Chapter 33 - Renungan Ghisa

123K 7.8K 163
                                        

Disinilah gue duduk di atas pasir putih yang membentang ke seluruh pantai. Sengaja gue balik ke sini, ke pantai ini lagi.

Entah apa yang ada dipikiran gue tiba-tiba gue pengen balik ke sini. Toh, gue juga gak guna kalo gue balik ke sekolah. Kalo gue balik yang ada justru ejekan, bullyan, dan sebagainya.

Gue jadi inget kalo hari ini adalah hari pemilihan ketos di sekolah gue dan gue janji sama Calvin kalo dia menang, gue bakal jadi sekretarisnya.

Gue belum bisa sepenuhnya berubah sekarang. Gue masih harus belajar banyak untuk jadi Abel yang kuat, bukan Abel yang lemah dan gak bisa diandalkan.

Devian.

Gimana kabarnya dia sekarang? Apa dia sadar kalo gue gak ada di Jakarta, gak ada di kota yang sama, pulau yang sama.

Kalo lo masih deketin Devian, mungkin orang tua lo yang bakal jadi ancaman Angel, Bel.

Suara hati gue lagi-lagi dateng, sesampainya di sini suara hati itu tiba-tiba muncul gitu aja.

Ada ya orang sejahat Angel? Dia bisa ngelakuin apa aja yang dia mau. Seolah-olah dia adalah dalang dari segala kehidupan. Dia yang seolah bisa merubah takdir seseorang, contohnya adalah gue sendiri. Gue yang ditakdirin Angel buat jadi Abel yang lemah, korban bullying, ejekan semua siswa.

Gue sering berfikir, apa salah gue sampe dia bisa sangat membenci gue seakan kebencian itu melekat dalam dagingnya.

Semua rencana untuk berani melawan Angel itu pupus sudah. Semua hancur bak istana pasir yang terkena hempasan ombak dalam waktu sepersekian detik. Sekejap saja Angel bisa ngelakuin hal yang gak akan gue duga seumur hidup gue.

Tepat sudah dua hari gue menghilang dari kehidupan gue sebelumnya. Sebenernya gue sungguh gak tega sama mama papa gue yang gue pastiin sekarang nyari gue ke mana-mana. Ada rasa marah, kesal itu pasti. Gue tau itu.

Gue keluar dari lobi hotel, hotel yang sama di mana gue liburan semeseter. Gue berniat untuk jalan-jalan ke toko pernak-pernik yang pernah gue datengin sama Brian. Masih ada toko unik yang waktu itu jual miniatur kapal yang entah siapa sekarang pemiliknya.

"Mari mbak, silahkan dipilih. Bisa pesan ukiran juga." Penjual itu nawarin gue dengan logat lombok.

Gue cuma tersenyum dan berjalan lagi menyusuri kios-kios. Tak lama gue menemukan sebuah kalung yang tertimpa pasir pantai. Gue ambil kalung itu dan betapa kagetnya kalung itu adalah milik Devian. Kalung yang setiap saat dia pake kemana-mana.

Berarti apa mungkin waktu gue sama Brian ke sini, Devian ngikutin?

Flashback on

Autho's POV

Devian ikut berjalan keluar mengikuti Abel dan Brian pergi. Dia selalu mengikuti ke mana Abel pergi, entah itu Abel tau atau tidak. Devian melihat Abel dan Brian sedang bercengkrama di sebuah kios unik di sana.

Devian terkejut saat Abel langsung menarik tangan Brian dan berlari secara tiba-tiba. "Bel lo kenapa.. Eh.." Brian yang kaget karena Abel juga ikut berlari.

Devian juga ikut berlari karena mereka berdua ke arah tempat di mana devian bersembunyi. Tak terasa pula kalung kesayangannya pun terjatuh di sana.

Flashback off

Abel's POV

Gue menyimpan kalung itu di saku dan balik ke hotel.

Pagi hari yang indah ini gue manfaatin untuk sekedar naik kapal. Berkeliling pantai di sini sambil melihat pemandangan.

Bad Boy vs Nerd GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang