Chapter 24: Baby

5.3K 431 26
                                        


Arzan Rafadinata POV

Aku tersenyum memperhatikan wajah Seoul yang tertidur tenang di jok sampingku. Kami sudah menuntaskan UN beberapa bulan yang lalu. Perpisahan kami dengan sahabat kami seperti menyisakan sebuah kenangan yang tidak akan pernah bisa aku lupakan, terutama Alex yang sudah pergi ke New York untuk meneruskan ke jenjang selanjutnya.

Kepergian Alex memang seperti tak mengisahkan sebuah cerita yang menyedihkan, tapi bagiku kepergian Alex seperti memberi sebuah kenangan yang sangat tragis. Kalian tahu kenapa? Itu karena Alex pergi tanpa izin dengan kami sebelumnya. Dia pergi tak memberikan kabar dan saat hari perpisahan tiba. Dia tak datang ke tempat yang sudah kami janjikan dari awal usai UN.

Kami akan merayakannya di restoran milik keluarga Galih, tapi Alex tak datang pada hari itu. Seoul terlihat sangat kecewa dengan Alex. Dia seperti merasa bersalah dan berpikir bahwa kepergian Alex yang tanpa izin itu semua karenanya.

Sekarang aku sedang menuju perjalanan ke rumah. Mami bilang Papi sakit ingin bertemu denganku. Ya memang aku sudah cukup lama tidak ke rumah, karena sibuk mengurus beasiswa milikku dan juga Seoul. Aku dan Seoul akan masuk bersama ke universitas yang jaraknya sangat dekat sekali dengan kontrakkan kami dan aku dengar Galih juga Mega mengambil universitas yang sama.

Ya maksudku tahu sendiri Galih memang suka dengan Mega tapi belum sempat menyatakannya. Jadi, aku pikir Galih memang mempunyai rencana untuk menembak Mega setelah kami kuliah. Meski aku tak yakin Galih akan tetap menyukai Mega setelah nanti di kampus akan ada banyak sekali perempuan yang lebih cantik dan seksi dari Mega. Tahu sendiri Galih itu anak yang paling nyeleweng antara aku dan juga Alex.

"Sayang kita udah sampai," kataku seraya memberhentikan mobilku di depan rumah yang sangat kurindukan.

"Hmmm..." Seoul terlihat menggeliat hingga akhirnya aku lihat gerbang terbuka menampilkan wajah semringah dari Cleo.

"Kita sudah sampai. Ayo bangun," kataku pada Seoul. Dia mulai mengerjapkan matanya terihat masih mengantuk. Namun beberapa detik kemudian dia sudah siap untuk keluar.

"Kok gerah banget ya," kata Seoul seraya mengibaskan kerudungnya. Aku tersenyum pelan seraya mengeluarkan tisu dari laci dashboard.

"Kamu kan tidur, AC-nya juga aku kecilin sedikit takutnya kamu kedinginan," kataku menjelaskan padanya dan membantunya mengusap air keringat.

Lalu aku keluar dari mobil meninggalkan Seoul yang masih di dalam mobil. "Cielah pasangan yang bahagia."

Kedatanganku langsung disambut dengan Cleo yang memang JONES. Ya aku bilang JONES karena memang kenyataannya seperti itu. Cleo hanya jomblo ngenes yang iri padaku. Aku dan Vanilla sudah punya orang yang bisa digandeng sementara Cleo masih sendiri.

Oh ya Vanilla sudah punya kekasih yang sangat tampan, bahkan ototku tidak ada apa-apanya dengan pria itu. Aku rasa dokter muda itu memang sangat menyukai adikku. Dia benar-benar menjaga Vanilla sejak Vanilla siuman. Saat ini kondisi Vanilla pun jauh lebih baik. Meski umur mereka terpaut cukup jauh, tapi Vanilla sebenarnya lebih dewasa dari kami; para kakaknya.

"Papi mana?" tanyaku pada Cleo seraya masuk ke dalam rumah setelah melepas sepatuku. Aku dengar Seoul menutup mobilku dan menghampiri aku.

"Ada di kamar lah. Sana temuin gih berdua. Papi kan mau ketemu kalian," kata Cleo.

Waktu Mami mengirim pesan via Line dan memberitahuku Papi sakit. Aku sangat khawatir sekali mengingat umur Papi yang memang sudah tua. Papi dan Mami beda 15 tahun dan itu sangat membuatku takjub bagaimana mungkin wanita secantik Mami mau sama om-om tua kaya Papi ya meski Papi terlihat awet muda sih.

Ya aku juga tahu kalau aku ini anak... Ya, Mami hamil di luar nikah. Karena itu aku menikahi Seoul takut hal yang pernah terjadi dengan Papi dan Mami terjadi juga padaku.

MY HEARTBEAT COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang