Song of this chapter :
Rock Mafia-The Big Bang
***
Gigi's POV
Ada suatu kebanggaan berdiri dengan kakiku, di sisi seorang rider terkenal. Dani Pedrosa, ia tengah mendapat sorot kamera dan otomatis aku tersorot pula.
Mengumbar senyum ramah, seperti yang seharusnya. Detik itu juga, mataku langsung mengarah pada Juliane. Mengerikan. Betapa aku ingin menendangnya pergi. Aku bertanya-tanya bagaimana rasanya jika seandainya akulah yang berada diposisinya. Rasa bangga pasti lebih besar.
Berdekatan dengan seorang Marc Marquez. Memegang payung, mengenakan baju seksi, dan tersenyum ramah pada kamera tepat disisi Marc.
Oh, aku tidak ingin sebatas memimpikan itu. Tanpa ku sadari, perlahan aku menundukkan kepala. Memikirkan segala cara agar keinginanku itu bisa terjadi. Seolah hanya hidup untuk itu. Dan untuk mencapai posisi itu. Rasanya aku nyaris gila.
"Gigi," panggil seseorang yang sangat ku kenal suaranya dan ku rindukan keberadaannya.
Marc! Aku membelalakkan mataku. Setengah tak percaya bahwa pria itu kini mencengkram bahuku dengan tangan kekarnya. Membalik tubuhku untuk berhadapan dengannya. Lengannya mendorong maju punggungku. Membuat tubuhku kini benar-benar tak memiliki jarak sedikitpun dengan tubuhnya. Kenapa bisa seperti ini? Apa yang akan Marc lakukan? Seharusnya ia berada di atas motornya dan bersiap-siap! Race akan segera di mulai.
Ku dapati matanya berbinar, menatapku. Ada perasaan takut, bingung, dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. Jantungku berdegup kencang ketika melihat Marc perlahan memajukan wajahnya ke wajahku. Oh, tidak! Apakah ia hendak melakukannya? Menciumku di depan publik? Tapi bagaimana bisa seperti ini? Jujur dalam hatiku yang paling dalam aku menginginkan moment ini terjadi sedari dulu. Tapi haruskah sekarang dan disini? Di sirkuit? Ketika race hendak dimulai.
Aku tidak dapat berpikir jernih detik ini dan aku tidak mau. Hanya ingin membalas apa yang ia beri. Aku rasa ini adalah ide buruk. Berciuman di muka umum. Ia akan jadi bahan bicaraan dan topik hangat. Tapi melihat kini matanya terpejam, seolah tak perduli hanya menikmati. Membuat tubuhku melemah dan pasrah. Lagipula inilah yang selama ini ku tunggu darinya.
Hanya berselang beberapa detik. Sontak mataku terbelalak, mendapati sosoknya lenyap sekejap mata. Celingak-celinguk mencarinya. Ku dapati ia tengah berlarian kecil ke Paddocknya. Apa maksudnya ini? Beraninya ia! Menciumku tanpa permisi, kemudian pergi begitu saja. Wah, sopan sekali!
Meletakkan payungku di sembarang tempat, meninggalkan sirkuit dan juga Dani Pedrosa. Berlari mengejar Marc, yang kini tengah berlarian kecil menerobos tim mekaniknya di depan Paddock.
Marc, kau menggelikan. Menyebalkan, aku terus berlari kesana dengan frustrasi, tanpa memperdulikan riuh penonton yang baru melihat itu. Marc paling bisa membuatku dalam posisi malu ingin menamparnya dan senang ingin menciumnya lagi dan lagi.
Di Paddock. Ku lihat dari balik bulu mataku, ia tengah duduk di singgasananya, memunggungiku. Aku berjalan perlahan mendekatinya, sedikit tampak seperti penguntit. Karena kini Marc tampak sibuk berbicara serius dengan tim mekaniknya, ia menyibakkan tangannya ke udara sesekali, begitulah caranya ketika mengobrol soal mesin ataupun sirkuit, yang aku hanya tahu sedikit tentang itu. Yang kini ku tahu adalah aku harus membalasnya.
Membalik kursi hitamnya dengan gerak cepat. Menangkup wajahnya sembari memejamkan mataku. Dan ketika aku membuka mata untuk pertama kalinya, aku dapati kursi ini telah kosong. Menegakkan kembali tubuhku. Ini sedikit membingungkan. Marc menghilang lagi seperti hantu.
Kini aku tak tahu ia berada dimana, berlarian kecil keluar dari Paddock. Mataku menangkapnya tengah berlarian kecil naiki tribun penonton. Apa maunya!? Ia ingin mempermainkanku? Itu sungguh tidak lucu!
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITE. (Marc Marquez)
FanfictionCerita tentang cinta beda agama. Iremos a un Hotel (Kita pergi ke Hotel) Iremos a cenar (Kita pergi makan malam) Pero nunca iremos juntos al Altar (Tapi kita tidak bisa pergi ke Altar bersama) ©IGNITE. released... Marc Marquez Fanfiction All about m...
