Gue sama Dendi akhirnya cuma tatap-tatapan.
"Lupain aja Bel, gue tadi gak bermaksud buat.." Dendi menggaruk tengkuknya.
"Yaelah gapapa kok, mungkin lo nya aja yang salah ngomong kali."
Padahal sih gue canggung banget asli.
"Den, gue kayaknya mau balik ke hotel dulu deh."
"Yaudah gue anter aja?"
"Gausah gausah, gue sendiri aja gapapa."
Dendi mengangguk dan gue pun balik ke hotel. Sampe di hotel gue langsung masuk kamar Devian yang masih terbuka lebar.
"Ngapain lo?" tanya gue saat ngeliat Devian lagi berusaha ngambil sesuatu.
"Kemana aja lo?" tanyanya
Idih udah bagus gue mampir ke sini mana pake nyolot segala lagi.
"Suka-suka gue lah, peduli amat sih?"
Gue masih ngeliat Devian yang ternyata kesusahan ngambil remot tv yang jatuh ke bawah kasur. "Lo belum sembuh juga pake ngrepotin orang segala."
Gue jalan ke arah Devian sambil ngambil remotnya. "Nih!"
Devian menatap gue. "Biasa aja kali gausah gitu juga ngeliatinnya," ucap gue.
"Lo habis ke mana? Gue lo terlantarkan di sini?"
Gue mengernyit. "Lah emang gue siapa lo? Harus banget gue ngurusin lo?"
"Mama gue yang bilang."
Anjir Tante Arini pasti cerita ke Devian!
Gue cuma diem aja sambil ngeliat tv yang isinya berita. "Lo ngapain diem deh? gitu doang ngambek."
"Siapa yang ngambek coba?"
"Ambilin makan Bel, gue laper."
Dengan perasaan meredam emosi akhirnya gue bikinin Devian sup hangat.
Ini semua gara-gara gue sih sok-sokan mau ngerawat Devian segala.
"Tuh makan supnya jangan lupa minum obat."
Gue keluar dari kamar Devian, tapi dicegah sama dia. "Mau ke mana Bel?"
Gue berbalik. "Ya ke kamar lah."
"Di sini aja nemenin gue."
"Ngapain banget deh gue di sini? Mending gue tidur di kamar."
"Plis Bel."
"Gak!"
"Pliss!!"
"Gak !!"
"Gue bilangin mama tau rasa lo."
"Bodo!"
Devian mengambil ponselnya dan menekan tombol entah apaan. "Halo ma?"
Gue langsung lari ke Devian dan ngambil hapenya. "Halo tante, iya ini Abel, enggak kok tante Devian sama Abel sekarang, iya iya tante tenang aja. Udah dulu ya tan."
Gue langsung menutup telfonnya dan ngeliat tatapan menyebalkan dari Devian.
"Lo tu cewek apa cowok sih sukanya ngadu! Dasar anak mama."
"Gue kan emang anak mama, jadi kalo lo bukan anak mama, anak siapa? Anak sapi?"
Gue meremas tangan gue tanda gemas sama bualan Devian. "Lo itu emang cowok paling ekstrim tau gak!"
Gue beralih duduk di sofa. Gak henti-hentinya gue mendengus kesal karena Devian.
"Bel, gue nanya serius ini lo habis dari mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Ficção Adolescente[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
