Seoul Arabillah POV
Setelah pembicaraan beberapa tempo hari yang lalu. Aku pikir ini semua akan baik-baik saja. Namun, kenyataannya pikiranku tidak bisa lepas tentang apa yang akan terjadi di depan nanti. Ar hanya bisa mengambil jalan yang dia pikir baik, tanpa mau berpikir panjang apa yang orang dewasa biasa lewati mengenai pernikahan.
"Tapi Ar kamu kan punya Gina."
Saat itu aku masih terus membantah. Meminta Ar untuk tidak melakukan kecerobohan dengan menikahiku. Aku harus sadari akan satu hal di dunia ini. Cinta dan pernikahan itu kata yang tak mampu dipisahkan. Aku hanya takut. Aku takut kalau nanti Ar menyakitiku, menyakiti setiap harapanku. Ya... meski aku tahu bagaimana seluk-beluk sifat Ar sejak kecil. Dia selalu melakukan apapun dengan totalitas.
"Ar please jangan ceroboh!" tekanku dan di waktu yang aku rasa berbeda... Tubuhku mematung saat Ar memperhatikanku dengan tatapan yang tajam. Kenapa? Dia marah? Apa salahku? Aku pikir, aku benar. Ar mencintai Gina, bukan aku, dan aku tak mau mengambil resiko besar untuk itu.
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Gina!" ungkapnya lantas aku memejamkan mataku sejenak dan memperhatikannya yang meninggalkan sofa di ruang TV. Bagaimana aku bisa menikah dengan seorang pria yang mempunyai kepala batu seperti Ar. Bertahun-tahun bersahabat, tapi aku selalu merasa kalah dengan Gina untuk mengerti dirinya.
Aku kira cinta membutakan segalanya. Tak pernah sekalipun aku melihatnya tersenyum sejak kami beranjak dewasa, tapi Gina selalu berhasil membuatnya tersenyum. Aku tahu, aku memang bukan sahabat yang baik. Aku juga kaku terhadap siapapun, bahkan aku pikir Ar pun tak nyaman denganku.
Lalu apa alasan Ar menikahiku? Apa itu sungguh hanya karena aku akan tinggal di rumahnya. Aku sudah bicara padanya ingin mencari kos-an terdekat di daerah sekolahku, tapi dia melarangnya. Sungguh aku tak menyukai sifat keras kepalanya.
Beberapa minggu yang lalu nenekku meninggal dunia. Ayahku entah di mana dan ibuku sudah meninggal sejak melahirkanku di Seoul. Rumahku disita oleh bank dan seperti inilah hidupku sekarang. Dilingkari belas kasihan dari orang lain. Namun, aku selalu mensyukuri apa yang kumiliki sekarang.
Keluarga Ar selalu membantuku sejak kecil. Begitu pun Tante Fika yang sudah tinggal dengan Om Gilang di London selalu memberikan kiriman uang untukku. Aku sudah seperti anak kandungnya, padahal Arzan, keponakannya sendiri tak pernah diperhatikan. Terakhir aku bertemu dengannya saat pemakaman nenekku dan penawaran yang menggiurkan dari Tante Fika agar aku bisa kuliah di London.
Entahlah! Aku hanya merasa akan lebih merepotkan lagi kalau aku menerimanya. Lagi pula, aku sudah terlanjur menjadi istri sah seorang Arzan Rafadinata sejak seminggu yang lalu dan sekarang tampaknya aku harus fokus dengan sekolah akhirku.
"Wooooyy ngelamun aje lo!" Ini Mega Bella, dia sahabat perempuanku sejak masuk SMA. Tubuhnya gemuk dan sedikit pendek. Orangnya sedikit cablak, tapi dia selalu berhasil buat aku tertawa setiap kali sedang banyak pikiran.
"Weyyy! Weyyyyy! Liat si Udin enggak lo. Parah tuh anak ya minta gue uleg kali tuh mukanya! Sepatu gue diumpetin ke mana sih?!"
Kalau ini Galih Sanjaya, salah satu anak dari keluarga Sanjaya yang terkenal kekayaannya. Dia memang seperti itu. Suka asyik sama dunianya sendiri. Datang-datang ke kantin langsung nyari orang yang namanya Udin. Sebenarnya, nama asli Udin itu Haris, tapi Galih suka memanggilnya dengan nama Udin. Itu karena wajahnya mirip Udin sedunia.
"Lahhh?! Lo pada belum mesan makanan? Mau gue pesenin atau gimana nihh?!"
Dia yang paling baik di antara sahabat aku yang cowok. Namanya Alex Outer, orang tuanya campuran indo-barat. Orang kece nomor dua setelah Ar di sekolah. Tapi sayang, Alex terkenal gay di kalangan para perempuan. Meski begitu, aku enggak terlalu suka mencampuri privasi sahabatku. Lagi pula Alex anaknya baik dan pintar. Aku bahkan sering kerja kelompok di rumahnya bersama anak-anak lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HEARTBEAT COMPLETED
RomanceIsi bab lengkap baca aja! Sahabat jadi cinta? Tapi kenapa Seoul harus menikahi sahabatnya yang sudah memiliki kekasih? Dia tak membalas ciumanku, tapi aku bisa merasakan tangan Seoul yang mencengkram tangan kiriku. Setelah kurasa dia tak bisa bernap...
