9th POLE
~~||~~
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Inara sudah mulai bisa menerima kenyataan bahwa ibunya akan menikah lagi. Hubungan ia dan ibunya juga sudah membaik.
"Inara cuma kecewa, Ma. Sedikit pun mama nggak nanya dulu gimana pendapat Inara."
"Mama minta maaf, Inara. Semua mama lakuin buat kebaikan kita semua."
Inara menghembuskan napas dan memeluk ibunya, tak menghiraukan rasa sakit di lututnya. "Asalkan mama bahagia. Yang penting, jangan lupain papa, Ma. Bilang ke Inara kalo mama perlu apa-apa. Inara juga anak mama. Bukan Kak Naya doang." Inara tergelak. Ia baru mengetahui bahwa ibunya sudah lama bercerita perihal rencana pernikahan ini kepada Naya. Hanya ia dan Gafar yang baru mengetahuinya sekarang.
"Cie, si bungsu cemburu rupanya!" goda Naya.
"Becanda kali, Kak," ucap Inara.
"Makasih, Nak," ucap Tyas haru.
Gafar dan Naya beranjak dari tempat duduknya dan ikut berpelukan dengan ibu dan adik bungsunya.
Selama seminggu ini pula, Inara lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Ketika jam bubaran sekolah, Inara akan langsung beranjak dan pulang dengan Gafar yang sudah menunggu di gerbang. Inara izin dalam semua ekskul yang ia ikuti. Gadis itu juga tidak nampak ketika pertemuan Blackpole.
"Gue nggak tahu juga. Ngapain tanya gue?!" Begitu yang diucapkan Rahagi ketika anggota Blackpole yang lain menanyakan Inara.
Siang itu, Inara tengah menghabiskan jam istirahatnya di kantin bersama Gala dan Sabrina, seperti biasanya.
"Na. Lo kenapa, sih?" tanya Sabrina.
Gala mengangguk. "Cepet banget ilang dari peradaban sekolah."
"Nyokap gue banyak kerjaan. Gue harus bantu-bantu di rumah," jawab Inara. Akhir-akhir ini, ibunya memang sibuk mengurus pernikahan yang sudah tinggal tahap finishing.
Belum lagi, urusan butik yang sangat memusingkannya. Inara kasihan ketika pagi melihat ibunya tertidur pulas. Padahal, sebelumnya Tyas selalu bangun pagi untuk memasak sarapan.
Jam sembilan pagi, wanita itu berangkat kerja ke butik miliknya yang dekat dari rumah. Nantinya, jam empat Tyas pulang untuk memasak makan malam. Jika pesanan baju banyak dan memaksanya untuk lembur, Tyas akan kembali ke butik hingga pulang jam sembilan.
Tyas sudah mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantunya membersihkan rumah, mencuci, dan menggosok pakaian. Namun, untuk urusan memasak, Tyas memilih untuk turun langsung ke dapur. Ia sangat memperhatikan gizi anak-anaknya.
Untuk itu, sejak kecil, ia mengajari Naya dan Inara memasak. Ia ingin anak-anaknya seperti dirinya.
Hal itu rupanya berguna dalam waktu-waktu seperti ini. Naya dan Inara sudah membagi tugas. Naya bertugas membuat sarapan, sedangkan Inara bertugas membuat makan malam.
"Wih, calon ibu rumah tangga yang baik," tutur Sabrina.
"Oh, iya dong," jawab Inara sambil tersenyum geli.
# # #
Hari ini, hari diselenggarakannya resepsi pernikahan Tyas dan Wira. Kemarin mereka sudah resmi dan sah menjadi sepasang suami istri. Resepsi dilaksanakan di ballroom sebuah hotel berbintang. Semalam, Wira menyewa tiga kamar di hotel ini. Satu kamar untuk dirinya dan Tyas; satu kamar untuk Rahagi, Bayu, dan Gafar; dan sisanya untuk Naya dan Inara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antipole
Teen Fiction•Completed• Kita ada di kutub yang berbeda. Sekolah yang terkenal disiplin dan memiliki segudang prestasi bukan tidak mungkin memiliki murid yang nakal dan pembangkang. Luarnya memang begitu, tetapi dalamnya siapa yang tahu? Inara tidak terl...
