Part 10 [Just Hope]

32.8K 1.7K 7
                                        

Airen Side

Aku duduk pada sebuah ruangan. Tentu, ruang tamuku! Dimana guru aneh itu, dan ibuku asik mengobrol satu dengan yang lain. Dan aku, hanya bisa terkesima dengan guru itu.

Ada rasa takut dalam diriku saat melihat guruku itu. Namun, aku tidak menampilkan rasa itu, karena aku tahu konsenkuensi apa yang akan kuterima nantinya.

Ancaman, nilai jelek, dan malu.

Sekitar itu yang akan kuterima mungkin?

"Tadi, gurumu bilang setiap pulang sekolah akan ada pelajaran tambahan untukmu. Khusus matematika." ucap ibu bagaikan surat pengantar kematian untukku.

Pulang sekolah? Dengan guru aneh itu?

"T-tapi bagaimana dengan less biola ku? Tariku? Dan-"

"Matematika lebih penting Airen dari pada itu! Aku tak menyangka nilaimu sejelek itu" cibir ibuku padaku. Sedangkan aku hanya bisa diam dan menatap ibuku nanar.

Ibu tidak tahu, jika aku seperti itu maka seperti ibu mengirimku pada setan neraka.

"Perbaiki nilaimu, Airen" ucap ibu lagi, aku semakin menunduk dibuatnya.

"Aku harus pulang. Informasinya mungkin sampai sini dulu. Airen, belajarlah dan Jangan. Terlalu. Banyak. Pacaran!" ucap guru aneh itu dan berpamitan pada ibuku. Ia sempat menekankan kata terkahirnya.

Ia berjalan kearahku, berniat untuk salaman. Tentu, karena ia guruku aku membalas salamannya. Tapi, aku merasa cengkraman guru ini terlalu erat hingga aku hampir meringis sakit.

"Besok kau akan mendapat hukuman, Airen" ucapnya dan melepas tanganku kasar dan pergi begitu saja yang di tuntun oleh ibuku.

Aku hanya bisa berdecak kesal dan menatap kepergiannya malas.

Untung ia guru, jika bukan..

Lupakan saja.

"Itu gurumu, Airen?" tanya ibu saat ia sudah menuntun guru aneh itu keluar, sedangkan aku yang malas hanya bisa mengganguk.

"Tampan sekali!" puji ibuku berbinar binar. Astaga, bagaimana dengan ayah?

"Jangan bilang ibu ingin berpaling dari ayah?" tanyaku datar, ibu hanya menatapku datar.

"Tentu tidak. Ayahmu lah yang terbaik! Aku pikir aku akan menjodohkanmu dengannya" ucap ibu.

Tunggu,

"APA?!" pekikku tak percaya sedangkan ibu menatap kearahku tajam.

"Bisakah kau tidak memekik? Suaramu sangat sumbang!" ucap ibu sarkas. Aku hanya menghela nafas dan menatap ibu nanar.

"Ibu, kau tidak mungkin menjodohku dengan pria tua itu! Lagi pula, om om itu sudah memiliki tunangan!" ucapku dengan nafas berburu. Sedangkan ibu?

"Tunangan? Percaya padaku, tunangannya pasti sangat jelek!" cibir ibuku, aku hanya bisa menghela nafas dan beranjak menuju kamarku.

"Hey.." ucap ibu menghentikan langkahku. Aku yang lelah hanya menatap ibu pasrah.

"Kau, bersihkan dirimu, makan lalu belajar. Ibu tidak ingin mendapat pengaduan jika nilaimu jelek. Tidak akan!" ucap ibuku, dan berlangsung pergi. Uh, kenapa ibu menjadi seperti ini?

Aku memasuki kamarku, dan menghempaskan diriku diatas kasur untuk beristirahat sebentar.

Kenapa rasanya sangat aneh? Guru itu semakin lama semakin aneh.

Mungkin, guru itu kehilangan kewarasannya hingga ia suka padaku. Suka? Tidak ada yang tidak mungkin kan didunia ini? Bahkan, ada beberapa hal yang terjadi diluar ekspetasi bukan?

Aku sendiri hanya bisa menghela pasrah, kenapa semua terjadi seperti ini? Bahkan, ini bukan mauku.

Guru itu bertingkah layaknya aku kekasihnya, dan terus mengawasiku. Mengawasi? Itu kata yang tepat untuknya bukan?

Aku kembali mendengus, semua berubah seiring waktu berjalan. Itu membuatku takut.

Bagaimana jika guru aneh itu benar benar menyukaiku?

Aku bangkit dari tempat tidurku dan menatap kearah cermin lemariku.

Aku menatap setiap detail tubuhku. Mataku, rambutku, hidungku dan semuanya.

Tidak ada yang menarik! Tidak ada yang indah! Semua tampak biasa saja.

Kelakuanku? Tidak, bahkan aku sering membentaknya.

Ia ini, sebenarnya kenapa?

Aku kembali menghela nafas pasrah, aneh memang rasanya.

"Airen, bersihkan dirimu!" pekik ibu dari luar. Aku menghela nafas malas dan beranjak mandi.

Mungkin, itu hal yang terbaik.

***

"Kau sudah makan. Belajarlah" ucap ibu, aku hanya mendengus kesal.

Hidupku, seperti sebuah kesia siaan.

Aku berjalan menuju kamarku. Sesudah mandi tadi, aku langsung memakan makananku. Tidak ada konversasi diantara kami.

Aku menutup pintu kamarku, dan menatap kearah meja belajar.

Benarkah ia menyukaiku? Seandainya iya, kenapa ia tidak berpikir jika umur kita berpaut sangat jauh?

Ah, mungkin aku yang sudah gila. Ia seperti itu karena nilaiku yang jelek. Aku tidak boleh menuduhnya yang tidak tidak. Tidak boleh.

Aku memutuskan untuk belajar beberapa materi Geografi. Besok, adalah ujian Geografi dan kuharap besok tidak terjadi apa yang tak kuinginkan.

Walau aku hanya bisa berharap..

My Posesive TeacherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang