Seoul Arabillah POV
Kulambaikan tanganku ke arah suamiku yang sudah menungguku di tangga Fakultasnya. Dia berdiri dari tempat duduknya dan aku lihat ada seorang wanita menengok ke arahku. Mataku sedikit tak jelas dari kejauhan siapakah wanita itu, tapi aku seperti mengenalnya.
Ar berlari kecil ke arahku. Dia menghampiriku dan menarik pinggangku ke arahnya. "Aku merindukanmu," bisiknya, padahal tadi pagi dia mengantarku ke toko. Aku pun tersenyum ke arahnya dan memberikan handbag berisi tupperware.
"Jadi, kita mau makan di mana?" tanyaku. Ar seperti tengah berpikir sejenak hingga akhirnya wanita yang tadi ku kenali itu datang menghampiri kami membuatku mengernyitkan alisku.
"Gina?!" pekikku dalam hati. Kenapa dia ada di sini? Please jangan bilang kalau dia memang kuliah di sini bersama Ar.
"Haiii!" sapanya seraya melambaikan tangannya. "Gimana kabar lo Sel?" tanyanya membuatku tersenyum dengan paksa. Dari tatapannya saja aku sudah tahu kalau dia memang tak pernah menyukaiku. Terlebih kalau dia memang tahu kami sudah menikah.
"Hmmm oh aku baik-baik saja. Kamu bagaimana?" tanyaku. Dia tersenyum dan mengangkat bahunya.
"Sedikit ya tak enak badan, tapi aku bersemangat sekali masuk kuliah karena..."
"Sel..." Kudengar suara Ar yang berada di sampingku. Dia seperti mengeratkan sentuhannya hingga pinggangku benar-benar dia eratkan ke tubuhnya.
"Oh ya kalian akan makan siang bersama?" tanyanya. Aku pun mengangguk dan berharap kalau dia mengerti mau meninggalkan kami sebelum hatiku benar- benar meledak.
"Aku bisa ikut?" Aku meremas tanganku kesal, tapi mana mungkin aku bilang 'tidak'. Dia akan menyangka kalau aku sangat membencinya. Itu salah. Aku hanya tak suka kalau orang ke-3 datang lagi menerjang hubungan kami.
***
Kuhela napasku dengan keras saat Ar keras kepala tetap ingin mengantarku pulang, setelah tadi kami makan bersama. Ya tentu saja wanita itu dapat bagian makanan yang kubuatkan untuk Ar dan akhirnya Ar makan berdua denganku. Sedikit melegakan hatiku karena Ar tetap bisa memelihara kemesraan kami meski di depan Gina.
Maksudku, Ar seperti sengaja memamerkan kemesraannya di depan Gina. Tapi jauh dari sana. Aku berpikir apa itu hanya buatan saja? Apa mungkin Ar masih menyukai Gina? Apa mungkin dia berusaha untuk membuat Gina cemburu dengan kami?
Aku masuk ke dalam kamar mandi setelah sampai di rumah. Ar segera kembali ke kampus dan izin kepadaku kalau nanti malam akan jaga warnet di rumah Pakde. Saat itu aku hanya mengangguk pelan mengiyakannya saja lantas mencium punggung tangannya dan dia mencium pipiku.
Tak ada penjelasan darinya mengapa Gina bisa ada di kampus. Hatiku sedikit goyah saat Ar tak menjelaskan apapun seakan dia sedang menutupi sesuatu. Tapi aku harus melupakannya. Kami sudah menikah dan aku harus percaya dengan Ar.
Kuraih sebuah kotak yang berada di tasku. Barang itu selalu aku simpan di sana. Kutatapi barang itu sekali lagi dan memastikan kembali apa aku hamil. Memang beberapa minggu yang lalu aku rutin memeriksa apa aku ini sudah hamil atau belum. Tadi pagi garis merah itu menjadi dua, tapi entah kenapa perasaanku seakan berkecamuk takut untuk hamil.
Aku memang tidak memberitahu Ar karena ya mungkin aku sedang mencari waktu yang tepat. Tadi saat aku membawa bekal untuknya. Aku berpikir bahwa waktu itu sangat tepat untuk memberitahunya. Mungkin dia akan mengajakku ke taman untuk sekedar menikmati suasana kampus yang juga aku idamkan, tapi tiba-tiba saja rencanaku berantakan semua saat Gina datang.
Aku berjalan keluar dari kamar mandi dan mendapati Ar berada di atas kasur sedang memainkan HP-nya. Aku menatapnya lekat hingga dia mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Loh kok di sini?" tanyaku bukankah dia tadi bilang akan ke kampus lagi dan menjaga warnet. Aneh!
Aku berjalan melewatinya dan menaruh test pack milikku ke dalam kotak yang khusus memang kubuatkan untuk menyimpan kejutan untuknya saat garisnya berubah menjadi positif. Kotak itu berwarna merah dengan pita berwarna emas. Ar tak pernah tahu itu apa, tapi aku ingin sekali mencari waktu yang benar-benar tepat untuk memberitahunya.
"Tiba-tiba aja perutku aku mual," katanya. Aku pun mengangguk mengerti. Bisa saja itu morning sick. Aku memang tak mengalami itu dan lebih bersyukur kalau Ar lah yang merasakannya. Setidaknya saat dia sedang mual-mual dan pening. Dia bisa berpikir kalau istrinya tengah hamil anaknya dengan begitu dia harus menjauh dari mantannya itu.
"Mau aku buatkan teh hangat?" tanyaku. Dia mengangguk dan berlari ke kamar mandi. Aku pun membiarkannya dan tak membantunya, karena masih sedikit marah akan hal menjengkelkan tadi di kampus.
Aku berjalan ke arah dapur, membuatkan teh hangat untuknya. Kudengar suara khas orang muntah. Saat mendengar itu agak lama, aku berpikir apa menjadi wanita hamil itu akan menjadi orang yang sangat sensitif. Apa mungkin aku akan terus cemburu dan selalu terbakar amarahku saat dia bersama wanita lain. Ahh itu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun Ar harus mengerti aku.
Aku duduk di ruang tamu menunggunya keluar. Kunyalakan HP-ku yang tadi sedang ku charge. Pekerjaanku memang tak selalu full di sana. Memang butik itu tak selalu ramai, tapi pesanan online akan terus berjalan dan aku hanya melayani mereka dari via online.
Aku lihat beberapa notif sedang menanyakan pesanannya yang tadi kukirim. Beberapa dari mereka meminta resinya dan sebagiannya lagi menanyakan spesifik bahan yang akan mereka pesankan. Kujawab pertanyaan mereka satu persatu hingga kudengar Ar keluar dari kamar mandi.
Dia berjalan ke arahku dan duduk di sampingku. Beberapa saat tak ada suara di antara kami karena aku fokus dengan HP-ku. Ar pun tak mengeluarkan suaranya selain meminum teh hangat yang sudah kubuatkan.
"Sel..." Ar memanggilku.
"Hmmm," tanggapku masih dengan tatapan ke arah layar HP-ku.
"Sel, aku enggak tahu kalau Gina kuliah juga di sana," katanya. Aku pun diam saja tak menanggapi.
"Sel, benaran deh aku enggak tahu," katanya lagi dan aku hanya mengangguk pelan seakan tak peduli dengan perkataannya. Entah kenapa aku tak mau membahas hal tadi. Itu hanya merusak moodku saja yang sudah mulai tenang.
"Sel..." Ar memeluk tubuhku dari samping membuatku menaruh HP-ku dan menyingkirkan tangannya.
"Kamu masih cinta sama dia?" tanyaku. Dia duduk tegak dan melepaskan pelukannya dengan mata yang melotot.
"Kok kamu ngomong gitu sih?" tanyanya dengan amarahnya. Aku pun hanya mengangkat bahuku.
"Aku kan udah bilang kalau cuman kamu yang aku cinta," ungkapnya dan tentu saja hatiku akan selalu tak karuan saat dia mengatakan bahwa dia mencintaiku.
Aku sangat mencitainya dan aku tak mau kalau perasaanku ini bertepuk sebelah tangan. Tahu seindah apa perasaan orang jatuh cinta. Aku pertama kali merasakannya ada pada Ar. Meski aku bukan yang pertama untuknya. Setidaknya aku yang terakhir untuk hidupnya.
"Kalau kita saling ragu. Orang lain pasti akan mudah menggoyahkan perasaan kita, Sel." Ar jauh lebih dewasa saat ini.
Bahkan aku merasa kalau perasaanku sendiri memang tidak boleh terpengaruh oleh orang lain. Ar benar, aku tak boleh meragukan cintanya agar kami saling bisa bertahan. Bukan hanya mempertahankan pasangan kita, tapi juga mempertahankan hati kita sendiri.
"Hmmm aku percaya sama kamu Ar," ucapku. Ar pun menangkup wajahku dan mencium keningku.
"Aku sangat mencintaimu," ucapnya.
"Aku juga," jawabku. Ar menghapus jarak kami dan menicum bibirku lembut.
***
Monday 6 June 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HEARTBEAT COMPLETED
RomanceIsi bab lengkap baca aja! Sahabat jadi cinta? Tapi kenapa Seoul harus menikahi sahabatnya yang sudah memiliki kekasih? Dia tak membalas ciumanku, tapi aku bisa merasakan tangan Seoul yang mencengkram tangan kiriku. Setelah kurasa dia tak bisa bernap...
