kalimat sederhana itu membuatku merasa sangat bahagia. Mevil tidak pernah mengatakan kalimat semanis itu untukku. Mungkin ia hanya tidak ingin Kia kekurangan kasih sayang hingga cukup umur untuk ditinggalkan tapi aku sangat menyukai cara Mevil menyampaikan kalimat itu.
Tangannya melingkari badanku dengan lembut, membuatku merasa sangat dilindungi. Kuelus punggung besarnya yang selalu mampu membuatku tertarik untuk memeluknya. Mengapa kami tidak ditakdirkan untuk saling mencintai? Betapa indahnya jika pria ini bisa mencintaiku seperti aku mencintainya.
"Ayo tidur, Kia tidak boleh tidur malam-malam nanti tidak baik untuk pertumbuhannya." Mevil mengucapkan kata itu dengan kikuk.
Wajahnya membuatku merasa geli, sejak kapan ia bisa tau kapan Kia tidur dan bangun? Jangan bercanda begitu denganku, membuatku semakin gemas saja padanya. Aku menangkup kedua pipinya dengan gemas.
"Angelo, boleh besok aku pergi ke luar denganmu? Aku ingin ke kebun binatang atau ke sea world. Tiba-tiba aku ingin melihat hewan."
"Tentu saja boleh, apa yang tidak boleh sih? Ayo lekas tidur, besok akan menjadi hari yang melelahkan jika kamu masih belum tidur saat ini."
"Jadi aku boleh pergi ke mana? Sea world? Zoo?"
"Keduanya, kita akan pergi ke dua tempat itu." Mevil mengecup tanganku dan menarikku mendekatinya.
"Angelo, boleh besok pake baju kembaran?"
"Memangnya kita punya baju kembaran?" Ia balik bertanya dengan wajah lucu.
Benar juga, kami tidak pernah membeli baju sepasang bagaimana mungkin bisa kembaran.
"Ya pake kaos warna putih polos atau hitam polos, harusnya aku memilikinya, kamu juga harusnya ada kan?" Tanyaku ragu-ragu.
"Hahaha, besok kita beli dulu baru ke kebun binatang dan Sea world. Oke?"
"Oke." Jawabku dengan antusias.
"Angelo, peluk." Aku merentangkan kedua tangan lebar-lebar.
Mevil tersenyum manis lalu menciumi mukaku dengan cepat ditambah dengan bunyi-bunyi yang membuatku tergelak.
"Hahaha, aku minta dipeluk bukan diciumi begini."
"Kuberi bonus, daripada nanti ujung-ujungnya kamu juga minta dicium jadi sekalian saja. Kiara, kamu jika sedang mengandung seperti benar-benar bukan kamu."
"Terus kalau bukan aku, ini siapa doang?" Dengan geli kutunjuk diriku sendiri.
"Ini adalah Kia yang tumbuh di dalam Kiara."
Aku tetap tersenyum walaupun kembali disadarkan bahwa aku tak ubahnya seekor sapi yang dibesarkan hanya untuk diperas susu dan dipotong dagingnya.
"Tapi Angelo tidak mau Kiara sakit kan?"
"Tentu saja, Kiara harus tetap sehat agar Kia bisa tumbuh dengan kuat."
"Kalau Kiara meninggal saat melahirkan, apa Angelo akan menangis?"
"JANGAN PERNAH BICARA SEPERTI ITU."
Tiba-tiba suara Mevil meninggi, membuatku terkejut hingga refleks melepaskan diri darinya. Jangan bilang ia akan kembali menjadi Mevil yang seperti biasanya. Bulu kudukku meremang dan jantungku berdegup kencang.
"Maaf, aku tidak suka kamu bicara seperti itu. Jika hal itu terjadi, akan kupastikan rumah sakit yang menanganimu akan ditutup dan dokternya akan ikut mati."
Aku bergidik melihat wajahnya yang mengeras dengan gigi bergemetuk. Ia benar-benar terlihat marah sekali.
"Apa kamu tidak suka kalau aku meninggalkanmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wind Blows
ChickLitWaktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan. Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri. Mulanya hidupku sangat bahagia. Mereka menyekolahkanku, Mereka memberikanku fasilitas yang memadai, Aku merasa di sayangi. Hingga...
