Seventeenth

24.6K 1K 1
                                        

Adel's POV

"Kan kami ini gak sederajat sama kalian, orang tua kalian itu pengusaha sukses, punya penghasilan gede, punya rumah gede. Lah kami, orang tua kami punya penghasilan pas pasan, tinggal di rumah kecil." Jawab Tommy lagi, entah kenapa dia sangat penasaran dengan keterbukaanku untuk menerima mereka di kehidupan sekolahku.

"Tom, semuanya. Denger ya, kita ini sama sama manusia, seharusnya kita gak boleh nentuin derajat seseorang Cuma dari kekayaan. Kalo kalian nganggep gua ini kaya, papa gua yang punya sekolah ini ato gimana, di mata Tuhan kita semua ini sederajat. Jadi Tuhan aja nganggep kita sederajat, masa gua yang Cuma manusia biasa gini bisa bilang kalo kalian gak sederajat sama gua. Lagian nih ya, sebenarnya gua ini sama aja sama kalian. Gua gak kaya, yang kaya itu ortu gua, gua itu Cuma anak mereka yang masih minta duit buat jajan sama mereka. Jadi bukan gua yang kaya, jadi jangan pernah nganggep lagi kalian itu gak sederajat sama gua. Perasaan gua udah pernah bilang deh sama Glory, Steffi, sama Adine deh." Jelasku panjang kali lebar sambil melirik Glory dkk yang disambut dengan tatapan berbinar dari mereka semua.

"Adel, makasih ya udah mau nerima kami di sini. Sebelum ini aku selalu ngerasa kalau orang kayak kamu itu gak bakal bisa memandang kami sebagai orang yang sama dengan kalian." Ucap Tommy sambil tersenyum.

"Ya ampun... gak usah seformal itu lah, lagian kita semua temen kan?" tanyaku dengan senyum tulus di wajahku.

"Makasih ya Del." Ucap mereka kompak yang membuatku kagum.

"Astaga, kalian kompak banget ya. Bentar gua pengen minum dulu, haus juga gua ngomong panjang panjang kek tadi. Dan kalian biasa aja napa, gua ini bukan dewa turun dari langit." Candaku melihat mereka yang masih melihatku dengan tatapan berbinar.

"iya, kalo kalian kek gitu kelamaan bisa gede kepala nih anak." Sinis Glory dengan muka menahan tawa.

"Makasih Glor." Ucapku singkat dengan muka bete. Dan mengakibatkan semuanya tertawa melihat mukaku.

"Adeline !!!! lu ngapain maen sama mereka ???!!!!" Teriak Felice dari pintu kelas kami yang membuat kupingku pengang seketika. Dan tanpa sadar Felice sudah menarikku menuju tempat dudukku.

"Apaan sih Fel?" tanyaku dengan nada datar.

"Lagian lu sih, maen sama orang kayak mereka. Entar dimanfaatin baru tau rasa loh sama mereka. Btw dari pada itu... mendingan kita bahas kode buat KS nanti." Titah Gisella yang membuatku terheran.

"Emang siapa yang mau KS?" tanyaku heran pada mereka.

"Ya kita berlima dong Adeline sayanggg.... lu tuh pinter Cuma rada bolot yah." Ucap Stakia yang membuatku malah makin bingung.

"Emang gua pernah bilang mau KS?" tanyaku lagi yang membuat mereka langsung mendelik melihatku.

"Pokoknya lu harus bantuin kita Del, gua gak mau remed lagi buat ulangan Miss Rossa, ribet kalo remed ulangan dia." Mohon Leiora dengan nada memaksa.

"Ya kalo gak mau remed ya belajar. Jangan belanja mulu, kasian lemari lu udah kepenuhan tuh." Elakku dengan cara berusaha bercanda dengan mereka.

"Gak usah becanda deh Del, pokoknya lu harus BANTUIN KITA !!." perintah Gisella dengan mata melotot seperti mau keluar.

"Tapi... Kringggggg" ucapanku terhenti mendengar suara bel menandakan jam istirahat sudah selesai, dan mereka ber 4 sudah berlalu ke kursi mereka sebelum mendengar penolakanku.

Selama ulangan berlangsung Gisella dkk selalu saja memberiku kode untuk melihat ke arah mereka. Aku hanya diam tanpa menoleh ke arah mereka, aku tidak mau mengambil resiko di kelas Miss Rossa, itu sama saja dengan menjerumuskan diriku sendiri ke dalam kandang singa dan di dalamnya sudah terdapat singa lapar yang siap membuatku tidak bisa ke sekolah dalam waktu 3 hari karena shock attack dan sakit di seluruh tubuh karena cubitan yang dia layangkan. Miss Rossa sangat membenci orang yang menyontek atau kerja sama dalam kelasnya.

Memang kuakui soal ulangan kali ini sangat susah, pantas saja Gisella dkk sudah sibuk dari tadi. Bahkan mereka sempat ditegur Miss Rossa karena terlalu berisik. Aku sudah siap dengan omelan mereka seusai pelajaran nanti. Itu masih lebih baik daripada berhadapan dengan Miss Rossa yang galaknya melebihi Nathan dan orang tuaku sendiri. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding di tempat.

Setelah selesai, aku segera menyerahkan jawabanku pada Miss Rossa dan keluar kelas dengan membawa tasku karena kebetulan itu adalah pelajaran terakhir hari ini. Aku menghampiri Glory, Steffi, dan Adine yang telah berada di depan gerbang sekolah. Aku berlari mengejar mereka untuk bisa pulang bersama, aku sedang tidak mood untuk mendengar gerutuan Gisella dkk , lagipula aku juga malas untuk pulang ke rumah sendirian.

TBC

Makasih yang udah mau baca cerita ini sampai sini

Cerita ini emang bosenin banget ya? Readersnya makin dikit aja nih

Kritik saran kesan nya komen aja ya, biar semangat nulisnya dan biar ceritanya bisa lebih baik =D

Next chapter menurut gua agak sedih nih , kasian Adeline

Makasih

-X-

Behind That Smile (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang