"Ayo Abel buruan, nanti ditinggal pesawatnya!" mama gue udah mondar-mandir beresin barang-barangnya.
Yup hari ini gue harus balik ke Jakarta karena waktu gue liburan semester juga cuma sebentar. Gue masih ada waktu libur selama tiga hari ke depan. Lumayanlah buat santai-santai di rumah.
Sampe di bandara, gue dan keluarga Devian langsung check in dan langsung masuk ke pesawat. Brian masih akan tetap di lombok untuk dua hari ke depan karena dia bilang akan ada acara bersama teman lamanya.
"Ghis! Lo kalo jalan liat-liat.. nabrak tuh," Devian ngingetin gue yang hampir gak fokus sama jalanan.
Dan bagusnya gue nabrak bapak-bapak yang udah tua. "Maaf pak maaf."
Sampe di pesawat, seperti biasa Tante Arini selalu nyuruh gue buat duduk bareng sama Devian. Rasa-rasanya gue pengen pindah ke sayap pesawat aja gapapa deh yang penting gak sama si blok a ini.
"Lo kebiasaan ya gak bisa diem!" gue nendang kaki Devian yang sedari tadi bergerak terus-menerus.
"Bawel lo, suka-suka gue lah kaki-kaki gue," ucapnya sewot.
Sempat terdengar percakapan tempat duduk sebelah. "Mereka pasangan serasi ya? lucu banget kalo lagi berantem."
Apanya yang lucu? yang ada gue enek banget sama dia.
Perjalanan sekitar dua jam dari Lombok ke Jakarta dan selama itu gue gak berenti-berentinya buat debat sama Devian karena hal yang bikin gue sebel setengah mati.
Kalo gue jadi ceweknya, gue pasti udah frustasi sama dia. Gue bakal give applause banget buat cewek yang mau sama dia.
"Nah, Abel mau mampir ke rumah tante gak nih?" Tante Arini nawarin gue setelah kita semua sampe di bandara Soekarno-Hatta.
Dengan tampang termanis gue, "gak usah tante, Abel mau langsung pulang aja."
Oke. You're great Abel.
"Yaudah, besok main ya? tante bakal seneng banget loh."
Akhirnya keluarga Devian pamit duluan dan gue masih harus nunggu taksi buat pulang ke rumah.
Perasaannya sampe rumah tuh kayak sampe di suatu tempat ternyaman di dunia. Memang benar pepatah mengatakan rumahku adalah surgaku.
Gue langsung bergegas ke kamar dan membuka laptop. Kebiasaan kalo lagi liburan gini, selalu mantengin youtube sampe ketemu pagi lagi.
Bahkan mungkin gue bisa ngalahin gamers.
"Abel? Kamu ngapain?" mama tiba-tiba masuk ke dalem kamar. Kalau udah gini mama bakal merusak kebahagiaan gue.
"Youtube-an, kenapa ma? "
"Kamu itu kok deket banget sama si Brian kayaknya?"
Gue langsung malingin wajah ke arah mama. "Deket? Kapan Abel deket sama dia?"
"Pas liburan kemarin mama liat kamu tu sering berduaan sama Brian."
"Yaelah ma cuma gitu doang, kan kita emang temenan."
"Tapi mama sedih."
Gue mengernyit. Mana bagian sedihnya? "Maksud mama sedih apa?"
"Ya kan mama ngajakin kamu liburan biar deket sama Devian tapi kamu nya malah deket sama Brian. Apa kata Bu Arini nanti?"
Gue langsung nepuk jidat. "Astaga mama hanya masalah gitu doang?"
Mama gue mukul lengan gue pelan. "Gitu doang apanya? Pokoknya mama setuju kamu sama Devian titik."
Mama gue langsung berdiri dan keluar dari kamar. Gue cuma bisa memandang laptop gue yang masih memutar video klip we the kings yang judulnya sad song sambil meratapi nasib gue besok.
Apa daya gue yang hanya butiran debu.
Pagi yang sangat indah nan cerah ini gue berniat buat nonton film bareng sama Laras. Sekalian dia mau nagih oleh-oleh dari lombok.
"Hey Bel, udah nunggu lama ya? Sorry tadi macet. You know lah Jakarta city."
Gue memutar bola mata. "Yaudahlah yuk, keburu banyak yang antri."
Akhirnya kita berdua masuk ke bioskop di salah satu mall yang deket rumah. Sementara gue yang ngantri, Laras pergi beli pop corn yang juga ngantri banyak.
"Eh sorry!" seseorang nyenggol gue sampe gue hampir jatuh sebelum cewek di belakang gue yang nangkep gue.
Ternyata orang yang nabrak gue adalah Melissa yang di sebelahnya juga ada salah satu geng nya Angel.
"Ternyata ada si culun di sini."
Gue cuma natep sinis ke dia. "Jadi lo udah pulang dari liburan nih ceritanya? Mana pacar lo?"
Gue menaikkan alis. "Pacar?"
Melissa malah justru tertawa. "Iyalah pacar lo itu Devian. Mana? Kok gak ada?"
Hello. Sejak kapan dia jadi pacar gue?
"Nih pop corn nya, capek banget tau gue ngantrinya." Laras dateng sambil kerepotan bawa pop corn yang ukurannya big.
"Eh ada elo?" sapa Laras pada Melissa yang terlihat sewot.
"Apaan sih lo? Sok kenal." Melissa langsung pergi ninggalin Laras yang bingung dengan tingkah Melissa tadi.
"Kenapa dia?"
Gue cuma mengedikkan bahu dan pesen tiket karena udah giliran gue.
"Gila! Filmnya tadi keren banget ya? Romantis pula cowoknya. Gue jadi melting tau!"
seusai nonton film Laras langsung fangirling sendiri. Secara pula di film itu ada aktor favoritnya sepanjang masa.
"Alay lu ah," tandas gue, "makan yuk, laper!" gue memegang perut gue yang sedari tadi bunyi.
"What? Lo habis pop corn satu yang ukuran besar dan lo sekarang laper?"
Gue mengangguk. "Perut lo terbuat dari apaan, Bel?" jawabnya tak percaya.
"Udahlah ayo gue udah laper beneran ini!"
Setelah berkeliling mall sambil cari makan, gue dan Laras hanya menemukan KFC yang benar-benar lebih sepi dari pada tempat lain.
"Gue heran kenapa orang-orang gak pilih KFC aja," timpal Laras sambil ikut menunggu gue mesen.
"Tanya lah sama semua orang, lo adain observasi," jawab gue asal.
"Iya juga ya? itu kan bisa jadi karya ilmiah," Laras sangat berseri-seri jika sudah berhubungan dengan karya ilmiah.
"Misi, uangnya jatuh mbak."
"Oh iya makasih," gue ngambil duit seratus ribu gue yang jatuh. Baik banget itu orang, kalo gue gak tau gue gak akan bisa bayar makan.
Setelah gue liat orang itu, ternyata dia adalah... Jai.
"Ghisa?"
"Jai?"
Bisa kah gue punya kekuatan teleportasi secara tiba-tiba?
_______________
Booommm dont forget to vote and comment guyss see ya next part 💕💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy vs Nerd Girl
Teen Fiction[COMPLETED] "Seandainya aja gue gak kenal dia, hidup gue nggak akan merana." Dia Abel Ghisa, seorang siswi dengan penuh penderitaan di sekolah barunya, tapi siapa sangka jika diam-diam ternyata ada yang peduli dengannya. Semua itu berawal dari rasa...
