Devian POV
Aku merasa, semuanya makin buruk.
I think I can't hold it anymore.
Sekarang di depanku, Carla menangis, hingga sesenggukan. Aku sudah mencoba menenangkan dia, tapi dia masih saja menangis. Entahlah, sepertinya aku tidak bisa memberikannya kekuatan.
Kami sedang berada di taman belakang sekolah, dekat lapangan, dekat pagar belakang. Di sini sepi, jadi aku yakin nggak akan ada yang memergoki kami di sini, berhubung juga sekarang sedang jam pelajaran kedua.
Mengapa Carla menangis? Kau mau salahkan aku?
Bukan, itu bukan salahku.
Dia bilang dia sudah berusaha untuk meminta maaf pada teman sekelasnya. Tapi, lihat apa yang dia dapat sekarang.
Dia diabaikan, bahkan dicaci maki, aku melihat seragamnya ini kotor dengan tinta hitam papan tulis yang hingga sekarang aku tidak tahu bagaimana bisa didapatnya. Wajahnya kotor, terkena penghapus papan tulis yang hitam.
Sebenarnya apa yang salah dengan otak teman-temannya itu? Sampai dia dibeginikan? Apa mereka sudah dicuci otaknya oleh Naomi?
Dan parahnya, akibat kejadian ini, Carla akan makin bergantung padaku. Dia akan manja padaku. Kapan dia dewasa? Ah tidak. Aku tidak tahu mana yang harus aku lakukan jika terus seperti ini.
Aku mengepalkan tanganku. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kukira mereka akan memaafkan Carla meski sebenarnya dia tidak salah.
Hei, dia tidak bersalah 'kan?
"Aku nggak mau sekolah lagi." ucap Carla dengan suara parau. Membuatku tersentak dari lamunan.
"Kamu ngomong apa?" tanyaku memastikan. Tentu saja aku tidak ingin apa yang baru dia ucapkan itu benar-benar ia lakukan.
"Aku nggak mau sekolah lagi."
Aku menelan ludahku. Sepertinya dia cukup depresi. Aku harus membawanya ke psikolog. Ah tidak, yang harus aku lakukan pertama kali.. Apa?
"Jangan gitu dong Carla ... kalau kamu nggak sekolah..."
"Apa? Nggak sukses?" Carla memotong omonganku. "Ada kok orang di sana yang nggak sekolah, tapi penghasilannya bisa berjuta-juta."
"Kamu mau jadi pengemis?"
"Astaga, bukan pengemis. Hina banget." Carla memukul lenganku dengan sangat pelan. Sepertinya tenaganya sudah minim sekali.
"Ya ya, aku tahu. Kalau yang kayak begitu sih, cuma 1:1000."
Carla terdiam. Kini hanya ada suara angin yang menggerakkan daun-daun. Daun-daun itu saling bergesekan hingga memunculkan suara gemerisik yang pelan.
"I can't handle it anymore, Dev."
"Semangat. Kamu bisa."
Kulihat gadis kecil ini menggeleng. "Aku berusaha percaya kata-katamu. Tapi buktinya apa? Nggak bisa."
"Jangan begitu."
"Tapi aku benar kan? Lihat apa yang terjadi dengan pacarmu ini."
"Ya, aku tahu. Tapi jangan lari dari masalahmu, Carla. Kalau kamu memutuskan untuk tidak sekolah, itu sama saja kan melarikan diri?" Tanpa merasa bersalah, aku menasihatinya. Karena aku yakin, apa yang aku ucapkan kali ini sangat berguna untuk mentalnya Carla.
Dan sangat benar.
Carla berdiri dari tempatnya duduk. Dia berdiri di depanku yang kini harus mendongak agar dapat melihat wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Difference On Us
RomancePunya pacar famous itu enggak enak Hal tersebut sudah dialami oleh Carla Emallina Nathan. Dia berpacaran dengan Devian Pratama Garlanova semenjak SMP. Ketika mereka berdua menginjak bangku SMA, Carla mulai mengalami manis banyak pahitnya berpacaran...
