Chapter 3: I'm Draving Crazy

6.5K 504 9
                                        


Seoul Arabillah POV

Semalam sewaktu Ar membuka kamarku. Dia terlihat seperti orang yang benar-benar terkejut karena melihatku tanpa kerudung. Awalnya saat dia mengetuk pintu. Aku memang sudah siap-siap ingin membukanya. Namun, saat aku sudah siap menarik kerudungku. Cleo malah menekan bahuku untuk tetap duduk. Dia juga memaksaku untuk tidak menggunakan kerudung saat di kamar.

Saat aku tahu Ar ternganga di depan pintu. Aku rasa, Cleo memang sengaja menyuruhku tak pakai kerudung. Karena setelahnya Cleo tertawa dan mengatakan. "Aku pastikan dia tak bisa tidur," katanya padaku dan aku hanya menggeleng dan merasakan pipiku merah sekali.

Aku merapikan kerudung di depan cermin. Sedikit mengoles bedak bayi sebelum memakai kerudung, meski malah terlihat semakin pucat. Namun, aku tersenyum meraih minyak wangi agar tak terlihat sedikit, yaps... tidak mandi pagi heheheh. Badanku masih sedikit demam, tapi tak separah seperti malam. Ingin mandi pagi rasanya kalau dipaksakan pun tak baik. Jadi, aku memilih untuk tidak mandi, tapi tetap cuci muka dan juga sikat gigi.

Setelah semuanya rapi. Aku pun keluar dari kamar. Aku sedikit kaget saat membuka pintu menemukan Ar yang sedang menggerakkan tangannya ingin mengetuk pintu. Sekarang dia menurunkan tangannya dan terlihat sedikit gugup juga menggaruk tengkuknya. Kenapa? Dia tak pernah terlihat secanggung ini sebelumnya. Rasanya setelah ikatan pernikahan itu ada, dia terlihat aneh sekali.

"A-apa kau sudah baikan? Kau serius ingin sekolah hari ini?" tanyanya dan dengan sedikit ragu dia menaruh punggung tangannya di keningku lantas berdecak pelan memasukkan tangannya ke dalam kantung celana.

"Kau tahu? Kau masih demam!" Kini dia tak terlihat canggung, tapi tatapan matanya menggambarkan kekhawatirannya padaku.

"Tidak Ar, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Justru kalau aku terus di kamar. Sakitku akan semakin parah," kataku.

Aku lihat dia menghela napas beratnya kemudian matanya melirik ke arahku dari bawah hingga ke atas. "Ini pakai aja." Dia memberikan mantel merah miliknya padaku.

Tentu aku tak menolak karena ya..., aku hanya memiliki sweater peninggalan nenek yang sudah kusam. Tak mungkin pula aku memakainya ke sekolah. Itu pasti akan mengundang pertanyaan Mega dan juga sahabatku lainnya. Kenapa sweater lusuh masih dipakai.

Oh ya bicara tentang Mega aku jadi ingat pesanan buku yang dia mau pinjem pada Ar. Ar berjalan meninggalkanku menuju anak tangga. Aku pun mengikutinya dari belakang. "Ar bagaimana buku Sherlock Holmesnya? Mega kan mau pinjam," kataku seraya menuruni satu persatu anak tangga. Kemudian belok ke arah kanan menuju ruang makan.

"Aku sudah membawanya di tas. Tenang saja," katanya dan aku pun mengangguk pelan di belakangnya.

Kulihat Tante Dinda, ibu mertuaku sedang sibuk di dapur. Cepat aku menaruh tasku di kursi meja makan dan menyapa Om Daniel sejenak. "Pagi Om," kataku dan Om Daniel terlihat menurunkan korannya kemudian tersenyum ke arahku.

"Kau sudah baikan Sayang?" tanyanya sangat perhatian padaku. Dia terlihat seperti memperlakukan aku lah anak sungguhannya.

"Sebenarnya belum Pi." Ar mengambil alih jawabanku. Aku pun hanya bisa tersenyum sekilas seraya menuju ke dapur berniat membantu Tante Dinda. "Tapi ya gitu deh. Dia kan emang maunya belajar terus. Enggak kayak Cleo, malas dan oon!" Kudengar suara Ar sedikit memojokkan Cleo adiknya.

"Apaan sih, Bang. Cleo mulu," keluh Cleo yang nampaknya baru akan bergabung duduk di kursi ruang meja makan

"Kamu udah baikan Sayang?" tanya Tante Dinda lagi padaku. "Ahh maaf, bisa ambilin piring?"

MY HEARTBEAT COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang