Devian POV
Di sini aku berdiri sekarang. Di depan rumah minimalis berwarnakan dominan biru pink dan jingga. Aku terus menerus menekan bel rumah, tapi tidak ada yang membukakan pagar untukku.
Hari makin lama makin gelap dan angin malam mulai menerpa tubuhku yang tak seluruhnya tertutupi kain. Aku gemetar. Bulu kudukku berdiri. Hhh suasana seperti ini bikin aku takut. Memang ada beberapa lampu yang menerangi wilayah ini, tapi hanya aku sendiri yang berada disini. Begitu sepi. Sampai-sampai aku ragu memang hanya ada aku disini.
Kumohon jangan bilang tidak ada orang di rumah yang kini ku tatap. Aku sudah membela-belakan diri agar bisa keluar malam ini. Ya kalian kan tahu orangtuaku overprotective-nya keterlaluan. Jadi tadi sempat debat-debat masalah keluar. Meski pada akhirnya diizinkan dengan ancaman :
"KALAU MAMA SAMPE TAHU KAMU JALAN SAMA CEWEK, MOTOR MU MAMA JUAL!"
Aku nggak tahu apa maksudnya. Padahal dulu mama cuek aja kalau aku punya pacar atau nggak. Lah tapi sekarang, masa' aku diancem seperti itu.
Aku menekan bel sekali lagi. Lalu beberapa detik kemudian pintunya terbuka.
"Iya-iya, sabar aja kenapa."
Carla muncul dari balik pintu rumahnya. Dia mengenakan pakaian yang sederhana sekali, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Tetap cantik seperti biasa. Aku tidak begitu mengenal fashionnya para gadis jadi aku tidak bisa menyebutkan pakaian apa yang membaluti Carla. Aku tersenyum melihat dia. Sepertinya dia sudah kembali seperti biasa.
"Lha nggak ada yang bukain pintu, ya aku bel terus lah." omelku. Aku sudah menunggu, ya sekitar 5 menit lah. Tapi kalian tahu, menunggu semenit itu sama kayak se-jam. Maka dari itu, jangan membuat orang lain menunggu. Edisi bijak.
"Iya sori, pada sibuk semua." Carla mendatangiku. Aku merangkulnya lalu mencium ujung kepalanya. Bau shampoo-nya terasa banget. Kayak ada manis-manisnya gitu.
"Ih apaan sih." dia mencubit lenganku sambil tertawa. Ya Tuhan, aku benar-benar lega melihatnya. Sudah lama aku tidak melihatnya tertawa. "Yuk."
Aku menaiki si Phantom—CBR ku—diikuti dengan Carla. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku akan santai-santai saja sekarang. Tidak akan mengebut. Aku akan membuat Carla tenang pada malam ini. Aku akan membuatnya senang juga.
Yes babe, I'll ... um, maybe
***
"Aku sudah menebak kau akan membawaku kemari." ucap Carla, setelah kami berdua memasuki lobby mall Ciputra World Surabaya. Aku menatapnya.
"Apa kau kecewa?" tanyaku. "Apa kamu mengharapkan tempat yang lebih baik dari ini?"
Dia menggeleng.
"Apa kamu berharap aku akan membawamu ke pantai seperti di novel-novel remaja itu?" saat mengatakannya aku tertawa kecil. "Kamu tahu, pantai sangat jauh dari kota ini."
"Ih, aku nggak bilang gitu!" dia memukul lenganku berkali-kali, dengan wajah cemberut. Hingga aku mengaduh dengan keras dan membuat beberapa pengunjung lain melirik kami.
Aku mendeham, "Tenang saja. Kita nggak cuma senang-senang disini." lalu aku terkekeh. "Kita akan menyewa satu kamar di hotel bintang lima seberang sana, lalu kita akan—"
BUKK!
Belum menyelesaikan kalimatku, Carla memukul lenganku lagi, lebih sedikit keras dari yang tadi. Tenaganya udah balik sepertinya. Batinku. Aku mengusap-usap lenganku yang tadi dipukul sambil meringis. "Bercanda beb."
Dia melengos. Aku tertawa jahil.
Aku menggandeng tangannya dengan lembut. Kita berjalan-jalan mengelilingi mall yang sebegini besarnya. Sambil cuci mata gitu deh.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Difference On Us
RomantikPunya pacar famous itu enggak enak Hal tersebut sudah dialami oleh Carla Emallina Nathan. Dia berpacaran dengan Devian Pratama Garlanova semenjak SMP. Ketika mereka berdua menginjak bangku SMA, Carla mulai mengalami manis banyak pahitnya berpacaran...