Chapter 23: Surprise Gift

4.9K 372 44
                                        



Seoul Arabillah POV

Saat aku menangis entah kenapa para polisi itu malah menyerangku. Mereka membekapku dan aku dibius dengan mereka. Tangisanku saat itu mungkin langsung berhenti saking terkejutnya dan aku tak ingat apa-apa lagi selain menangis di sebuah kegelapan yang membuatku buta melihat segalanya.

Saat aku menangis meneriaki nama Ar ada seorang bertubuh besar menarik tanganku. Dia menyeret langkahku yang terseok dan mendorongku entah ke mana. Hanya saja saat aku menangis seseorang dengan wangi tubuh yang aku kenali itu mendekatiku.

Kucoba untuk meraba wajahnya apa itu sungguhan Ar, suamiku dan ternyata itu benar Ar. Kami langsung memadu cinta bersama dalam kegelapan. Aku memeluknya erat dan dia tak ada hentinya menghujamiku sebuah ciuman.

Aku tak bisa berpikir apapun untuk hal yang tak berguna karena saat ini aku hanya berpikir bahwa Ar sangat berharga untukku. Tak ingin waktu memisahkan kita. Aku hanya peduli dengan tangan Ar yang sangat lembut.

"Tidurlah, aku akan menjagamu," katanya, tapi aku takut kehilangannya.

"Tidak mau. Aku takut kalau aku tidur, kau meninggalkanku," kataku pada Ar. Meski di kegelapan seperti ini, aku berusaha mengingat-ingat raut wajah Ar yang tampan. Kucoba untuk menyentuh setiap urat di wajahnya dan aku merasa jantungku berdetak sangat kencang. Mungkin saking kencangnya aku malah merasa bahwa aku akan mati.

"Ar..."

"Hmmm kenapa, Sayang?" tanyanya semakin membuatku dadaku bergetar karenanya.

"Ini hari ulang tahunmu," kataku.

"Kau ingat ini hari ulang tahunku?" Aku rasakan pergerakanannya. Dia mungkin sekarang sedang memiringkan tubuhnya ke arahku. "Ahh sudah kuduga kau pasti pura-pura lupa benar kan?" tanyanya lagi dan aku tertawa seraya mengecup bibirnya sekilas.

"Hanya berpura-pura, tapi aku tidak tahu kalau saat aku menunggu kedatanganmu untuk memberikan hadiah. Aku malah mendapatkan sebuah hadiah darimu."

"Aku? Memberikanmu hadiah? Hadiah apa?" tanyanya.

"Kata polisi itu kau meninggal karena kecelakaan," ungkapku dan terus terang saja aku tidak ingin mengingat hal-hal yang membuatku frustasi setengah mati. Mana bisa mereka bicara bahwa Ar sudah mati. Jelas-jelas suamiku ini masih hidup.

"Ahh benar aku juga merasa kalau aku ini sudah mati dan bertemu dengan bidadari cantik sepertimu," gombalnya. Aku terkekeh mendengarnya dan mencubit pinggangnya.

"Awww Sel sakit," ringisnya marah padaku. Namun, aku kembali tertawa.

"Siapa suruh ngegombal," kataku mencebikkan bibirku yaaa meski dia tak melihatnya, tapi Ar memelukku.

"Kau memang bidadariku. Kenapa aku harus berbohong padamu hmmmm?"

Aku mengangkat bahuku, tapi Ar masih dengan posisinya. Bahkan sekarang dia sedang mengelus perutku seperti aku yang sedang mengandung.

"Jadi apa kado darimu?" tanyanya.

"Hmmmm ada 3 tiket dariku dan karena aku rasa keberadaanmu sangat spesial. Aku akan memberikan satu tiket lagi." Ar terdiam tak menjawab, tapi aku merasa bahwa dia masih mengelus pelan perutku. "Kamu bebas meminta apa saja dari ke empat tiket yang akan aku berikan."

"Aku..., hmmm sebenarnya aku tak perlu tiket itu untuk hadiahku," katanya.

"Lalu? Kau mau apa dariku?"

"Hanya satu, tapi mungkin kau tak akan langsung memberikan itu padaku," ucapnya membuatmu mengernyitkan alisku. Jangan bilang kalau seorang bayi? Bukankah saat kami menikah dia bilang tidak berpikiran untuk itu dulu sampai kami benar-benar lulus kuliah.

MY HEARTBEAT COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang