"Lo dari mana aja sih? Ngilang seminggu!" Devian membentak sambil mengguncang pundak gue.
"Lo itu emang cewek yang super bikin orang nyusahin."
Lo gak tau Dev betapa terpuruknya gue seminggu ini.
"Maaf," itulah yang bisa keluar dari mulut gue.
"Maaf? Lo bilang maaf Bel?" Devian menangkup pipi gue. "Lo tau? Gue selalu nunggu lo di sini Bel, di sini."
Devian menunjuk bangku yang tadi dia dudukin. "Gue tau alasan lo buat pergi, Bel."
Gue menatap Devian, mata gue udah berkaca-kaca.
Devian memegang lengan gue. "Bel, buat apa lo lari terus sih? Gak guna tau gak?"
Gue melepas tangan Devian dari pipi gue.
"Dev, lo pikir gue pergi selama ini itu gak ngelakuin apa-apa? Lo pikir gue seminggu pergi itu cuma buat ngehindar? Nggak Dev! Buktinya gue balik lagi ke sini kan? Asal lo tau aja, gue selama hidup di sini, apa pernah sehari aja dikasih ketenangan? Enggak kan? Apa pernah gue diperlakuin selayaknya orang biasa? Enggak kan? Bahkan gue udah ngundurin diri dari sekolah itu! Lo tau kenapa Dev? Shit! Gue bahkan gak tau alasannya kenapa! Jadi buat apa gue hidup di sini? Gue itu emang gak berguna!"
Gue mengacak rambut gue frustasi, gue nangis, ya gue nangis lagi karena alasan yang sama. "Lo bisa bilang apapun yang pengen lo bilang entah gue lemah, gue cupu apapun itu Dev gue terima,"
"Oh satu lagi gue nemu ini kemarin, mungkin ini benda kesayangan lo."
Gue ngasih kalung Devian yang gue temuin di pantai waktu itu. "Mulai sekarang, gue gak mau lagi berurusan sama lo, gue gak mau lagi ketemu sama lo, mungkin gue masih ada di sini, di kota ini, tapi gue gak ada lagi hubungan apapun sama lo, Dev."
Gue menuju taksi yang udah nungguin gue. Sementara Devian masih diam berdiri di sana. Gue berbalik dan menatap Devian untuk terakhir kalinya.
Sakit. Itu rasa yang gue alami sekarang. Tahun depan, cerita ini akan jadi sebuah cerita panjang di hidup gue. Masa lalu pahit lebih pahit dari pada masa lalu gue dan Jai.
Inilah rumah gue, masih sama kayak seminggu yang lalu. Gue mengetok pintu dan muncul lah mama di sana.
"Ya ampun Abel! Kamu kemana aja nak? Astaga! Kamu tau papa mama nyari kemana-mana?!" mama langsung memeluk gue sambil menangis. Gimana gak nangis? Putri semata wayangnya aja pergi entah ke mana dan ngilang selama seminggu.
"Maafin Abel ma, Abel-"
"Kamu ngapain aja?! Kenapa kamu gak cerita aja sama papa mama tentang surat pengunduran diri itu?" papa sekarang angkat bicara dengan nada yang keras.
"Pa, Abel kan udah bilang jangan percaya sama surat itu. Abel gak pernah sama sekali ngelakuin hal yang gak wajar itu. Gak pernah!" ucap gue menekankan.
"Terus siapa?! Apa ada orang lain yang ngejebak kamu?" tanya papa.
"Angel! Angel yang udah ngejebak Abel pa, dia selalu ganggu Abel di sekolah."
"Kenapa kamu gak mau cerita?" tanya mama.
"Karena Abel takut, Abel takut Angel bakal ngelakuin hal gila di keluarga kita. Abel gak mau itu semua terjadi."
"Abel? lo udah balik?" Brian tiba-tiba muncul di depan pintu diikuti Calvin dan yang lain di tambah Laras, kecuali Devian tentunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Teen Fiction[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
