"Heh lo! Sini!"
Dengan kaki gemeteran, gue melangkah ke arah gerombolan yang udah menatap sinis ke gue.
Tuhan tolongin hamba!
"Lo bisa ngelempar bola yang bener kan?" tanya Devian sambil megangin kepalanya yang kena bola.
Menunduk, cuma itu yang bisa gue lakuin.
"Lo punya mulut kan?" katanya lagi.
"Gue minta maaf, gue enggak sengaja tadi."
"Eh bentar Dev, kok gue kayak nggak pernah liat nih cewek ya?" kata salah satu temennya.
Ya iyalah belum, orang gue baru di sini.
"Oh ini kayaknya murid baru itu ya? Anak IPA 1," kata temennya yang lain.
Gue mengangguk mengiyakan. Takut gabisa pulang dengan selamat.
"Dev, dia kan masih murid baru, kita harus jaga image sama dia. Lo mau dikatain kayak si Angel tuh? Si nenek sihir hahaha!"
Seketika semua orang di situ pada ketawa semua. Ya semua, kecuali gue tentunya dan Devian gue rasa. Dia sok stay cool gitu.
"Oiya lo kenal dia?" tanya salah satu cowok itu sambil nunjuk ke arah Devian.
"Iya gu-gue kenal."
"Nah lho dia ketakutan sama Devian hahaha."
Akhirnya Devian pergi entah kemana. Gue pun berusaha kabur juga tapi dicegah sama temennya Devian tadi.
"Eh lo mau ke mana? Kita kan belum kenalan. Nama gue Brian, ini Calvin, Daniel, Edgar, terus itu Andrea. Nama lo siapa?"
"Gue Abel."
"Oh Abel, lo mau balik?" tanya yang namanya Brian.
"Iya kalo gitu gue duluan."
Gue langsung kekicir lari ke arah parkiran. Di sana udah ada Papa yang nungguin gue.
Papa memang terbaik.
---
"Gimana tadi sekolahnya? Lancar kan?" tanya Mama.
Saat ini gue lagi makan malem sama Mama Papa seperti biasa.
"Lancar-lancar aja, temennya baik-baik kok."
Baik loh -ik.
"Baguslah, Papa sama Mama jadi lega kalo kamu suka sama sekolahnya. "
Gue cuma bisa ngasih senyuman setulus mungkin. Tulus kok, tulus.
Tipe gue no 1: Demi Mama Papa gue rela bohong karena gue nggak suka liat mereka sedih, apalagi gara-gara gue.
"Abel ke kamar ya, good night Ma Pa!"
Keesokan paginya gue udah bersiap-siap buat berangkat sekolah.
Day 2, be a nice day.
Tapi pas gue turun tangga ke arah meja makan, Papa gue udah mau berangkat kerja aja. "Loh Pa, Abel gak sama Papa berangkatnya?"
"Abel hari ini ke sekolah bawa mobil ya? Papa sekarang harus berangkat pagi. Gapapa kan?"
Serius naik mobil?
"Em iya deh, Pa."
Sampe di sekolah, gue memarkir mobil sambil nyambar tas punggung yang ada di samping gue.
Pas gue turun dari mobil, orang-orang di sana seperti biasa langsung ngelirik-lirik gue sambil berbisik-bisik. Bahkan mungkin sekarang lebih intens dari pada kemarin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Novela Juvenil[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
