7 | Dia Berbohong

360 98 5
                                    

Devian POV

Aku menatap punggung dua gadis yang tengah berjalan sedikit lebih dulu di depanku. 

"Carla?"

Aku melihat dia perlahan terjatuh. Kalau saja tidak ada Naomi disebelahnya, kepalanya mungkin sudah membentur lantai. Banyak mata yang menyorot kita. Tapi aku tidak peduli, hanya 1 yang aku pikirkan, Carla tidak apa-apa kan?

Aku segera menghampiri mereka dan menahan Carla. Tanpa banyak bicara, aku segera menggendongnya ala bridal style. Aku cukup kuat untuk seukuran Carla. Tanpa meminta Setya untuk membantuku, aku segera pergi meninggalkan mereka berdua menuju UKS yang letaknya lumayan jauh dari tempat ini.

Aku khawatir. Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? Kenapa dia bisa pingsan? Apa dia belum sarapan? Atau dia stress? Atau pusing? Apa dia punya tekanan?

Begitu sampai di UKS, aku segera meletakkannya di kasur dan memanggil guru yang bertugas menjaga UKS. Aku segera meminta beliau untuk mengecek Carla.

Aku berdiri tidak jauh dari kasurnya saat guru memeriksanya, dan sepertinya berusaha menyadarkan Carla dengan minyak kayu putih.

Setelah sekian lama kemudian Carla sadar. Dengan ceracauan yang pelan, seolah dia kesakitan. Guru itu kemudian memberikan Carla minyak kayu putih tetapi Carla tidak menggunakannya, dia masih terlihat lemas.

"Makasih ya, Bu." ujarku pada guru UKS itu dengan sangat berterimakasih. Beliau mengangguk. Lalu meninggalkan kami.

"Carla." aku beralih ke Carla. Aku menyiratkan wajah kekhawatiranku. Aku memang khawatir ada hal-hal aneh yang terjadi padanya. "Ada apa padamu? Kamu kan nggak pernah pingsan, tapi kenapa—"

Omonganku terhenti saat aku mendengar dia terisak pelan. Dia menutup matanya dengan lengan kanannya. Aku melihat bahunya bergetar. Apa dia menangis?

"Carla, kamu nggak apa?" suaraku tercekat. Apa dia punya masalah? Kenapa dia tidak cerita padaku jika ada masalah. "Kamu belum sarapan? Pusing? Atau ada apa? Jangan diam begini dong sayang." suaraku melembut. Berusaha membujuknya.

Tangan kirinya yang kosong meraih kemejaku. Dia menariknya dan meremasnya. Tangannya gemetar.

"Carla!" 

Aku menoleh ke pintu, terlihat sesosok Naomi datang dan langsung berhambur memeluk Carla.

"Kamu gak apa kan?" terdengar dari suaranya, Naomi khawatir.

Disusul dengan Setya yang datang. Dia menanyakan hal yang sama. Namun Carla tidak menjawab satu pun pertanyaan dari mereka. Dia tetap menutup matanya dengan lengan kananya.

Aku melihat dia dengan prihatin.

"Naomi, sebenarnya apa yang terjadi padanya?" aku bertanya frustasi. Cewek penuh dengan kode. Yang aku nggak pernah bisa pecahkan sendiri. Butuh seorang cewek juga untuk memecahkannya.

"Itu Dev .. Sebenarnya—"

"STOP!" omongan Naomi diputus dengan sentakan Carla. Aku melihat Naomi berubah ekspresinya. "Kamu gak punya hak untuk cerita ke Devian, Naomi."

"Memangnya kenapa?" tanyaku, heran. Apa yang ditutupi oleh Carla?

Carla berusaha untuk duduk.

"Aku nggak apa." tandasnya saat duduk, dia menatap Naomi sebentar.

Naomi salah tingkah. Dia diam saja sambil menunduk. Aura macam apa ini? Carla seperti bos-bosan saja kalau dia kayak gini. Terkesan jahat. Dan tatapannya seperti mengintimidasi. Aku jadi bergidik ngeri meski dia pacarku. Dia memang judesnya nggak ketulungan.

The Difference On UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang