Chapter 13

584 55 12
                                        

Song of this chapter :
Chainsmokers-Closer

 
***

Marc's POV

Lima benua, tujuh samudera, seratus sembilan puluh tujuh negara, tiga ratus sembilan puluh sembilan, dan tujuh miliyar manusia. Dan aku seorang Marc Marquez Alenta. Aku sendirian. Merasakan kesepian demi kesepian yang samar, ketika gelak tawaku dan mereka mulai lenyap, dan gurauan yang kami lontarkan sedari tadi tanpa henti kini menemukan jeda.

Mata hitamku menerawang jauh akan sesuatu pemikiran irrasional. Tentang aku yang akan jadi Marc seperti ini selamanya. Tak pernah menua, tak luput dari pandangan binar kagum mata para penggemarku. Selamanya muda, tergelak tawa dan terus tergelak.

Tapi, rasanya itu semua tidak benar.

Dan benar, disaat itulah hatiku kalut dan bingung. Kini desau angin Pantai Ibiza bak menyusup ubun-ubun kepalaku, turun kebawah, dan memberi hawa dingin tepat di ulu hatiku.
 
 
Jejak gelak tawa renyahku, berhasil menghangatkan suasana sore menjelang malam kini di Pantai Ibiza bersama mereka. Semua dari kami terdiam tanpa ada yang mengomandoi, menatap kosong pada nyala perapian, atau mungkin pada percikkan apinya. Entah apa yang ada dibalik otak mereka,  mungkin sebagian mereka tengah merangkai sebuah joke untuk kembali menghidupkan suasana, atau mungkin mereka hening terdiam kini lantaran hanya ingin menikmati langit oranye kemerah-merahan yang kini berubah menggelap tak perduli tentang siapkah kami akan itu. Lukapun ada sembuhnya, mudapun ada tuanya. Tak seorangpun mampu menghentikan waktu kendati dengan semua uangnya.

Aku kaya, tapi aku miskin.kenyataannya.
 

  
Aku mengerjapkan pelupuk mata, menunduk pasrah, dan menyungging senyum lebar tanpa alasan. Oh, tuhan.. Hanya kau yang tahu, berapa kali aku ingin berkeluh kesah tapi aku malah membuat orang sekitarku tertawa bahagia. Sesekali aku ingin menjadi egois, Tuhan. Aku ingin bahagia. Aku ingin membahagiakan diriku sendiri. Dan detik ini seolah aku tahu apa yang harus ku lakukan untuk itu.  
 

"Dimana Diana?" Bisikku pada Alex, yang duduk di batang pohon tumbang tepat disebelahku.

Sontak Alex mengernyitkan dahi, memutar bola matanya dariku, dan berdecih tak jelas. "MANA AKU TAHU??" Semburnya.

Tanpa mengatakan apapun, aku langsung melengang pergi, menjauh dari perapian, meninggalkan tim mekanik dan keseluruhan tim Honda. Ya, merekalah teman yang ku punya, sejak aku meninggalkan kampung halaman, Cervera.
 
 
   
"Marc, kau mau kemana?" Tanya Tuan Santi.

 
"Hanya mencari angin." Jawabku sambil tersenyum, sungguh jawaban yang tidak masuk akal. Tuan Santi mengangguk, dengan persetujuan itu aku langsung memutar tumit dan melangkah pergi.
  
  
 
Mencari angin? Kenyataannya aku mencari Diana. Wanita berkerudung itu sudah sedari dua jam yang lalu menghilang. Terakhir kali aku melihatnya, ia tengah terdiam mematung dalam waktu yang lama, menatap jauh laut biru yang tiada ujungnya. Tetap berdiri tegap dengan kaki telanjangnya, seolah menantang kencangnya angin pantai yang semakin liar menyibak-nyibak ujung kerudungnya. Ia berkibar jauh didepan sana, sedangkan aku menatapnya dengan hati berdesir, tak jauh dibelakangnya, dan tentu tanpa disadarinya.
 

 
Aku punya segalanya, Diana. Aku dapat membeli apapun yang ku mau, mendapatkan apapun yang ku butuhkan dan yang ku ingin.

Tapi tidak dengan engkau.

Mungkin lantaran.. Kau bernyawa. Tapi ku pikir tak hanya itu.

 
Dan yang membedakan kau dengan semua wanita yang pernah ku temui adalah lantaran kau bermatabat, walaupun tiada perhiasan mewah melingkar dileher ataupun pergelangan tanganmu, tiada pemerah bibir di bibirmu

IGNITE. (Marc Marquez)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang