Chapter 20: Promise

5.6K 142 41
                                        

Arzan Rafadinata POV


"Aku...,"

"Ingin...,"

Ada jeda di sana. Aku tak tahu dia akan memutuskan apa, tapi yang pasti itu bukan sebuah perceraian.

"Cerai..." Aku membelalakkan mataku.

"Sel, jangan bercanda. Kita baru saja akan memulainya Sel. Please, Sel jangan kayak gini," kataku mulai semakin frustasi dengan apa yang aku dengar dari bibir manisnya. Tak mungkin sebuah perceraian yang dia inginkan. Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa dia tak akan pernah meninggalkanku.

Demi apapun itu, aku tak pernah sadar melakukan hal sebrengsek itu semalam. Aku tahu, aku salah, tapi apa ini hukuman untukku. Aku tak bisa menceraikannya dan Seoul..., dia sudah kehilangan mahkotanya. Aku sudah merebut miliknya. Aku ingin menjaganya!

"Aku ingin kita bercerai kalau kau tak memahamiku. Kalau kau tak mau mengerti aku dan kalau kau terus menyakitiku seperti ini. Aku ingin kau berubah Ar!" Apa ini? Apa maksud Seoul?

"Berubahlah untukku..."

Mendengar penuturan lain darinya membuatku lebih banyak bisa menghirup udara. Kami tak akan benar-benar bercerai kan? Aku tak pernah menginginkan itu meski aku ini lelah menghadapi hubungan yang labil ini.

Memang, aku lelah saat aku mulai fokus dengan satu orang yang kucintai. Seoul malah seperti membagi perasaanku pada orang lain. Aku lelah untuk berpura-pura bahwa dia berhak memilih siapa pun dan pada kenyataannya aku memang tak bisa melepasnya. Apalagi setelah kejadian semalam. Bagaimana kalau dia hamil? Bagaimana kalau anak itu tidak tahu ayah sebenarnya. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika itu semua terjadi.

"Ini enggak semudah yang kau pikirkan Sel. Aku butuh waktu untuk mengubah diriku sendiri. Kau tahu bagaimana keras kepalanya aku. Kau tahu betapa labilnya aku dan aku sangat mudah emosi, Sel. Kalau kau mau aku memahamimu..."

"Baiklah. Aku rasa, aku memang salah menerima pernikahan ini tanpa berkomentar dan mengeluarkan pendapatku sebelumnya. Kita memang tak seharusnya menikah Ar." Seoul mencoba melilit tubuhnya dengan selimut, dia mencoba beranjak meninggalkanku, tapi aku mencegah setiap gerakannya.

"Sel apa yang kau pikirkan?"

"Aku ingin bercerai Ar, apa kau tak mengerti itu?! Kalau saja kau lelah, bagaimana dengan aku? Kau kira aku tak lelah menghadapi sikapmu yang seperti ini!"

Kuhela napas beratku lagi. Sulit! Itu sangat sulit saat semuanya aku kira akan baik-baik saja setelah aku mencoba mengambil harta berharga miliknya. Aku kira dia akan menjadi milikku seutuhnya setelah ini, tapi ternyata...

"Kau masih bisa pikirkan itu sampai besok. Kalau kau memang sudah tahu apa jawabanmu. Kau bisa katakan padaku," ungkapnya seraya bangun dari posisinya.

Aku dengar dia meringis. Mungkin menahan sakit yang aku lukai di segala bagian di tubuhnya. Aku sangat merasa bersalah, tapi Seoul terlihat tak mau aku bantu saat dia berjalan menuju kamar mandi dengan selimut yang melilit tubuhnya.

Jadi aku harus bagaimana?

***

Bel berbunyi. Aku tak masuk kelas di jam pertama, tapi di jam kedua kami sempat masuk. Maksudku aku dan juga Seoul. Aku bilang dia istirahat saja, tapi dia tak mau. Akhirnya kami di sini. Di kelas tanpa ada seorang pun yang menjadi orang ketiga bagi kami. Aku tahu sekali Seoul masih sulit berjalan ditambah lagi dengan kakinya yang masih tak bisa jalan normal. Jadi, aku mencoba menemaninya di kelas setelah membeli makanan untuknya karena tadi pagi tak ada satupun dari kami yang sarapan.

"Tidak. Makasih," katanya saat aku menyodorkan sebuah burger ke arahnya. Dia bahkan mendorongnya kembali ke arahku dan sibuk mencoret-coret bukunya mencoba rumus yang sedang dia pecahkan entah pertanyaan nomor berapa.

MY HEARTBEAT COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang