Regret

6.7K 334 3
                                        

"Even if they wrong you seven times a day, but turns to you every time and says 'I am sorry,' you must forgive them."





Luke dan Merry akhirnya melanjutkan acara makan siang bersama yang sempat tertunda, pada mulanya Merry menundukan kepala dengan wajah memerah sepanjang memesan ulang makan siang mereka sebelumnya.

"Bener nih nggak apa-apa kita makan disini?" Luke tidak enak hati melihat Merry yang masih terus menunduk.

"um...nggak apa, aku hanya butuh waktu sebentar lagi setelah itu aku akan baik-baik saja." Merry berusaha tersenyum disela-sela wajahnya yang masih memerah malu.

"Kalau kamu tidak nyaman kita bisa makan ditempat lain kok, nggak perlu dipaksakan." Luke mengulurkan tangannya untuk menggenggam kedua tangan Merry yang bertautan diatas pangkuan.

Merry menggelengkan kepala, "Nggak apa-apa, lagi pula tempat ini paling dekat dengan tempat kerjamu dan apart kita. Lambat laun kita pasti kesini juga. Jadi lebih cepat lebih baik." Merry menghela nafas perlahan, "Lagipula aku tidak bersalah sehingga harus bersembunyi dan menghindari tempat ini." bibirnya tersenyum menenangkan.

Luke hanya bisa menghela nafas berat menyaksikan Merry yang berusaha tampil tegar dan kuat guna melawan semua rasa dipermalukan didepan umum.

"Maaf ya kamu harus mengalami kejadian seperti tadi dihari pertamamu di Macau." ucap Luke sedih.

Merry kembali menggelengkan kepa"Bukan salah kamu kok. Jadi nggak perlu minta maaf."

Luke tersenyum simpul merasa lega karena Merry yang kini dihadapannya adalah Merry yang telah menang atas segala rasa minder, rendah diri dan suara-suara intimidasi dari masa lalu.

"Tapi bukan berarti aku berikutnya akan diam saja kalau ketemu cewek siluman itu." Sambung Merry tiba-tiba dengan nada dingin.

"Eh..." Luke tergugu dengan perubahan Merry yang tiba-tiba.

"Kalau ketemu lagi akan aku balas semua perbuatan dia tadi." geram Merry dengan kedua kepalan tangannya yang beradu.

"Eh...lho...Merry ...cantik....jangan ya, nggak boleh gitu, nggak baik." Luke berusaha meredam sisi jahat Merry yang tiba-tiba muncul.

"Kenapa?! kamu takut?! atau kamu benar-benar ada apa-apa dengan siluman wanita itu?!" Merry menelisik Luke yang kebingungan didepannya kemudian menggelengkan kepala mendesah pasrah.

"Cantik....sejak kapan kamu berubah jadi gahar begini?" tanya Luke lembut.

"Kenapa? nyesel ya? sorry sudah terlanjur nikah nggak bisa di tukar tambah terlebih dibalikin." jawab Merry kedus sambil bersedekap didada.

Luke tertawa lepas begitu mendengar jawaban Merry, "Merry....cintaku...denger ya sayang, aku tidak akan menyesal, justru sebaliknya aku bangga sama kamu yang sekarang. Tapi negara ini negara hukum. Aku juga nggak terima dengan perlakuan Regina tadi, bukannya belain dia tapi aku berencana menempuh jalur hukum saja." Luke tersenyum lebar melihat Merry mengganga lebar.

"Kamu tidak perlu khawatir ataupun takut. Posisi kamu korban dan regina adalah tersangka penganiayaan. Aku sudah minta rekaman CCTV tadi ke manager restoran ini." Lanjut Luke sambil menyesap kopi yang baru saja disajikan oleh pelayan restoran.

"Kalau kamu balas kelakuan Regina dengan perlakuan yang sama, bisa-bisa kamu juga kena masalah hukum disini." Jelas Luke sambil mengucapkan terimakasih pada pelayan restoran yang menyajikan makanan pesanan keduanya.

"Jadi aku nggak bisa balas dendam yah?" tanya Merry lugu, sementara Luke malah tertawa terbahak-bahak.

"Sudah, kita makan dulu." Luke mengulurkan semangkuk sup untuk Merry, Sementara Merry hanya bisa bersungut-sungut.

Beloved ( Completed | Selesai )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang