Airen side.
Aku membanting pena ku kesal. Baru guru menyebalkan itu masuk, dengan beraninya ia memberikanku tugas serumit ini.
Sudah rumit, banyak pula!
Aku kembali menatap bukuku nanar. Bulan sudah menunjukan dirinya, namun, tugas tak kunjung selesai.
Sepertinya, aku akan tertidur dan tidak menyelesaikan tugasku.
Aku menatap kearah lampu belajarku jenuh. Rasanya, aku harus membuat perhitungan pada guru baru itu.
Aku yang sudah lelah, penat dan dan pikiran ku cukup kacau. Akupun lebih memilih melangkah untuk tidur tanpa memerdulikan kearah buku.
Cukup sampai disini.
Aku tertidur di atas ranjangku, tanpa memerdulikan tugas tugas lumutku itu.
Bye, tugas!
***
"Uhh!" ucapku mulai kesal. Aku merasa, wajahku diterpa sesuatu yang cukup hangat, tapi cukup menganggu tidurku.
Aku mendengar suara burung berkicau, dan aku hanya bisa menghela nafas dalam tidurku.
Ini sudah pagi, aku malas menghadapi hari baru.
Dengan malas, aku bangkit dari tidurku, dan mengucek mataku. Aku merenggangkan otot otot tubuhku, dan bangkit dari kasurku.
Aku berjalan untuk membersihkan diri, lalu sarapan. Itu adalah kebiasaanku saat memulai hari baru.
Membosankan.
Tak lama, tatapanku berhenti pada sesuatu objek yang sangat.. Kubenci.
Buku matematika.
Aku menghiraukan buku tersebut, dan memilih melanjutkan aktivitasku.
Aku memang phobia terhadap sesuatu yang berbau angka.
***
Aku melangkahkan kakiku cepat menuju sebuah tujuan.
Tentu kelasku, apa lagi?
Aku hanya menghela nafas pasrah, ini seperti pintu masuk neraka bagiku.
Saat aku melewati ruang guru, tepat didepanku adalah seorang didepanku yang membuatku sedikit salah tingkah.
Tentu saja Hans. Siapa lagi?
"Kau baru datang?" tanyanya, akupun menangguk.
"Kantung matamu sepertinya sedikit menebal. Kau bergadanhkah?" tanyanya, menatap kearah kantung mataku, akupun refleks memegang kantung mataku dan tersenyum.
Hell, ini memalukan!
"Aku menaruh tas dulu" ucapku menundukan kepala dan melangkah menuju kelas. Padahal, aku dalam hati berkomat kamit tak jelas.
"Hey" panggil Hans yang menghentikan langkahku. Aku menatap kearahnya, iapun berjalan menghampiriku.
"Aku tunggu kau di balkon" ucapnya, lalu melangkah jauh dariku. Aku hanya tersenyum memandang kepergiannya, dan kembali melangkah menuju kelasku.
Tepat aku memasuki kelasku, aku menemui guru Matematika itu berada di meja guru. Ia sedang duduk, dan berbicara dengan beberapa murid.
Aku menghiraukan mereka dan tetap berjalan ke arah kursiku, dan menaruh tasku. Lalu, aku bergegas pergi menuju Balkon.
"Hey, Airen" panggil guru itu saat aku berada diambang pintu. Dengan berat hati, akupun membalikan tubuhku dan menghadap kearahnya.
"Kau sudah menyelesaikan tugasmu?" tanya guru itu, aku menggeleng lemah. Iapun menghela nafas, dan berdiri, berjalan menghampiriku disusul oleh teman teman sekelasku.
"Airen.. Sebegitu bencikah kau dengan Matematika?" tanyanya. Aku menangguk. Ia memilih untuk menghela nafas lagi, dan menatap kearah seluruh ruang kelas yang terdapat beberapa anak menatap kearahku dan guru baru itu.
"Dengar, kau sebenarnya memiliki potensi untuk berhitung. Hanya saja, sugestimu lah yang menjatuhkan dirimu sendiri" ucapnya, ia menatap kearahku. Sedangkan aku, hanya menatap kearah lurus tanpa membalas tatapanya.
"Aku memang payah. Jika yang kau katakan itu benar, maka, itulah yang terjadi" ucapku, lalu berlangsung pergi.
Katakanlah jika aku bodoh, dan kurang ajar. Tetapi, semakin aku di beri tahu semakin aku merasa tidak berguna.
Aku melangkah menuju balkon, dan menemukan Hans yang sedang menatap kearah Awan. Aku menghampirinya.
"Hey!" ucapku mengagetkannya, ia tersenyum kearahku.
"Kau kesini? Tadi aku melihat mister Steven dateng ke kelasmu" ucapnya, aku hanya menghela nafas.
Aku tak mungkin berbicara jika aku Phobia terhadap Matematika. Itu sama saja seperti aku membuka kartuku sendiri.
"Hanya urusan kecil" ucapku, ia tersenyum kearahku.
Kamipun, pada akhirnya menikmati pemandangan pagi bersama.
Selama itu, aku menahan jantungku yang berdegub kencang sampaii....
"Airen.."
Ah tidak!!
KAMU SEDANG MEMBACA
My Posesive Teacher
Teen Fiction[Private, please follow if you want read it!] Airen, seorang anak SMU, ia terkenal dengan sikap kurang terpujinya itu. Namun, Airen menyukai seseorang. Steven, seorang guru yang mengajar disebuah sekolah, tentu itu adalah sekolah tempat Airen mencar...
