24 | Everything Will Be Alright

757 33 0
                                        

HII HII Guyss Tiana come back lagi....

maaf yaa jadi lama update nyaa dan kali ini sepertinya ceritanya lebih pendek dari chapter sebelumnya...

~Happy Reading~

setelah Ian meminta maaf kemarin gue jadi gak tega buat ngedimain dia terlalu lama, dan sebenarnya gue juga masih bingung kenapa gue bisa semarah itu kemarin ke Ian padahal dari dulu kalo gue lagi sakit dan nginep dirumah Ian pasti gue tidur bareng dia, dan perasaan seperti kemarin tidak pernah muncul dikepala gue.

"Apa gue benar benar cinta sama Ian? Tapi kalau hal itu benar terjadi gue harus gimana? Gue gak tau apa yang harus gue lakukan, apa gue harus bilang ke dia kalau gue cinta sama dia? Masa cewek yang bilang gengsiii kalii"ucap gue sambil duduk diatas kasur

"Kalau Ian juga cinta sama gue gimana? Tapi...kalau engga gue bakal malu bingitzz. Gak gue gak mau ngungkapin perasaan gue duluan"ucap gue lagi lalu sambil memandang langit langit kamar

TOK TOK TOK

"Ana...Ana..keluar dong.." teriak Ian dari depan kamar, tuh orang emang panjang umur baru juga diomongin

gue bangun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar dan ternyata benar, orang yang sedang gue bicarakan muncul

CKLEKK

"Kenapa?" Tanya gue dengan muka malas

"Ihhh pagi pagi muka udah kaya gitu...senyum dikit kenapa lagi di apelin juga.." kata ian sambil menarik pipi gue sampai gue pun tersenyum lebar

"Lagian pagi pagi kaya gini udah teriak teriakan, ada apaan sihh?" Seru gue sambil memandang wajah Ian

"Kamu hari ini libur kan? Main yukk!! Sama temen temen yang lain, kan kita udah lama banget gak main bareng" kata Ian sambil tersenyum senang

"Ayooo! Tapi...kita mau main kemana?" Tanya gue

"Sejak kapan sih kamu kaku kaya gini? Minggir!" Tanya balik Ian lalu mendorong tubuh gue dari depan pintu agar dia dapat masuk ke kamar gue

"Woyyy sekoyy Kali...." ucap gue dengan muka sinis

"Dulu kamu yang selalu bilang kalau ngobrol di depan pintu itu pamali, tapii kamu malah kaya gini Sekarang" kata Ian sambil berjalan mendekati kasur gue lalu dia duduk dipinggir kasur gue

"Tapi..." ucap gue yang terpotong

"Kamu sekarang udah berubah Na" kata Ian tiba tiba sambil berjalan kembali mendekati gue dan kini tubuh gue hanya berjarak sejengkal dari tubuh Ian

"Aku kangen kamu yang dulu... yang selalu ada disamping aku, yang selalu ngasih tau aku kalau aku lagi salah, yang selalu sedia dengan senang hati memberikan pundaknya saat aku lagi terpuruk, yang selalu senang berada disamping aku walau aku bikin kamu malu, yang gak pernah lelah untuk menemani aku setiap hari, yang selalu tidur disamping aku kalau lagi sakit, yang bisa menggantikan sosok seorang bunda dalam hidup aku.." seru Ian sambil mengelus pipi gue dengan lembut

Dalam hitungan sepuluh detik gue masih belum bisa terbangun dari lamunan gue karena ucapan Ian barusan dan tiba tiba Ian menurunkan badannya sehingga kini wajahnya benar berada dihadapan gue, dia menaruh tangannya di puncak kepala gue.

Demi apapun dalam keadaan seperti ini gue malah serasa tidak berdaya, gue tidak dapat bicara sepatah kata pun.

"Aku mau kamu berubah seperti kamu yang dulu demi aku, apa kamu mau?" Tanya Ian yang masih dalam posisi terakhir

Gue hanya bungkam tidak dapat bicara, entah gimana muka gue saat ini, gue menjawab semua pernyataan Ian dengan anggukan

"Kamu janji yaa gak boleh berubah lagi" ucap Ian dan menunjukan jari kelingkingnya seperti anak kecil yang berjanji dan gue pun mengikat jari kelingking gue ke kelingkingnya.

Friendship Or LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang