Gue langsung narik tangan Brian dan lari sekuat tenaga. "Bel lo kenapa.. eh.." Brian yang kaget karena gue tarik juga nurut aja sama gue.
Gue bener-bener gak nyangka bakal ketemu dia di sini. Di pantai pula.
"Bentar deh bentar," Brian merunduk sambil mengatur nafasnya begitu juga gue yang udah keringetan. "Lo kenapa sih, Bel?"
"Emm enggak gue cuma-"
"Lo tau kan ini pantai dan kita lari di atas pasir. Gila capek banget gue."
Gue merasa bersalah banget sama Brian. "Sorry banget Bri, gue gak tau kalo bakal kayak gini jadinya."
Brian sudah mulai bisa mengatur nafasnya. "Lo kenapa sih? kebelet?" tanya Brian.
Gue langsung memukul lengannya. "Gila lo, ya enggaklah."
"Terus?"
Gue gak bisa jawab sekarang dan mungkin gue gak bakal ceritain ke siapa-siapa.
"Tadi ada copet."
"Hahh?!" tanya Brian shock, "serius lo? terus kenapa malah lari sih? Gue juga bisa kali ngelawan dia," jawab Brian kesal merasa diremehkan.
Poor Brian!
"Yaudahlah Bri," jawab gue asal. "Yuk kita pulang aja."
Brian menangkup wajahnya. "Yaelah kita baru aja sampe terus lo ajak gue lari dan sekarang pulang?"
Gue meringis dan mengangguk. Sorry Brian sebenernya gue juga gak mau tapi, kalo gue ke sana lagi bakalan besar kemungkinan ketemu sama Jai.
"Yaudahlah, lo emang bener-bener mirip adek gue Bel," jawab Brian sambil ngerangkul gue dan berjalan balik ke hotel.
Author POV
Di tempat yang berbeda Jai sedang berjalan menyusuri pantai lombok yang semakin malam udaranya semakin sepoi-sepoi. Bulu kuduknya mulai merinding karena tersapu angin pantai.
Jai sedang memikirkan tentang kenangannya selama ini di pantai. Kenangan yang sudah hampir sepuluh tahun hilang dari memorinya.
Entah kenapa dia memilih pantai lagi menjadi tempat liburannya. Menjadi tempat di mana ia bisa merasakan semua kenangan itu bersama teman masa kecilnya. Abel Ghisa.
Penyesalan memang selalu berada di akhir. Karena itu, semua menjadi berubah 180 derajat. Semua hampir tidak tersisa.
"Jai, kamu nakal banget sih." Ghisa kecil sedang bermain pasir di pantai membuat sebuah istana pasir kecil yang indah.
"Biarin wekk, habis ghisa gak mau main sama jai." Jai kecil merusak istana pasir milik Ghisa dengan sebuah ranting kecil yang didapatnya di dekat pohon.
"Ihh, kan Ghisa itu gak suka mainan cowok. Ghisa kan gak suka main bola!" Ghisa terlihat kesal.
"Sepak bola itu bukan cuma buat cowok tauk, buktinya cewek juga ada kok yang main bola!" Jai juga tak kalah emosi dengan Ghisa, tak terima dengan pernyataan jika main bola itu hanya untuk cowok.
"Eh Jai, gak boleh gitu sama Ghisa. Dia kan gak mau main bola, jangan dipaksa. Sana main sendiri." Mama Jai menghampiri Ghisa dan Jai yang sedang bertengkar.
Namun, pertengkaran itu pasti akan membaik setelah mereka berdua lupa jika ternyata sedang marahan.
Dan itu dulu, ya itu dulu.
Abel POV
Gue di sini, di balkon hotel sedang menatap bintang dan bulan yang ada di langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Fiksi Remaja[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
