Gue dan Devian lagi dalam perjalanan menuju tempat perayaan ultah Om Adi alias papanya Devian.
Planning gue masih berlaku sampe saat ini. Gue belum ngomong sama sekali sama orang yang di sebelah gue ini.
Tapi rasa-rasanya ini mobil jadi hening banget.
"Tumben."
Tiba-tiba terdengar suara percakapan pertama dari Devian. Gue tetap kekeuh dengan planning gue yang udah fix gak bisa diganggu gugat.
"Lo kenapa? Sariawan?" tanya Devian lagi.
Tapi gue tetep terus mantengin jalanan yang lumayan rame karena masih jam lima sore.
Kita sampe di sebuah resto yang cukup ternama di jakarta. Di sana udah ada mobil Om Adi yang terparkir rapi di halaman resto.
Gue dan Devian turun dan menghampiri keluarganya. "Halo Abel, kamu cantik banget malam ini," puji Tante Arini sambil gendong Sera yang tambah imut.
"Makasih tante, oiya selamat ulang tahun Om Adi. Maaf Abel gak bisa beli kado hehe."
"Terima kasih Abel, gapapa kok. Ada kamu di sini saja om udah seneng," ucap Om Adi menyambut.
Devian tiba-tiba bisikin gue. "Jadi lo mogok ngomong sama gue? Oke."
Gue menatap Devian kesel, pengennya gue teriak sama dia tapi gak mungkin gue lakuin itu di sini.
"Ayo duduk dulu, makanannya baru dipesenin," ucap Tante Arini.
Sesaat setelah itu ada cewek yang gak asing bagi gue, dateng ke acara kecil ini.
"Halo om tante, hai Devian," sapanya sok ramah.
"Loh Angel? Kamu di sini juga?" tanya Om Adi.
"Iya lah om, kan Angel hafal sama tanggal ulang tahunnya Om Adi. Oiya selamat ulang tahun ya om," Angel ngasih kado ke Om Adi dan gue yakin itu adalah kado yang mahal.
"Wah makasih, malah ngrepotin kamu ini."
"Ah enggak kok om, Angel boleh ikut gabung gak?"
Gue liat tampang Tante Arini yang gak begitu suka sama kehadiran Angel. Tapi Om Adi langsung nyuruh Angel buat duduk dan gabung sama kita semua.
"Lo berangkat bareng dia Dev?" tanya Angel pada Devian yang duduk di sebelahnya.
Devian hanya diam saja, mungkin dia juga mau mogok ngomong sama Angel.
"Ehm Bel, ikut gue bentar yuk?" ajak Angel.
Deg! Ada perasaan getaran hebat di jantung gue setelah denger Angel ngomong begitu.
"Ke mana?"
Angel tersenyum devil. "Udah ikut aja dulu, misi ya om tante."
Akhirnya dengan sangat terpaksa gue ngikutin Angel dan perasaan gue makin gak enak karena dia ngajakin ke kamar mandi.
Angel langsung dorong gue ke tembok. "Heh lo ngapain sih ada di sini?! Lo ngerti gak aturan main kita? Lo bilang lo mau jauhin Devian?!"
Gue tetep diem.
"Lo ngerti gak sih gue ngomong apaan?!" Angel mencoba buat nampar gue tapi seseorang mencegahnya.
"Persetan sama lo Ngel! *Plak" Devian langsung nampar Angel dan membuatnya ingin menangis.
"Lo... lo... nampar gue Dev? lo nampar gue?!!" Angel langsung menangis di situ.
"Karena lo pantes dapetin itu!."
Devian narik gue dan balik ke tempat duduk tadi sedangkan Angel, entah dia sekarang ke mana.
Ini adalah kesalahan terbesar gue. Entah besok di sekolah gue bakal jadi apaan. Mungkin sama remukan gorengan lebih parah lagi.
Gue duduk di kursi tadi dan begitu juga Devian. "Mana Angel?" tanya Om Adi.
"Pergi pa," jawab Devian santai.
"Loh kenapa?"
"Udahlah pa, paling dia ada acara dadakan. Biarin aja dia pergi," jawab Tante Arini. "Abel kok baju belakang kamu basah?"
"Iya tante, ini tadi pas ke kamar mandi itu-"
"Oh di kamar mandi? Mungkin dindingnya basah ya?" gue langsung mengangguk mengiyakan. Dari pada diintrogasi terus-terusan.
Selesai makan malam dan merayakan ultah Om Adi, gue langsung dianter pulang sama si blok a. Masih tetep gak berguming sama sekali.
"Lo kenapa sih? Katanya lo udah buktiin kalo lo gak lemah. Tapi apa?"
Devian memecah keheningan lagi di mobil.
"Lo tau gak, gue gak suka sama cewek lemah."
Terus apa hubungannya sih? Ugh!
Devian mengerem mobilnya mendadak. "Gue itu ngomong sama lo bukan sama patung!"
Gue tetep diem sambil menatap jendela mobil.
Tangan devian megang dagu gue dan mengarahkan ke muka Devian. "Lo kenapa sih?" tanyanya lagi. "Oiya, lo itu mogok ngomong ya sama gue? Oke fine. Gue respect itu."
Devian langsung mengegas mobilnya lagi dengan kecepatan di atas rata-rata. Gue udah mulai gemetaran sendiri di sini. Rasanya pengen-
"DEV ADA KUCING DI DEPAN!!!"
Suara decitan rem mobil langsung terdengar seisi jalan. Devian langsung menepi dan tertawa terbahak-bahak.
"Lo mau kita mati apa? Itu bahaya banget tau! dan bego-nya lagi lo malah ketawa," ucap gue emosi setengah mati.
"Lo cupu!"
"What? Apa hubungannya plis! Lo kalo ngomong dipikir dulu gak sih? dengan lo kayak gini kalo misal ada mobil di belakang yang gak tau kalo lo bakal rem mendadak dan akhirnya tabrakan beruntun? lo mau tanggung jawab, hah?!"
Devian hanya mengedikkan bahunya lalu melajukan mobilnya lagi.
Sampe rumah, tanpa meminta maaf dia langsung nyuruh gue buat turun dari mobil.
Gue bersumpah, gue belum pernah nemuin cowok senyebelin dia. Kayaknya Devian memang cowok yang sangat sangat gue benci di dunia ini.
Sampe kamar tiba-tiba ada pesan masuk yang gak gue sadari udah sejak lima jam yang lalu dan artinya pas gue masih sekolah.
From: Jai
Ghisa, gue bener-bener pengen ketemuan sama lo. Plis kali ini aja gue pengen ketemu sama lo. Setelah itu terserah lo mau jauhin gue atau benci gue seumur hidup lo. Tapi gue pengen ketemu sama lo. Gue gak akan ganggu lo lagi.
Jawab message ini kalo lo mau, gue bakal atur jadwal sama tempatnya.
Yang bikin gue tergiur adalah di saat dia gak bakal ganggu gue lagi dan itu yang bikin gue seneng.
Oke gue mau.
Tak lama kemudian muncul lah balasan dari dia.
The beatles cafe, jam 4 sore.
Tempat itu, cafe itu dan jam itu adalah semua kenangan yang tiba-tiba terulang kembali.
__________
Keep vote and comment oke?
See you next part!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Teen Fiction[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
