Angelo's POV
Gadis itu terlihat ketakutan menatapku dari atas panggung.
Tubuhnya terlihat bergetar tetapi tak ada setetes air mata pun yang terjatuh dari kedua peluk matanya.
Nampaknya dia gadis yang tegar.
Tetap saja menurutku dia adalah seorang gadis yang malang.
Setidaknya dia lebih beruntung di beli olehku, daripada di beli oleh pria gendut yang nampak menatapnya dengan sorot mata yang sangat menjijikan.
Terlihat sekali bahwa pria itu menginginkan wanita itu ke dalam genggamannya.
Sebenarnya aku tidak akan sudi datang jauh-jauh ke hotel ini untuk menghadiri perlelangan manusia seperti ini.
Bahkan aku tak sudi untuk membeli manusia seperti ini.
Tapi apa lagi yang bisa kulakukan untuk membuat gadis itu menjadi milikku selain membelinya?
Dia tak akan mau bekerjasama denganku jika aku hanya datang dan menawarkan kerjasama dengannya.
Setelah acara pelelangan itu selesei, para pembeli di persilahkan memasuki suatu ruangan untuk transaksi.
Aku mengikuti intruksi dari para penjual manusia itu.
Menandatangani beberapa berkas dan mentransfer sejumlah uang kerekening orang yang bersangkutan.
Semudah itu pula aku bisa mendapatkan gadis itu.
Dia terduduk kaku di pojok ruangan tanpa sedikit pun menganggkat kepalanya.
Dia terus menundukkan kepalanya dan terlihat bergetar begitu hebat.
Segitu takutnya dia dengan diriku?
Tapi tak terdengar suara tangisan, gadis-gadis lain yang berada di sampingnya nampak menangis histeris dan ketakutan tapi dia hanya duduk diam tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.
Aku mengacuhkannya untuk sementara waktu hingga menyelesaikan masalah pembeliannya dari orang-orang brengsek ini.
Setelah ini aku akan membawanya pergi jauh dari negera aneh yang memiliki segelintir orang yang dengan kejinya memperdagangkan manusia.
Kiara's POV
Aku terus menunduk untuk meratapi nasibku.
Memang tak bisa di pungkiri, aku begitu kecewa dengan ayahku yang dengan kejinya dapat menjualku seperti ini.
Aku juga cukup bingung untuk apa pria itu membeliku dengan harga yang begitu mahal, jika memang dia hanya menginginkan seks, bukankah dia bisa pergi ke tempat prostitusi.
Atau jika memang dia menginginkan seorang perawan bukankah dia bisa pergi untuk memesannya dalam semalam kemudian membuangnya?
Untuk apa dia membeliku?
Aku memang lebih bersyukur dia membeliku daripada aku harus bekerja dengan orang-orang brengsek itu menjadi pelacur hingga ada orang yang bersedia membeliku.
Tapi aku tetap takut, mengapa dia repot-repot mengeluarkan uang begitu banyak untuk seorang gadis sepertiku?
Lelaki itu terlihat tampan dan memiliki sorot mata yang tegas.
Dari semua tamu di tempat pelelangan itu, hanya dirinyalah yang paling menonjol karena badannya yang proporsional dan wajahnya yang tampan.
Sisanya hanya lelaki tua, berperut buncit, berkulit hitam atau pula lelaki bule yang terlihat kelaparan dengan wajah di bawah standar.
Aku terus menahan air mataku keluar.
Menurutku aku tak pantas menangis ketakutan saat ini.
Aku harus bisa meyakinkan pria itu untuk melepaskanku dan aku akan mencicil biaya yang dia keluarkan untuk membeli diriku.
Aku rela mencicil hingga seumur hidup, yang pasti aku menginginkan sebuah kebebasan.
Terdengar derap langkah yang semakin mendekat, kulirik sepatu pentofel yang bertengger tepat di depan sepatu high heels ku.
"Let's go"
Terdengar suara barito yang khas dan berat tetapi suara itu sangat maskulin.
Dengan ragu kutonggakkan kepalaku dan manik mata pria itu langsung menatap tepat ke kedua mataku.
Dia berwajah datar dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.
Dengan ragu kugapai tangan yang di sodorkannya padaku.
Hangat, tangan besar yang hangat dan lembut.
Dia menggenggam tanganku kuat namun tak menyakiti.
Dia membawaku berjalan melewati puluhan pasang mata para gadis yang menatapku penuh iri.
Mungkin dia berpikir betapa beruntungnya aku di beli oleh seorang pria yang tampan dan kaya raya.
Tapi tidak denganku, aku tak berpikir demikian.
Hanya satu pikiranku, mau diapakan aku setelah ini.
Apakah dia seorang pisikopat?
Apakah dia seorang maniak seks?
Atau dia sengaja membeliku untuk kembali menjualku?
Aku benar-benar tak mengetahui apa alasannya untuk membeliku.
Dia terus membawaku dengan memegang tanganku memasuki kotak besi yang berjalan pelan namun pasti menuruni satu persatu lantai yang ada di hotel mewah ini.
Tidak ada pembicaraan.
Hening.
Tapi pegangannya pada tanganku tak kunjung dilepaskan.
Sesampainya di lobi depan dia tetap memegang tanganku tanpa sekali pun melepaskannya.
Dia menggiringku berjalan menuju sebuah mobil limosin putih yang terlihat menawan.
Sudah bisa di pastikan pria ini sangat kaya raya.
Akhirnya dia melepaskan tanganku untuk membukakan pintu mobil tersebut.
Aku memasuki mobil itu.
Harum maskulin langsung menusuk hidungku.
Mobil ini dipenuhi wangi maskulin pria itu.
Terlihat perabotan mewah di dalam limosin tersebut.
Mataku berbinar memandangi sekelilingku.
Baru pertama kali dalam hidupku aku menaiki mobil limosin.
Ternyata memang panjang sekali dan isinya selengkap ini.
Ada kulkas, ada tv, ada kursi panjang yang empuk, bahkan ada lemari di dalam sini.
Sepertinya dia sudah mendesain mobil ini mirip seperti kamar kos berjalan.
Tak lama kemudian lelaki itu memasuki mobilnya.
Dia memencet interkon yang terdapat di samping pintu mobil.
"Go"
Terdengar kembali suaranya yang berat untuk memberikan aba-aba kepada supir yang berada di kursi kemudi yang telah terhalang sebuah tembok dengan kami berdua.
Tak berapa lama terdengar bunyi mesin dan mobil ini melaju di jalan raya.
Aku tetap diam sambil menundukkan kepalaku.
Tak ada tanda-tanda lelaki itu ingin membuka pembicaraan ataupula tanda-tanda dia mendekatiku.
Hening tanpa ada suara, hanya deru mesin yang berbunyi dan suara ban yang melaju di atas jalan raya.
Apakah pria ini tak ingin berbicara denganku?
Aku menunggunya untuk membuka pembicaraan.
15 menit kemudian terdengar suara baritonya.
"What is your name?"
Angelo's POV
Tangan gadis itu sedingin es, dia bergetar hebat saat aku menggenggam tangannya.
Sengaja kugenggam dengan erat tangannya tanpa melepaskannya karena aku takut dia akan kabur dariku.
Dia terus menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mataku.
Apakah dia takut denganku?
Apakah dia bisa berbahasa inggris?
Apakah dia akan menerima tawaranku?
Berbagai pertanyaan berkelebat di pikiranku.
Sebenarnya aku bisa berbahasa Indonesia karena aku memang menguasai 9 bahasa untuk keperluan bisnisku.
Tapi rasanya aneh saja menggunakan bahasa itu dengannya dalam keadaan seperti ini.
Biarkan aku mengetes apakah dia bisa hidup di luar sana bila bertemu dengan orang asing.
Sudah 15 menit kami berada dalam mobilku dan dia tetap diam.
Aku sengaja membuka pembicaraan.
"What is your name?"
Aku menanyakan namanya.
Dia nampak terkejut karena badannya bergidik dan dengan ragu dia mengangkat kepalanya.
Terlihat mukanya yang nampak takut menatapku.
"My name is Kiara"
Katanya dengan suara mencicit.
"How old you?"
"I'm 21 Years old"
Dia menjawab dengan suara bergetar.
"You have a sister?"
Dia nampak terkejut mendengar pertanyaanku.
Terlihat bibirnya yang bergetar yang ingin menjawabku dan matanya yang nampak berair.
Apakah dia menangis?
"Yes, I have. She is my twins."
Aku terkejut mendengarnya. Terjawab sudah teka teki yang selama ini kupikirkan.
Tbc
______________
#haloooooo
Setelah ini ceritanya akan terus di Private ya, makasih. hehehehe.
Sorry ya baru update, author baru balik dari ujian
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wind Blows
ChickLitWaktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan. Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri. Mulanya hidupku sangat bahagia. Mereka menyekolahkanku, Mereka memberikanku fasilitas yang memadai, Aku merasa di sayangi. Hingga...
