Chapter 2 - Tidak Menyangka

239K 14.2K 453
                                        

"Abel, silahkan maju dan kerjakan soal yang Ibu tulis di papan tulis," ucap Bu Retno.

Sebenernya gue bingung sama semua murid di sini. Mereka bilang kalo ibu yang lagi ngajarin matematika ini galak.

Ya emang sih beliau suka marah-marah karena pada nggak ngerjain PR dan rame mulu.

Gue ngerjain soal di depan dengan pede. Gue emang suka sama matematika sejak dulu. Sombong dikit gapapa lah ya.

"Jawabannya benar. Abel mendapat poin plus dari saya. Silahkan duduk kembali."

Pas gue jalan ke kursi, semua pandangan menuju ke arah gue sambil geleng-geleng kepala. Mungkin mereka heran sama gue.

"Lo jenius banget Bel. Ajarin gue dong," bisik Laras.

"Abel, lo di cari sama Bu Retno di ruang guru," kata siswa yang gue rasa anak kelas sebelah setelah selesai kelas.

Baru beberapa hari di sekolah udah banyak orang yang tau gue. Aneh sih, tapi gue juga nggak ngerti kenapa.

Gue akhirnya pergi ke ruang guru sendirian. Kalian nggak usah takut, gue nggak bakalan nyasar karena kalo cuma ruang guru gue udah tau ada di mana, di seberang kelas gue.

Hahahaha. Oke nggak lucu.

Gue masuk ke ruang guru dan ternyata di meja depan sendiri udah ada Bu Retno yang menebarkan senyumannya ke gue.

Ah, si Ibu.

Gue melihat ada Devian dan satu temennya yang juga lagi ke ruang guru.

Ternyata setelah gue lewatin, mereka lagi di marahin sama guru. Anak nakal gitu ya, sekalinya dipanggil cuma dimarahin doang.

"Maaf, Ibu mencari saya?" tanya gue dengan sopan.

Bu Retno mengangguk. "Iya, Ibu mau bicara sama kamu. Silahkan duduk."

Murid yang berada di ruang guru langsung pada ngeliatin gue. Kayaknya mereka ngerasa kasian karena gue dipanggil guru killer di sekolah ini.

"Ibu tadi melihat kamu bisa mengerjakan soal dengan mudah dan jawabannya pun benar. Apa kamu ikut les atau semacamnya?"

Gue menggeleng. Jujur gue nggak suka ikut les. Gue lebih suka belajar sendiri di rumah.

"Tidak bu, saya memang suka belajar matematika."

"Baik, jadi saya mau menawarkan lomba OSN matematika. Nah, di sekolah ini akan di kirim dua orang untuk ikut lomba. Ibu sudah menemukan satu orang jadi saya butuh satu orang lagi dan saya ingin kamu yang ikut. Bagaimana?"

Wah kesempatan gue nih. "Iya bu saya mau ikut."

"Baiklah kalau begitu besok pulang sekolah bisa menemui Ibu di ruang multimedia ya. Kita mulai pelatihannya."

Setelah gue ngerti akhirnya gue pamit sama Bu Retno dan ngucapin terima kasih karena udah kasih gue kesempatan untuk ikut lomba.

Gue suka banget ikutan lomba karena itu bisa naikin prestasi gue di sekolah dan bisa banggain orang tua. Hehe.

"Hah? Lo ikut OSN Bel? Gila lo baru beberapa hari masuk udah ikutan lomba aja," teriak Laras heboh bikin temen-temen yang lain ikutan nimbrung.

"Beneran Bel kata Laras, lo ikut OSN?" tanya Susan.

Gue mengangguk. "Emang kenapa kalo gue ikut OSN?"

"Berarti lo luar biasa Bel," jawab Alicia, si ketua kelas. Cewek paling bijak di sini.

"Bel gue mau nanya deh, di sekolah lo yang lama emang lo juga suka ikutan lomba-lomba gitu?" tanya Susan.

"Iya, gue sering diikutin lomba sama guru gue."

Bad Boy vs Nerd GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang