Chapter 12: Do it or You'll Lose it

5.2K 432 31
                                        

Arzan Rafadinata POV

Memperhatikan wajah Seoul yang bahagia dengan orang lain cukup membuatku tergores. Ada rasa yang tak bisa kuungkapkan atau tak ingin kurasakan. Kuhela napas beratku. Harusnya aku bisa menerima ini. Aku memang tidak pantas untuk Seoul. Dia begitu baik dan aku selalu saja gagal mengimbangi kebaikannya.

"Bang!" Tiba-tiba suara dari belakang membuatku kaget. "Intipin apa sih." Cleo berusaha melihat ke arah jendela yang berada di pintu menggantikan posisiku. "Kayaknya lagi ngomong serius tuh!"

"Mmm biarin aja!" jawabku dengan ketus.

Tak lama dia tersenyum ke arahku dan memukul bahuku keras. "Makanya lo! Jangan sakitin hati cewek. Giliran dia sama cowok lain, patah hati kan lo!" Cleo mulai memarahiku, lagi dan aku hanya bisa mengangkat bahuku dan memandangi Cleo yang mengambil tempat duduknya.

"Emang Seoul suka sama gue?" tanyaku pada Cleo ikut duduk di samping Cleo yang menggantungkan kakinya seraya menggoyangnya.

"Ya kalau kata Vani sih gitu. Oh ya Bang lo baca tulisan Vani yang ini deh," Cleo mengeluarkan HP-nya dari kantung celananya lantas membuka menu dan menuju galerinya.

"Ini." Cleo memberikan sebuah tulisan Vanilla yang di atas meja belajarnya.

Aku mimpi, tertidur dan tak kunjung bangun. Aku mimpi melihat sebuah portal hitam yang menakutkan. Aku mimpi seseorang mencintaiku tanpa memandangku aneh. Aku hanya bermimpi dan terbangun dari mimpiku.

"Udah bilang sama Mami?" tanyaku pada Cleo. Cleo menarik Hp androidnya dari tanganku dan memasukannya kembali ke dalam kantungnya.

"Mami malah kelihatan lebih tenang setelah baca itu," kata Cleo membuatku mengernyitkan alisku.

"Kenapa?"

"Mami bilang itu tanda bahwa Vani akan cepat bangun setelah dia terjun ke alam mimpinya."

Aku tidak mengerti dengan apa yang Cleo katakan, tapi aku yakin dengan feeling seorang ibu. Mami pasti selalu mengajak Vani ngobrol selama Vani beristirahat.

"Lo mau ngapain kesini? Mau bantu Seoul mandi?" tanyaku.

"Kalau iya kenapa kalau enggak kenapa. Emang Abang mau bantuin Kak Seoul mandi?" mendengar itu aku menengakkan tubuhku.

"Emang boleh?" tanyaku antusias dan tak lama aku terkikik sendiri melihat ekspresi wajah Cleo.

"Mesum lo ah! Kan tadi udah gantiin baju. Enggak bilang-bilang gue dulu lagi kalau mau ganti baju Kak Seoul. Kalau Kak Seoul tahu dia bisa nampar lo lagi tahu!" Mendengar itu aku hanya mendengus pelan. Wanita itu memang bawel. Cleo dan Mega nampaknya tidak jauh beda atau jangan-jangan, Cleo adiknya Mega.

Line!

Hp-ku bunyi. Aku pun mengeluarkan benda itu dari kantung celanaku. Pesan dari Galih. Oh ya aku belum meminta maaf padanya karena aku memukul wajahnya.

Kubuka isi pesan dari Galih. Sebuah foto yang menampilkan.

"Shit!!!" pekikku. Apa ini sungguhan? Gina dengan Bagas yang sedang saling tertawa. Aku benar-benar hampir meledak saat sadar Gina memakai baju yang tadi dia pakai.

Line!

Gagah: Gue liat Gina sama Bagas di restoran bokap. Gue yakin banget mereka pasti ada apa-apa.

"Shit!"

 Pantas saja Gina tidak mau aku antar pulang. Jadi, dia bersama Bagas. Aku sudah mengira kalau akan terjadi seperti ini. Bagas yang terkenal bad boy seantero sekolah dan Gina wanita tercantik di angkatanku pada akhirnya berhasil menghancurkan hatiku juga.Entah ada apa dengan hari ini. Sungguh! Ini benar-benar membuatku tidak bisa mengendalikan amarahku. Gina? Seoul? Tak ada yang bisa kugapai lagi. Aku memang laki-laki bodoh dan tidak berguna!

MY HEARTBEAT COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang