Hanya dengan balutan dress pendek selutut warna biru kesukaan gue. Rambut digerai dan jedai yang selalu gue bawa ke mana-mana. Percayalah jedai itu sangat penting buat gue.
Tak lupa gue pamit sama mama yang selalu introgasi gue sebelum pergi. Entah sama siapa, ketemu siapa, pulang jam berapa dan gak jarang juga mama selalu telfon atau nge chat gue suruh pap keadaan di sana.
Oke, ini emang alay tapi mama gue emang begitu.
Sampe di cafe, di sana gue dipandu oleh karyawan untuk duduk di kursi yang ternyata udah dibooking sebelumnya.
Sok romantis.
Laki-laki yang perawakannya besar dan yang selalu gue puja dulu, rambut yang selalu berkesan berantakan tapi gue suka.
Dia Jai, udah duduk manis nunggu gue di sana. Di tempat itu, tepat dekat jendela cafe, di sana semua kenangan kita di mulai.
Kenangan lama yang sangat pahit. Awalnya aja manis tapi di dalamnya ada sesuatu yang merubah yang manis itu jadi sepahit kopi hitam pekat.
"Hei? lo.. udah dateng ya? sorry lama tadi macet," jawab gue sambil duduk di depannya.
"Ghisa? Gue kira lo gak bakal dateng."
Gue tersenyum kikuk. Plis buruan ngomong apa aja. Gue pengen pergi dari sini.
"Persis seperti dulu, Ghis." Jai menatap mata gue. Tatapan itu adalah tatapan yang paling gue benci.
Gue menyebutnya tatapan membunuh.
"Iya gak ada yang berubah," timpal gue dengan membuang semua pikiran negatif gue. "Jadi, ada apa lo ngajakin gue ke sini?"
Jai berdeham dan gue menunggu dia bicara. "Pertama gue, gue mau bilang kalo gue kangen sama lo, Ghisa."
Gue langsung membuang muka. Bah!
"Ghis, gue beneran masih-"
"Gue gak butuh semua masa lalu itu Jai. Apa masih kurang lo udah bikin gue sengsara?"
"Gue bener-bener gak bermaksud Ghis, lo tau gue dibutakan oleh segalanya. Gue salah dan gue tau itu. Gue minta maaf."
"Lo bisa ngomong kayak gitu, oke gue maafin Jai, tapi semua kata-kata lo gak akan merubah pikiran gue."
"Gue tau lo udah punya pacar, tapi apa gue gak bisa masuk ke kehidupan lo... lagi?"
Gue menatap jendela yang mulai mengembun karena hujan sore ini yang tak kunjung berhenti. Sama kayak hati gue yang terus mengalami kebimbangan yang tak kunjung berhenti pula.
"Pacar?" tanya gue. Sejenak gue langsung inget kejadian saat gue di toko antik. "Maksud lo Brian?" gue tersenyum kikuk. "Dia udah gue anggep sebagai kakak gue."
Jai sedikit tersentak mendengarnya. "Kakak lo? Kenapa bisa?"
Gue balik menatap jai, masih dengan tatapan benci. "Kenapa lo peduli? Itu bukan urusan lo! sekarang ini kita adalah dua insan yang gak ada ikatan apa-apa. Lo adalah orang lain bagi gue Jai!"
Jai memegang tangan gue namun dengan segera gue tepis. "Sekali lagi lo coba mengang gue, gue gak akan segan-segan teriak ke orang-orang," ancem gue.
Jai mengacak rambutnya frustasi. "Terus gue harus apa Ghis?? Gue harus apa biar lo bisa kayak dulu lagi?"
"Lo nanya ke gue? lo harusnya udah tau jawabannya Jai. Cukup lo tinggalin gue dan jalanin kehidupan kita masing-masing. Itu bisa bantu gue banget buat balik seperti Ghisa yang dulu."
"Gue tau lo terpuruk banget dan sekarang lo jadi di bully sama semua orang karena masa lalu lo, gue gak mau lo kayak gini!"
Itu susah Jai, gak segampang lo bilang dengan semua kata-kata lo bisa buat gue jadi Ghisa yang berani kayak dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Teen Fiction[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
