Chapter 6 - Thanks

193K 11.5K 177
                                        

Senin.

Hari yang membosankan dan melelahkan.

Emang bener sih banyak yang bilang kalo hari Senin itu hari paling tidak disukai oleh seluruh siswa di dunia.

Schedule of monday : ceremony, math, history, sport, music

That is so cool right?

Gue aja yang ngejadwal semalem udah kayak orang yang nggak niat ke sekolah. Asal masuk aja semua buku terus tidur deh.

Walaupun ada matematika bukan berarti gue selalu semangat, tapi gue kan juga manusia yang punya rasa bosan.

Lagi pula siapa juga sih yang mau olah raga siang-siang?

"Bel, ayo buruan ke lapangan udah dipanggil tuh!" teriak Laras dari luar kelas. Gue langsung ngambil topi di tas dan berlari kecil ke arah Laras.

Selama upacara dimulai nggak ada henti-hentinya keringet netes semua sampe baju gue basah.

"Anak-anak, pengumuman untuk hari ini adalah kemarin baru saja sekolah kita mendapatkan juara satu OSN matematika."

"Bel, lo juara?" teriak Laras disusul oleh temen yang lain.

"Langsung saja kita panggil ke depan, Abel Ghisa dari mipa 1 dan Reno Putra dari mipa 2!"

Suara tepuk tangan yang meriah menyambut gue dan Reno yang ada di depan lapangan saat ini. Di antara bangga, tapi malu dan takut.

Baru kali ini gue juara dipanggil pas upacara gini. Kayaknya sekolah gue terlalu excited kalau gue sama Reno juara OSN.

"Selamat untuk kalian, Abel dan Reno," kata kepala sekolah.

"Iya Pak, terima kasih," kataku.

"Semoga kedepannya kalian bisa mendapatkan presatasi yang lebih banyak lagi."

Gue mengangguk dan menebarkan senyuman ke beliau. Gatau juga mau ngomong apa selain itu.

"Lo tau nggak Bel, dalam sejarah gue sekolah di Garuda. Baru kali ini pas upacara ada pengumuman juara akademik," ucap Laras.

Gue, Laras, Susan, dan Alicia lagi di kantin buat makan siang. "Emang biasanya juara apa?" tanya gue.

"Biasanya kalo nggak basket, dance, futsal, gitu-gitu doang sih," jelas Susan.

"Pantes yang masuk sini berandal semua," kataku lagi.

Ya emang bener kan?

"Tapi lo jangan salah, Bel karena juara yang non akademik itu sekolah kita jadi famous sama anak-anak populernya.

"Kayak Devian, Angel, Melissa, Selly, Rara, Brian, Calvin, Daniel, Edgar, Andrea, sama kapten futsal dan sepak bola kita namanya Dendi."

"Banyak banget! Itu semua tim basketnya Devian sama tim cheerleadernya Angel?"

"Iyalah. Lo kan udah pernah gue kasih tau," kata Laras.

"Hai Abel," sapa Viko yang tiba-tiba datengin meja gue dan yang lain.

"Hai," sapa gue balik.

"Selamat ya lo dapet juara nasional. Gue bangga sama lo." Viko mengulurkan tangannya ke arah gue memberikan selamat.

Pas gue mau balik salamin, tangan Viko malah ditepis sama Laras. "Enak aja lo main salam-salaman segala sama Abel yang ada Abel elfeel sama lo, Vik!"

"Dasar modusan," timpal Susan dan di setujui oleh Alicia.

"Yaelah galak amat sih. Bel, mending lo itu ganti temen deh. Lo pasti bakal tersiksa temenan sama mereka," kata Viko.

"Enak aja. Abel lah yang bakal tersiksa karena lo deketin bego! Udah sana lo pergi. Nih rasa baksonya jadi pahit tau gara-gara lo dateng," protes Laras dengan jutek.

Emang ya temen gue di sini gila semua.

"Bel, balik kapan? Lo udah nggak ada pelatihan lagi kan?" tanya Laras sambil beresin lokernya.

"Enggak lah masa pelatihan terus," jawab gue.

"Ehem!" Suara deheman dari arah belakang gue sama Laras membuat kita berdua balik badan.

Angel.

"Oh jadi lo juara OSN ya? Selamat ya atas kejuaraan-nya."

Kok perasaan gue jadi nggak enak.

"Oh iya gue punya hadiah buat lo. Bentar ya." Angel bebisik sama salah satu temennya buat ambil sesuatu.

Gue harus kabur nih.

Saat gue berusaha lari, dengan cepat langkah gue dihalangi oleh temen Angel yang bernama Selly. Mampus.

"Lo mau apa, Njel? Jangan sakitin Abel plis gue mohon," teriak Laras minta tolong.

Tapi setelah itu mulut Laras juga dibekap oleh temen Angel sambil memegangi Laras agar dia nggak bisa kabur.

Sesaat kemudian temen Angel yang dia suruh ngambil sesuatu tadi, balik dengan membawa botol yang entah apa itu isinya. Warnanya kecoklatan dan menjijikkan.

"Nah ini hadiah buat lo. Isi botol ini gue kasih spesial. Ada campuran telur busuk terus dikasih susu basi, roti basi, sama ada air bekas cucian yang udah di rendem tiga hari dan semua itu diblender jadi satu."

Pengen muntah rasanya.

Gue udah berusaha meronta, tapi tenaga gue nggak sekuat temen Angel.

Tuhan tolongin gue di saat seperti ini.

Tangan Angel udah mulai membuka tutup botolnya dan mau numpahin di atas kepala gue. Laras yang berusaha teriak 'jangan' juga nggak mempan sama sekali. Gue cuma bisa merem di tempat itu.

Dan ya! Semua cairan menjijikkan itu tumpah di atas kepala dan gue? Gue langsung nangis dengan mata dan mulut tertutup rapat sambil berhenti nafas selama beberapa detik karena baunya yang maha dahsyat.

Mau mati gue.

Sementara siswa yang pada lewat hanya menertawakan. Gue bau, sangat bau sampe pengen muntah rasanya cium badan sendiri.

"ANGEL!!" Suara berat laki-laki itu bikin gue membuka mata lagi.

"Dendi? kok lo ada di sini? Bukannya lo udah balik?" tanya Angel terkejut.

"Nggak penting. Lo apain dia?!" tanyanya dengan nada marah.

Dendi berjalan ke arah Angel sambil ngerebut botol dari tangannya. Dengan segera Angel langsung kabur sama antek-anteknya.

"Abel? Lo gapapa kan?" Laras langsung lari ke arah gue, tapi gue ngehindar dari dia.

Gue benci, gue pengen pergi. Nggak peduli sepanjang gue lari semua orang ngetawain gue.

Hari ini gue dendam banget sama Angel. Tapi gue bisa apa? Gue takut. Gue nggak akan bisa ngelawan mereka.

Ya Allah kenapa hidup gue harus sengsara begini.

___________________

Bad Boy vs Nerd GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang