Seoul POV
Tubuhku menegang saat Ar membuka baju pasienku. Ingin membuka mataku, tapi Ar sepertinya benar-benar tulus melakukan itu untukku. Maka aku biarkan dia mengganti bajuku. Ciuman di dahiku masih membekas meskipun dia keluar dari ruangan. Jauh sebelum itu aku bisa dengar Cleo yang mengusir Ar. Apa mungkin Ar menyesali perlakuannya terhadapku?
"Seoul." Suara Alex mengalihkanku. Aku tersenyum ke arahnya lantas dia memberikan sebuket bunga mawar putih untukku.
"Oh terima kasih," ungkapku pada Alex.
"Aku pulang ya. Semoga kamu cepat sembuh," ungkap Gina memelukku lalu menepuk bahu Alex.
"Duluan ya," kata Gina. Melihat Gina aku jadi sadar kembali kenapa dia berada di sini menjengukku. Itu karena dia pacar dari suamiku. Jadi, dia menjengukku... Padahal sebelumnya kami tak pernah sedekat ini.
"Terima kasih sudah menjengukku," ungkapku padanya. Dia pun tersenyum padaku dan pergi meninggalkan ruangan.
Sesaat aku lihat orang yang berdiri di depan pintu. Oh ternyata Ar menunggunya di luar. Mungkin Gina kesini pun bukan berniat menjengukku melainkan menjenguk pacarnya yang sedang kalut dengan kecelakaan ini.
"Sel, ini titipan dari Mama." Aku lihat Alex memberikan sebuah amplop padaku. Kuhela napasku sejenak. Uang? Ya untuk pengobatanku, aku butuh uang. Aku tidak bisa membebankan semuanya ke keluarga Arzan. Akan tetapi, aku tidak bisa menerimanya.
"Tak apa aku masih punya tabungan," kataku meski aku yakin sekali keluarga Ar tak mungkin menelantarkanku. Tante Dinda pun beberapa menit yang lalu mengantarkanku bubur. Dia juga menanyakan keadaanku bagaimana. Dia tak marah padaku.
"Hei ini gajimu yang sudah mengajariku belajar." Kuperhatikan wajah Alex dengan tak yakin. Aku bahkan tak sadar mengernyitkan alisku ke arahnya. Gaji? Padahal aku selalu melakukannya dengan ikhlas, tapi Alex, Mega bahkan Galih selalu memberiku uang yang kata mereka dari orang tua mereka.
"Kalau kau mau mengajariku lagi selama UAS. Mama bilang akan menaikkan gajimu, bagaimana?" tanyanya dan aku malah tertarik dengan tawarannya. Tak buruk juga bukan. Aku malah dapat penghasilan dari jerih payahku sendiri.
"Terus Galih, Mega sama Ar gimana?" tanyaku mengingat kami sering belajar bersama.
"Kita tetap belajar bareng kok, tapi kan belajar bersama kita cuman dua kali dalam seminggu. Jadi, aku minta waktu luang sisanya ke kamu. Bagaimana?"
"Jadi, kamu minta waktu lain?" Aku lihat Alex menganggukkan kepalanya. Lantas dia seperti menunggu kepastianku.
Aku pikir ini bagus juga. Aku bisa dapat uang sekaligus belajar. Jadi, waktuku tak terbuang untuk belajar. Apalagi saat getir seperti ini pun keluarga Ar pasti banyak mengeluarkan uang untuk Vanilla yang koma.
"Baiklah," jawabku. Dia tersenyum senang lalu meraih mangkuk di atas nakas.
"Makan dulu yuk," ucapnya seraya mengaduk bubur yang tadi Mami bawa. Alex begitu baik denganku. Entah aku yang berlebihan atau memang Alex memperlakukan semua wanita sepertiku, tapi aku merasa kalau dia sangat berubah sejak kami naik kelas tiga. Dia jadi lebih memperhatikanku. Lebih sering mengirimiku pesan dan memberiku semangat. Terutama saat aku kehilangan orang yang paling berharga di hidupku—Nenek.
Alex menyodorkan sendok berisi bubur ke arahku. Aku pun membuka mulutku lebar meski sedikit malu karena Alex begitu memperlakukan layaknya anak kecil yang diberi makan dengan ayahnya.
"Jadi, apa kata dokter? Kau akan keluar kapan?" tanyanya.
"Aku juga enggak tahu, tapi Cleo bilang kalau aku akan segera keluar. Om Daniel sudah menyuruh temannya yang ahli terapi tulang untuk melakukan terapi segera," jelasku seraya terkekeh saat melihat ada tonjolan di kaki kananku. Sedikit membengkak dan cukup sakit untuk digerakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HEARTBEAT COMPLETED
RomanceIsi bab lengkap baca aja! Sahabat jadi cinta? Tapi kenapa Seoul harus menikahi sahabatnya yang sudah memiliki kekasih? Dia tak membalas ciumanku, tapi aku bisa merasakan tangan Seoul yang mencengkram tangan kiriku. Setelah kurasa dia tak bisa bernap...
