Part 23 [Not Today]

24.7K 1.2K 7
                                        

Airen Side

"Jadi, beberapa harus di ganjilkan dan beberapa harus dirasionalkan!" ucap guru aneh itu mengajar. Uh, menyebalkan jika sudah seperti ini.

Aku menatap kearah jam, dan ternyata masih cukup lama. Aku memilih menatap kearah Nara dan berniat mengerjai Nara.

"Airen, fokus" ucap guru aneh itu, mau tan mau aku kembali menatap kearah papan tulis. Bahkan, sekarang aku masih dilihatin oleh anak sekelas. Uh!

Tak lama ia kembali mengajar, dan mataku sepertinya sudah tak kuat. Rasanya aku ingin tidur.

Aku terus menahan rasa kantukku, hingga akhirnya bel pulang berbunyi.

Aku keluar kelasku dan bermaksud untuk pulang. Namun, aku teringat jika aku akan memberi tahu sesuatu kepada guru aneh itu. Aku memilih untuk melangkah cepat menuju ruangan guru aneh itu, dan saat belum sampai ruangannya saja aku sudah melihat ia berjalan dengan Miss Haly. Aku terdiam sesaat dan menatap kearah keduanya.

Haruskah aku mengangguk kencan mereka? Kupikir tidak. Itu sangat tidak sopan.

Aku kembali melangkah menuju gerbang sekolah, mungkin tidak hari ini.

Masih ada hari esok, dan hari lusa.

Masih ada banyak waktu..

***

"Ayah, kau ada disana?" tanyaku didepan ruangan pintu.

"Masuk" ucap ayah yang membuatku tersenyum.

Saat pulang sekolah tadi, ada rasanya aku ingin bertemu dengan ibu. Dan ternyata, aku tidak mendapati ibu dirumah. Itu artinya, ibu pergi kerumah bibi Li.

"Airen, kau kenapa?" tanya ayah yang bangkit dari kursi kerjanya dan duduk disofa. Aku memilih untuk duduk disebelah ayah, dan menatap ayah dengan senyuman.

"Ayah, apa kau sibuk?" tanyaku, ia tampak berpikir sebentar, walau aku tahu itu hanya candaan.

"Hmm tidak. Nah, putri ayah yang cantik ini ingin berkata apa?" ucap ayah, aku hanya tersenyum.

"Ayah, uhmm.." ucapku ragu. Haruskah aku mengatakan hal bodoh ini?

"Katakan saja, Airen" ucap ayah, aku hanya mengangguk. Ku harap, aku akan mendapat jawaban yang tepat.

"Ayah, jika kau ingin menyampaikan sesuatu, dan itu sangat sulit, apa yang akan kau lakukan?" tanyaku, ayah hanya tertawa menanggapi pertanyaanku.

Uh, ini pertanyaan, bukan lolucon! Uh, ayah ini..

"Tentu ayah akan berusaha. Pasti untuk kepergianmu bukan?" tanya ayah, aku mengangguk. Ia menyubit ujung hidungku dan tertawa. Uh, menyebalkan.

"Jika orang itu Spesial, maka ayah akan berusaha. Karena bagaimanapun, ia pasti akan merasa kehilangan" jelas ayah, aku hanya mengangguk.

"Tapi, bagaimana jika orang itu sangat spesial bagiku, tetapi aku tidak spesial dimatanya?" tanyaku sedikit sedih, mengingat sikap guru aneh itu yang semakin aneh dimataku.

"Tentu, akan terus memberitahunya. Ia sudah terbiasa disisimu pasti, maka itu kau anggap spesial. Jika kau pergi secara mendadak, pasti ia akan merasa kehilangan" ucap ayah yang membuatku kembali mengangguk.

Aku paham sekarang.

"Sekarang, kau bersihkan dirimu, bantu ibumu menyiapkan makan malam, habis itu belajar. Ayo, ayo" ucap ayah yang membuatku cemberut.

"Kenapa?" tanya ayah

"Kau mengusirku?" tanyaku sedikit sewot, sedangkan ia hanya tertawa.

"Tentu tidak. Sekarang, bersiap siaplah" ucap ayah, aku hanya mengacungkan jempolku.

Hari ini, aku sudah mendapat jawaban dari ayahku.

Setidaknya, bisa membantuku..

***

Malamnya, aku hanya menatap kearah buku lemas. Sekarang, aku sudah cukup mengerti. Itu semua karena jasa guru aneh itu.

Karena ia, aku mengerti.

Tetapi, kenapa aku merasa hampa sekarang? Gengsiku telah membutakanku, dan sepertinya aku harus memberi tahukannya besok.

Aku tidak bisa menundanya lagi, atau tidak aku akan semakin gelisah. Ini buruk, sangat buruk!

Yah, tidak sekarang. Tapi besok..

Aneh yah ceritanya? Sama kaya Steven dong :D

Tapi, kalo ceritanya sedikit aneh, itu karena Mood author yang hancur. Yah, karena salah satu karya istimewa Author akan aku hapus, eitss tenang bukan ini kok :)

Tapi, I hope You'll Enjoy :)

My Posesive TeacherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang