Hari berlalu dengan sangat cepat tanpa ada kejadian yang berarti. Seperti biasa Merry bekerja pagi dan pulang dijemput oleh Luke.
Hingga suatu sore Luke mengajak Merry untuk jalan ke suatu mall terbesar yang ada di semarang untuk membeli sepatu baru dan beberapa pakaian kerja.
Dengan sukacita Merry memilihkan Luke beberapa model kemeja baik lengan panjang maupun lengan pendek dengan berbagai warna, motif dan model.
"Bagaimana pas kan?", tanya Merry dengan tidak sabar menunggu didepan kamar pas.
"Taraaaa....bagaimana?" Luke bergaya bak model didepan kaca sesaat setelah membuka pintu kamar pas.
"Hm...", Merry menilai penampilan Luke dari ujung kepala hingga ujung rambut. Karena terlalu semangat memilihkan Luke pakaian hingga Merry keterusan dengan sekalian memilihkan celana panjang dan sepatu, kini Luke memcoba memadukan semuanya dan hasilnya sungguh membuat lonjakan-lonjakan kekaguman dihati Merry. Luke benar-benar tampan, keren , dan wow.
" Bagaimana?" Tanya Luke ulang.
" Bagus sih...lumayan keren...sayang....", Merry berlagak sedang berpikir keras dan berusaha mati-matian menyembunyikan keterpesonaannya.
"Sayang?, sayang apa?", dengan ragu-ragu Luke kembali mengamati penampilannya dari pantulan kaca dihadapannya. Luke merasa tidak ada yang salah hingga matanya melihat perutnya kemudian mendesah sedih.
" Pasti gara-gara ini ya?" Tunjuk Luke kearah perutnya yang sudah tidak terlalu rata, Merry tertawa keras melihat ekspresi Luke yang terlihat merana.
"Ini gara-gara aku malas olah raga akhir-akhir ini.", Luke meringis dan malu-malu membuat Merry menjadi geli melihat wajah Luke.
" hahahahaha....nggak kok. Lagian aku suka kalau kamu buncit. Itu tandanya kamu makmur dan bahagia. Selain itu cewek-cewek yang suka lirik-lirik kamu bakal berkurang.", ucap Merry disela-sela tawanya.
Merry tidak kuasa menahan tawanya hingga matanya berair. Luke yang melihat kebahagiaan memancar dari wajah Merry seolah ada mata air yang memancar dari dalam memberi kesegaran yang memuaskan dahaga.
Hari berlalu dengan sangat cepat tanpa ada kejadian yang berarti. Seperti biasa Merry bekerja pagi dan pulang dijemput oleh Luke. Hingga suatu sabtu sore Luke mengajak Merry untuk jalan ke suatu mall terbesar yang ada di Semarang untuk membeli sepatu baru dan beberapa pakaian kerja.
Dengan sukacita Merry memilihkan Luke beberapa model kemeja baik lengan panjang maupun lengan pendek dengan berbagai warna, motif dan model.
"Bagaimana pas kan?", tanya Merry dengan tidak sabar menunggu didepan kamar pas.
"Taraaaa....bagaimana?" Luke bergaya bak model didepan kaca sesaat setelah membuka pintu kamar pas.
"Hm...", Merry menilai penampilan Luke dari ujung kepala hingga ujung rambut. Karena terlalu semangat memilihkan Luke pakaian hingga Merry keterusan dengan sekalian memilihkan celana panjang dan sepatu, kini Luke memcoba memadukan semuanya dan hasilnya sungguh membuat lonjakan-lonjakan kekaguman dihati Merry. Luke benar-benar tampan, keren , dan wow.
" Bagaimana?" Tanya Luke ulang.
" Bagus sih...lumayan keren...sayang....", Merry berlagak sedang berpikir keras dan berusaha mati-matian menyembunyikan keterpesonaannya.
"Sayang?, sayang apa?", dengan ragu-ragu Luke kembali mengamati penampilannya dari pantulan kaca dihadapannya. Luke merasa tidak ada yang salah hingga matanya melihat perutnya kemudian mendesah sedih.
" Pasti gara-gara ini ya?" Tunjuk Luke kearah perutnya yang sudah tidak terlalu rata, Merry tertawa keras melihat ekspresi Luke yang terlihat merana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved ( Completed | Selesai )
ChickLitDia tidak pernah tahu siapa ayahnya. Dia ditolak oleh ibunya sejak masih didalam kandungan. Dia tidak pernah merasakan pelukan dari orang yang dikasihinya. Kesuciannya direnggut paksa oleh orang yang dia anggap kekasih. kerja keras, dugem dan minum...
