Airen Side
Aku menatap kearah Nara, mengapa melempar basket saja ia tidak kuat?
"Nara, berikan padaku!" pekikku jauh, ia hanya menatapku suram. Uh, anak ini..
"Kau jauh, Airen! Sulit!" pekik Nara putus asa. Uh, menyebalkan memang.
"Airen!" panggil seseorang kepadaku, aku menengok kearah sumber suara.
Ah, Angel. Ada apa ia kesini? Sudah kenyangkah ia dengan perlakuan guru aneh itu? Ia melangkah kearahku, dan menatapku putus asa.
"Kau saja. Aku tak mau membersihkan toilet!" ucap Angel dan melangkah pergi. Astaga, apa yang guru aneh itu katakan?
Aku memilih tersenyum dan menatap kearah Nara.
"Kau akan membersihkan toilet?" tanya Nara, aku hanya mengangkat kedua bahuku.
"Aku tak tahu. Sudahlah, aku pergi dahulu" ucapku dan melangkah pergi meninggalkan Nara yang masih tercengang.
Aku melangkah melalui lorong lorong, dan melewati tiap tiap kelas.
'Bugh!'
Aku menabrak seseorang. Aku memegang bahuku dan mencengkramnya kuat, karena sangat sakit. Yang kutahu, orang itu keluar dari salah satu kelas, dan langsung menabrakku. Ini menyakitkan.
"Kau tak apa?"
Tidak, suara itu..
Aku menengok kearah sumber suara, ternyata ia adalah Jemmy, teman sekelas Hans.
Tidak, kenapa dia bisa ada disini? Bukannya ia sudah di amerika bersama ayahnya? Kenapa bisa ia disini?
"Airen?" tanyanya antusias, aku hanya terdiam. Kenapa ia ada disini?
Ia, Jemmy teman Hans. Karena Jemmy lah, aku harus melampiaskan perasaanku kepada Hans. Karena Jemmy, aku seperti ini. Terus bergantung padanya, hingga aku selalu mendapat nilai jelek disekolah hingga akhirnya aku menyukai Hans untuk pacuan belajarku.
Ini lebih menyeramkan dari Hans. Aku bahkan yakin, aku bisa selingkuh dari guru aneh itu karena dirinya. Apalagi, ia sekarang semakin tampan
Dan itu semakin membuatku terpuruk.
"Airen?" tanyanya lagi dan melambaikan tangan didepanku. Aku yang tersadar sontak menatapnya kikuk.
"Kau mau kemana?" tanyanya. Tidak, ini sudah cukup! Aku sudah mengubur perasaanku secara paksa, dan bagaimana jika perasaanku kembali lagi?
Bagaimana?
"Aku harus pergi ke ruangan guru matematika. Selamat tinggal" ucapku dan melanjutkan langkahku.
Tubuhku gemetar, dan aku sepertinya mengeluarkan keringat dingin. Ini sudah salah, sangat salah.
Aku langsung memasuki ruangan guru aneh itu tanpa mengetuk, dan ia menatap kearahku dengan senyum. Aku menutup pintunya dan berjalan menghampirinya.
"Kau kenapa? Kau terlihat tegang?" ucap guru itu yang masih terduduk di kursi rajanya, sedangkan aku sendiri berdiri di hadapannya dengan nafas yang memburu dan keringat yang keluar banyak. Aku menatap kearahnya dan berdiri tepat didepannya.
"Katakan, ada murid yang bernama Jemmy?" tanyaku terkesan tidak sabar, ia hanya mengangguk bingung.
"Kenapa ia masih ada disini? Bukannya ia berada di amerika?" tanyaku mengebu ngebu, sedangkan ia berdecak dan menaruh penanya dan berdiri, lalu melangkah kearahku.
"Ia hanya ikut pertukaran pelajar sayang. Memang kenapa?" tanyanya memegang bahuku, aku hanya memejamkan mata dan menetralisir nafasku.
Ia akhirnya memilih untuk menuntunku dan mataku terbuka secara refleks, dan duduk di sofa yang ada di ruangannya untuk menjamu tamu dan sebagainya. Ia memberikan air putih dan jemarinya mengelus rambutku lembut.
"Katakan, kau kenapa?" tanyanya lembut, aku yang cemas hanya menatap kearahnya.
"Sepertinya aku harus kasih tau ini" ucapku, ia hanya mengangguk. Aku kembali menatapnya, dan aku baru tahu jika jarak kami cukup dekat.
"Kau tahu, karena Jemmy aku menyukai Hans? Aku melampiaskan segala perasaan tak terbalasku kepada Hans" ucapku, ia hanya terdiam.
"Dan yang aku takutkan, aku akan melupakanmu dan berselingkuh dengannya" ucapku, dengan nafas yang kembali normal.
"Jika begitu, jangan dekati dia!" ketusnya, aku menggeleng.
"Itu tidak mudah, Guru aneh. Insting anak mudaku masih sangat tajam, dan aku tidak bisa menepis jika suatu hari perasaanku padanya akan muncul. Karena memang, itu bukan kehendakku, dan itu semua diluar pengendalianku" ucapku tergesa gesa, ia hanya menatapku datar.
"Jangan - memanggilku - guru - aneh!" ucapnya penuh penekanan, dan aku hanya tersenyum bodoh.
"Oke, om sekarang apa yang harus kulakukan?" tanyaku, ia lagi lagi menatapku datar. Salah lagi.
"Kakak" ucapnya, aku hanya memandangnya jijik. Apakah ia tak sadar dengan umurnya?
"Apa? Kau tidak suka? Yasudah aku tak akan mengajarmu" ucapnya dan bangkit dari duduknya. Aku memegang tangannya, dan menahannya ia pergi. Astaga pria ini..
"Ia kakak, ajari aku ya?" ucapku memelas ia hanya tersenyum padaku.
Lihat, bahkan sekarang ia tak peduli dengan masalahku. Dasar..
KAMU SEDANG MEMBACA
My Posesive Teacher
Teen Fiction[Private, please follow if you want read it!] Airen, seorang anak SMU, ia terkenal dengan sikap kurang terpujinya itu. Namun, Airen menyukai seseorang. Steven, seorang guru yang mengajar disebuah sekolah, tentu itu adalah sekolah tempat Airen mencar...
