25 | Pindah?

284 18 4
                                    

Carla POV

Aku terbangun dengan mata yang masih berat, dan lengket. Seperti ada yang mengganjal untuk membuka.

Aku mendudukkan diriku, kepalaku terasa pening, begitu berat. Seperti ada batu kerikil yang menumpuk di atas.

Aku melirik kaca rias yang ada di kamar. Oh lihatlah penampilanku yang buruk ini. Mata membesar karena menangis semalaman. Tidak tahan lagi rasanya.

Beruntunglah hari ini hari libur, setidaknya aku tidak perlu repot-repot memalsukan wajahku agar terlihat baik-baik saja seperti biasa. Eh, entahlah, apa biasanya aku memang 'baik-baik' saja.

Aku kembali merebahkan tubuh di kasur, menatap langit-langit kamar yang tersinari cahaya lampu yang semakin meredup karena waktunya tinggal sedikit.

Aku memiringkan tubuh ke samping, dengan memeluk guling. Masih dengan posisi tiduran, tanganku terulur ke nakas, mengambil ponsel.

Ada banyak pesan, tapi tidak ada satupun diantaranya dari Devian. Ah berharap apa kau itu, Carla. Memalukan.

Aku melihat banyak pesan dari Setya, sekitar 28-an. Sebuah spam, eh?

Setya: "Carla tolonglah dijawab, aku mau ngomong."

Jariku bergerak cepat menekan keyboard di layar sentuh itu.

Carla: "Apa?"

Tidak lama kemudian dijawab.

Setya: "Kamu nggak kenapa-kenapa kan?"

Carla: "Memangnya aku kenapa?"

Setya: "Aku gak liat kamu lagi setelah istirahat."

Carla: "Lalu apa masalahnya denganmu? Bukannya selama ini kamu biasa saja kalau nggak nemu aku?"

Setya: "Bukannya gitu, Carla."

Carla: "Aku baik-baik saja. Sampai jumpa besok."

Setya: "Carla.."

Hanya aku baca. Ya, dia sudah bersikap berlebihan padaku akhir-akhir ini. Entah apa penyebabnya, aku hanya menganggap dia tidak ingin Devian seenaknya menyakitiku. Itu karena Devian sudah semacam membuat Setya marah. Ya, setidaknya aku berpikir seperti itu.

Aku menghela nafas, aku pun memejamkan mata lagi. Ingin tidur kembali agar pening ini hilang, tapi tidak bisa.

Krieet

Derit pintu kamar terdengar cukup nyaring, aku dibuat berjengit akibatnya. Aku menatap si pelaku perbuatan itu dengan sengit, kak Alisha muncul di balik pintu. Ingin aku marah padanya—berhubung emosiku sedang tidak stabil—karena membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Hei, tiap orang punya privasi di kamar, kan?

"Carla, dipanggil Ayah. Disuruh kumpul." ujarnya. Sesaat kulihat ekspresi wajahnya terkejut saat melihatku, ah aku tahu apa akibatnya, pasti karena mata yang membengkak ini.

Aku segera mendudukkan tubuhku. "Ya, aku kesana sebentar lagi."

Mendengar jawabanku, kak Alisha pun pergi, kudengar derap langkah kakinya menuruni tangga.

'Ah payah. Bagaimana dengan mataku ini.' aku mengeluh habis-habisan dalam hati. Beberapa detik aku menenangkan diri, aku pun beranjak dan pergi ke ruang keluarga.

Sesampainya di sana, semua sudah berkumpul. Aku melihat seluruh tatapan keluargaku mengarah padaku. Ya ya aku tahu mataku ini sangat sesuatu.

"Sudah pada kumpul kan ya." Ayah menarik nafas. Lalu membetulkan kacamatanya. "Langsung ke intinya, jadi ayah, bunda, dan Carla akan pindah."

The Difference On UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang