Waktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan.
Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri.
Mulanya hidupku sangat bahagia.
Mereka menyekolahkanku,
Mereka memberikanku fasilitas yang memadai,
Aku merasa di sayangi.
Hingga...
Kiara's POV Aku menatap Mevil yang sedang mendengarkan musik dengan memejamkan matanya sambil bersandar di kursi yang menempel pada dinding. Aku yang sedang tengkurap dengan sebuah bantal di bawahku menatapnya dari atas tempat tidur. Dia begitu serius mendengarkan musik dari headset putih miliknya. Sesekali dia akan menggelengkan kepalanya seakan menikmati musik yang mengalun dari headset miliknya. Entah mengapa senyum lebar menghiasi wajahku saat menatap wajahnya. Kilas balik peristiwa yang kulalui dengannya saat berada di pulau Jeju dari hari pertama hingga hari ini berputar dengan begitu indah. Aku menutup mulut dan wajahku dengan bantal untuk meredam suara tawa yang mungkin akan mengganggunya. Tiba-tiba Mevil menganggkat kepalanya dan melepas sebelah Headsetnya.
"Kenapa kau terus menatapku? Ketawa-ketawa aneh seperti itu pula, kau sedang mengejekku? Atau kau ingin ikut mendengarkan musik?"
Dia mengulurkan sebelah headsetnya yang tidak terpasang di telinganya dan seketika itu juga aku kembali menyembunyikan kepalaku di balik bantal, pasti sekarang wajahku terlihat merah. Bagaimana mungkin aku bisa tertangkap basah sedang menatap wajahnya sambil tertawa diam-diam seperti ini. Aku menggelengkan kepalaku, karena jika aku mengangguk maka dia akan pergi mendatangiku dan pasti aku akan semakin malu. Mungkin sekarang wajahku sudah seperti udang rebus. Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat dan kurasakan kasur yang bergoyang dengan pelan. Sepertinya Mevil sudah berjalan ke dekatku dan duduk di sampingku.
"Hai, ada apa denganmu malam ini? Apa yang sedang kau pikirkan?"
Terasa sebuah tangan besar yang memegang kepalaku dan mengelusnya dengan lembut. Aku mengangkat kepalaku dan menyengir singkat ke arahnya sambil memamerkan sederet gigi putihku. Terlihat dia yang sudah menanggalkan headsetnya dan datang ke hadapanku dengan wajah datarnya. Kemudian aku kembali menggeleng dan mengulum bibirku sambil membalikkan badanku dari posisi tengkurap menjadi posisi telentang. Astaga, apa yang sedang kulakukan? Mengapa aku bertindak seperti remaja bodoh yang baru saja jatuh cinta? Aku menatapnya dengan posisi telentang karena tengkurap membuat kepalaku sakit untuk menatapnya. Dan dari posisiku sekarang, terlihat wajah bingungnya yang nampak menarik nafas sebentar seakan sedang berpikir kemudian kepalanya kembali mendekatiku sambil terus menatap tepat kemanik mataku, aku yang sedang berada di posisi telentang tak bisa berbuat banyak. Mau berdiripun pasti nanti akan membuatku menubruk kepalanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kiara, ada apa denganmu? Kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"
Aku menutup mataku dengan cepat karena dia sekarang sudah berada begitu dekat denganku. Wajahnya mungkin hanya berjarak 5 cm dari wajahku. Tetapi dengan posisi yang menyamping. Kurasakan hembusan nafasnya yang pelan di wajahku disusul dengan tawa renyah yang mengisi kamar hotel yang mewah itu. Aku membuka kedua mataku karena bingung dengan tawa yang mengalun merdu dari mulutnya. Kemudian dia masih dalam posisi yang begitu dekat denganku, dia semakin mendekati telingaku dan berbicara begitu pelan seakan pembicaraan itu merupakan hal yang begitu penting.
"Jangan bilang kau ingin memohon kepadaku untuk menunda kepulangan kita? Jangan bilang kau tak ingin pulang besok dan malu-malu untuk mengatakannya kepadaku? Well, aku juga menikmati liburan kita di pulau Jeju ini, tapi pekerjaanku tak bisa menunggu kita lebih lama lagi. Jadi, apapun rayuanmu, aku tak akan menuruti keinginanmu."