Di sinilah gue duduk di bangku berdua dengan orang yang gue sebut si blok a.
Duduk dalam diam entah apa yang ada dipikiran gue dan Devian saat ini.
"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya gue yang masih menatap ke depan. Tepatnya menatap mobil gue dan Devian yang letaknya depan belakang.
"Gue gak sengaja liat lo di cafe tadi."
"Terus lo masuk?"
Devian mendesah. "Iya gue masuk."
Gue langsung nengok ke arah Devian. "Lo masuk?! lo denger semua pembicaraan gue?"
Devian balik menatap gue. "Gue denger semua pembicaraan kalian."
Gue langsung memukul bangku kayu yang lagi gue dudukin ini. "Agh! Kenapa harus elo sih?"
Udah cukup untuk hari ini menangis. Gue udah gak ada stok air mata lagi.
"Gue tau gue gak seharusnya ngelakuin ini tapi gue-"
"Lo apa? lo kepo? lo pengen tau semua urusan orang. Ya itu lo!"
Devian memegang pundak gue. "Gue gak tega liat lo nangis, Bel!"
Kalimat yang keluar dari mulut Devian sukses bikin gue tegang.
"Oke gue emang lancang sama lo, gue emang selalu bikin lo sebel, tapi gue gak bermaksud buat ikut campur urusan lo!"
Gue berdiri dan berlari masuk ke dalem mobil. Mending gue pulang dari pada duduk berdua sama cowok ini.
"Bel! Lo mau ke mana? Bel?!"
Gue langsung tancap gas dengan kecepatan maksimal. Masih gue liat dari arah spion kalo Devian ngejar gue di belakang.
Mungkin saatnya gue mainin mobil gue like fast farious movie. Jurus drifting gue bakal keluar sekarang.
Sampe di jalan raya besar gue gak liat Devian lagi dibelakang. Kayaknya dia udah ketinggalan jauh karena truk besar tadi.
Gue langsung balik ke rumah dan merebahkan diri di kasur. Tak lama kemudian gue dapet pesan dari mama Devian.
Abel? Devian lagi sama kamu ya? Kok jam segini belum pulang?
Gak tau kenapa tiba-tiba jantung gue berdetak cepat. Devian belum pulang? Terus ke mana dia?
Maaf tante, tadi Devian sempet ketemu aku tapi sekarang kita udah gak bareng lagi. Mungkin masih di jalan tante.
Dan entah kenapa gue pengen mencoba nelfon Devian. Tapi nihil, gak ada jawaban dari dia.
Tapi kenapa perasaan gue jadi gak enak begini ya?
06:00 a.m
Drrrt drrrt drrrt drrrt
Dengan malas gue angkat telfon yang entah dari siapa itu. "Halo?"
Mata gue langsung melek saat denger suara tangisan di sana. "Ini.. ini siapa?"
"Abel sayang, ini Tante Arini. Devian..."
Gue bangun dari tempat tidur dan menyesuaikan situasi. "Devian kenapa tante?"
"Devian, Devian kecelakaan."
Gue langsung lemes seketika. Rasanya kayak ada jarum yang nusuk punggung gue.
Tiba-tiba bulir-bulir air mata menetes, untuk pertama kalinya gue nangisin Devian. Gue nangis karena Devian.
Dengan segera gue ganti baju dan nemuin papa mama yang ternyata udah siap di bawah. "Pa ma, Devian.." gue langsung peluk mama gue yang lagi nangis juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Teen Fiction[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
