Seoul Arabillah POV
Sesekali aku meringis kesakitan dan menahan sakitku dalam waktu bersamaan. Rasanya sakit sekali. Aku meremas sofa untuk melampiaskan rasa sakitku lantas tak terasa aku menangis mengeluarkan air mataku.
"Tak apa, ini tak seburuk yang ayahmu pikirkan," ungkap Pak Hardi teman Papi yang katanya ahli dalam terapi tulang.
"Ini diminum dulu Pakde," ucap Cleo menaruh sebuah minuman di atas meja dan Pak Hardi segera meraihnya setelah dia menepuk pelan telapak kakiku bertanda sudah selesai.
Ar membantu mengangkat kakiku dari paha Pak Hardi. "Coba kau geser tubuhmu," ungkap Ar namun aku tak punya tenanga yang kuat, karena entah kenapa terapi ini menguras tenagaku.
Ar segera mengangkatku. Membantuku untuk bisa tertidur di atas sofa yang lebar. Dia terlihat sedikit lebih lembut meski belum meminta maaf sejak dua hari yang lalu pertengkaran kami.
"Jadi gimana dengan Vanilla?" tanya Pak Hardi.
"Emmm Mami udah punya rencana untuk ngerawat Vani di rumah aja," jawab Cleo.
"Apa tidak apa-apa dengan keadaannya yang masih koma?"
Aku lihat Cleo mengangkat bahunya lalu Ar datang ke arahku. Mengangkat kepalaku dan meletakkan bantal di pinggir sofa membuat kepalaku lebih nyaman.
"Emm Pakde ada kontrakan ya kata Papi?" tanya Ar dengan pakaian santainya, aku bisa melihat bahwa Ar lebih tampan. Rambutnya pun masih terlihat berantakan dan aku pastikan kalau dia belum mandi.
"Iyah ada, kenapa? Kontrakan saya enggak begitu sempit kok. Kamu mau ngontrak selama nanti kuliah? Banyak loh yang ngontrak di tempat saya yang ngampus di Universitas Insan."
Ar tersenyum seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Tangannya dia lipat di depan dadanya dan celana boxer yang menampilkan pahanya membuatku tersadar bahwa...., hmm dia suamiku. Lagi aku mengingat status kami.
"2 hari lagi saya bisa nempatin enggak Pak. Enggak perlu yang besar sih yang penting enak buat ditempatin buat 2 orang," katanya membuatku menatap Ar dengan lekat-lekat.
"Emang kamu mau tinggal sama siapa? Biasanya kalau yang ngontrak tuh minimal ada yang 4-3 orang. Kalau 2 sih ada juga kosan yang bentuknya kayak rumah gitu ada fasilitas tv juga dapur."
"Enggak ah, saya maunya ngontrak. Kasihan kalau ngekos. Nanti istri saya malah digoda sama yang lain." Aku terperangah mendengarnya. Kulihat Ar tak menolehkan kepalanya ke arahku. Setelah dia menyakitiku kemarin. Sekarang dengan entengnya dia memujaku lagi.
Sebenarnya apa sih yang dipikiran laki-laki seperti Ar. Dia tuh labil sekali. Aku sampai tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadapnya. Bahkan saat terakhir kemarin kami bicara di kamar. Dia seperti menganggap omonganku itu seperti angin lewat.
"Oh jadi kalian sudah menikah?" Pakde melirikku dengan jahil. Dia tersenyum usil ke arahku layak mengedip-ngedip membuatku risih melihatnya.
"Iya kami sudah menikah. Jadi, gimana Pak? Saya bisa kan ya isi kontrakan Pakde."
"Oh ya bisa, biar nanti sama si Ibu dibersihin dulu."
"Makasih ya Pak," ungkap Ar lalu berdiri dari sofa dan berjalan ke arah belakang yang bisa aku tebak kalau dia mau mandi.
"Bang jadi mau latihan futsal?"
"Iya jadi. Sekalian antar Pakde pulang sama mau liat kontrakan."
Kuhela napasku kesal. Kenapa Ar seenaknya menentukan ini-itu dengan sendirinya. Memang dia sudah bicara dengan orangtuanya. Dia juga tak bicara apapun padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HEARTBEAT COMPLETED
RomanceIsi bab lengkap baca aja! Sahabat jadi cinta? Tapi kenapa Seoul harus menikahi sahabatnya yang sudah memiliki kekasih? Dia tak membalas ciumanku, tapi aku bisa merasakan tangan Seoul yang mencengkram tangan kiriku. Setelah kurasa dia tak bisa bernap...
