Seoul Arabillah POV
Aku percaya bahwa Ar benar-benar tulus melakukannya. Aku bisa merasakan gerakannya yang lembut tapi tak menuntut. Meski aku tidak tahu harus bagaimana agar Ar merasa senang, tapi Ar terlihat bahagia sekali bisa menyentuh bibirku yang baru pertama kalinya seorang laki-laki sentuh.
Dia orang yang beruntung bukan? Hmmm bukan berarti aku tak beruntung mendapatkannya yang memang sudah pernah orang lain sentuh. Semalam aku hanya merasa sangat shock. Mengapa Ar melakukannya secara tiba-tiba. Sungguh itu di luar dugaanku sendiri.
Aku ederkan mataku ke seluruh ruangan. Aku hanya mendapati sebuah bantal yang tak lagi ditempati oleh suamiku. Ya semalam kami terlalu banyak bercerita. Saling menceritakan dan tak peduli bagaimana kami yang sudah mengantuk dan akhirnya kami tertidur.
Kulihat jam di nakas ruangan Ar sudah menunjukkan pukul 5 dini hari. Ingin bangkit entah kenapa kakiku malah terasa kebas. Sesaat aku memijat-mijat asal kakiku yang terasa kebas. Tak mungkin salah posisi tidur hingga kebas seperti ini.
"Kau sudah bangun?" Kudengar suara Ar. Dia muncul dengan rambut yang basah dan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Aku pun mengalihkan pandanganku ke segala arah.
"Kenapa?" tanya Ar duduk di pinggir ranjang dan memperhatikan kakiku yang tadi sedang aku pijit. "Sakit?" tanyanya lagi dan aku pun mengangguk dengan pandangan yang aku buang entah kemana.
"Tidak apa. Hanya kesemutan," kataku seraya menggoyangkan kakiku dan menepuknya tanpa melihat Ar.
"Minggu depan padahal sudah ujian sekolah, tapi kaki kamu kalau kaya gini apa kamu tahan duduk lama?" tanya Ar. Aku pun mengangkat bahuku dan memberanikan diri mengangkat wajahku.
Ar terlihat tampan sekali. Baru kali ini aku melihatnya seperti ini. Apalagi aku baru bangun tidur. Kok terasa seperti cuci mata ya?
"Mmm kenapa?" tanya Ar saat aku terdiam memperhatikannya. Dia menunduk ke arah tubuhnya sendiri dan melemparkan pandangannya ke arahku.
"Ahhh hmmm itu..., kamu pakai baju gih," kataku salah tingkah. Mungkin wajahku saat ini sudah sangat memerah. Ar diam menatapku sejenak lantas tersenyum seraya menepuk puncak kepalaku.
"Maaf ya keliatan seksi ya aku," katanya membuatku tertawa pelan mendengarnya. Begitu juga dengan dia. Aku tahu kalau Ar mulai suka menggodaku.
Dia berjalan ke arah wardrobenya, membelakangiku yang masih duduk di atas ranjang. Setelahnya aku lihat dia memakai baju koko dan...
"Aaaaaa!!" Aku menjerit saat Ar nyaris membuka handuknya.
"Tuh kan ketahuan lihatin aku ganti baju," ungkapnya membuatku tersipu malu mendengarnya. Iya juga ya kenapa aku lihatin gerak gerik Ar.
"Antar aku ke kamar ya. Aku juga mau salat," kataku.
Dia melirik ke arahku dan tersenyum "Mau jama'ah? Aku kan imam kamu." Aku ingin sekali. Apa lagi melihat wajah Ar yang nampak senang sekali dengan kata 'imam' yang dia sisipkan di dalamnya. Akan tetapi, aku menggelengkan kepalaku.
"Mau mandi dulu. Takut kamu kelamaan nunggunya." Dia mengangguk setuju dan membuka pintu kamarnya.
"Ayo Tuan Putri," katanya seraya membopong tubuhku keluar dari kamarnya.
***
Mega tiada hentinya memelukku dan mencium pipiku. Sekarang rasanya pipiku mau penyok karena Mega, issssh aku sudah seperti bayi di matanya.
"Sel, please kek jangan sakit lagi. Gue kan khawatir sama lo," kata Mega. Dia begitu khawatir denganku dan konyolnya lagi. Mega dan juga Galih kenapa mendadak seperti kerja sama buat memasan makanan di kantin.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HEARTBEAT COMPLETED
RomanceIsi bab lengkap baca aja! Sahabat jadi cinta? Tapi kenapa Seoul harus menikahi sahabatnya yang sudah memiliki kekasih? Dia tak membalas ciumanku, tapi aku bisa merasakan tangan Seoul yang mencengkram tangan kiriku. Setelah kurasa dia tak bisa bernap...
