Chapter 22

185 17 7
                                        

Special Chapt. ViaSyah0393 yang sabar nungguin. :-)
***




Luca's POV



Selama perjalanan aku tidak memikirkan apapun, kecuali apa yang akan terjadi setelah ini. Setelah aku merangkak keluar dari mobil, dan menghampirinya.






Ia telah berdiri disana. Mengenakan jaket hitam tebal, bersandar pada pilar sambil bersedekap. Dalam sedikitnya cahaya di area parkir ini, aku yakin bahkan itu benar-benar dia, dengan rambut kritingnya.








Vale tampak lebih frustrasi dari sebelumnya, melarikan tangannya kerambutnya, dan kemudian merenggut ponsel di saku jaketnya. Saat itu pun matanya baru berhenti memendar ke sekitar, mencari-cari. Beralih penuh pada ponselnya. Tak berselang lama, aku tersentak oleh getaran tiba-tiba dari ponsel di saku celaku. Aku enggan mengeceknya, itu sudah pasti Vale.



Sedikit keberanian saja. Mungkin hidup bisa berubah.









Saat Vale menatapku berjalan kearahnya, ia tak berkata apapun hanya menukikkan alisnya, membalikkan punggung, dan berjalan masuk kembali.





Hotel tampak lengang. Sepi. Aku yakin Vale yang borjuis tak akan mau tinggal di hotal murahan seperti ini, jika saja tidak ada yang mendesak. Ya, lebih tepatnya aku yang telah mendesaknya untuk segera bertemu.









Tak sepatah katapun darinya untuk menyambutku, yang ia lakukan malah menyambut teleponnya yang baru saja masuk dengan wajah masam. Suasana hatinya sedang tidak baik, seperti biasa. Keningnya mengerut, tak banyak yang ia katakan, sejauh ini ia hanya membiarkan lawan bicaranya menguarkan kata-kata yang bahkan aku tidak dapat mendengarnya. Kendati kini kami berdiri sejajar, menunggu pintu elevator di depan kami terbuka.









Kekakuan kami semakin jelas, direnggut oleh kedewasaan. Vale bukan lagi sosok kakak yang sering menjahili adik kecilnya, kini ia telah merombak dirinya sendiri menjadi orang bijak yang suka memberi wejangan-wejangan. Dan aku ingin tahu apakah ia tahu bahwa itu lebih mengganggu dari keusilannya dulu.









"Ya, ya. Sudah dulu.. Nanti hubungi aku lagi, jika kau sudah dapat jadwal pasti." Ucapnya tertuju untuk seseorang yang entah siapa. "Jangan bertele-tele, Dave. Kau tahu balapan minggu depan."








Dengan terputusnya sambungan telepon, detik kemudian pintu elevator pun terbuka. Kosong. Akan hanya ada kami berdua. Baguslah. Kami langsung merangsek masuk tanpa ada yang mengintruksi.







"Lantai berapa?" tanyaku yang berdiri bersandingan dengannya.








"Enam." Jawabnya, bergerak menaruh telepon genggamnya di saku jaketnya.








Detik-detik ini terasa menyitaku. Di ruang persegi panjang ini, aku seolah melupakan sesuatu. Napas tersengal. Aku menatap diriku. Iba. Di depanku berdiri seorang pria jangkung berambut pirang. Dia menatap, dan tatapannya itu seolah sedang bertanya-tanya.







Dia sudah dewasa sekarang. Tidak ada yang tahu. Dan tidak pernah didengarnya ada yang bertanya. Sebenarnya ingin jadi apa dirinya? Yang mereka katakan saat melihatnya hanyalah:








'Wow, kau sudah besar sekarang. Dulu tinggimu hanya seketiak kakakmu, sekarang ia seketiakmu. Hahaha. Kau akan jadi Valentino Rossi berikutnya.'








Aku menatap nanar pantulanku sendiri. Sedikit ke kiri, tampak sosok Vale yang berdiri seperti mayat. Ia mendongak menatap pada lantai berapa ia sekarang. Dan detik berikutnya ku dengar ia berdecih.






"K-kau sudah membaca pesanku?" tanyaku, dan aku hanya berani menatapnya dari pintu elevator itu.







"Ya. Baiklah sobat jika itu keputusanmu, walaupun ku rasa itu terlalu gegabah, kau masih sangat muda.. untuk menikah."







"Dia... tidak sedang hamil besarkan??" tanya Vale, ku dengar ia tergelak.









"Tidak." sungutku, aku meliriknya sekejap. Sungguh aku tidak percaya apa yang mendasari pertanyaannya itu. Apakah aku terlihat sebrengsek dia?









"Baguslah. Karena aku tidak ingin kau dibodohi oleh seorang wanita. Kau tahu, barangkali dia tidak sedang mengandung anakmu." Jelasnya, sebelum tergelak singkat. Mendengar itu cukup membuatku enggan menyahutinya. "Kau sudah membicarakan ini pada ayah dan ibu?"









"B-belum."








Vale mengumam. "Jadi aku orang pertama yang kau beritahu."








Aku mendengus, pelan. "Ada yang berubah setelah aku menikah.. dan aku harap kau baik-baik saja."








Sontak Vale menoleh ke arahku. Matanya berpendar ingin tahu, sedang aku masih bertahan menatap pantulan diriku sendiri di sana. Aku sudah lama tidak mempedulikan diriku sendiri. Sudah lama sekali. Aku sudah terlalu lama diam dan mengiyakan. Sedangkan keputusan-keputusan besar mereka terhadapku, berakhir dengan menghancurkanku sendiri. Dan yang mereka katakan hanyalah 'belajarlah lebih pada kakakmu'







Sedikit keberanian saja. Mungkin hidup bisa berubah.







IGNITE. (Marc Marquez)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang