Chapter 16

608 45 8
                                        

Songs of this Chapter :
Avril Lavigne-When you're gone

CD9-Me Equivoque

***


Diana's POV


Aku merindukanmu, Jupri. Aku ingin ceritakan segalanya yang telah ku lewati disini. Mulai dari bertemu banyak orang Spanyol yang baik, mengenal kakak beradik yang memiliki kepribadian yang kontras dan saling bertentangan, sampai disaat membantu seorang pemuda yang terluka di elevator yang macet, hingga akhirnya dibantu pula oleh pemuda itu untuk menemukanmu di Ibiza ini.


Betapa kata kebetulan itu ada. Bahkan aku telah merangkai rentetan ceritanya dipemikiranku. Aku ingin walaupun kau tidak disisiku disaat-saat itu, setidaknya kau tahu bahwa aku baik-baik saja, hanya saja aku selalu.. sangat merindukanmu.

"Diana? Got a daydream, huh?" tanya Luca, membuyarkan lamunanku.


Aku tersenyum kaku, menyadari bahwa sedetik yang lalu aku hanya sibuk dengan diriku sendiri. Tentu, merindukan Jupri tak akan pernah ada akhirnya.

"Maaf." jawabku singkat, memperhatikan Luca yang sedang menggerakkan stir dengan mahirnya.


Mobilnya terus melaju. Kami selalu hening karena kami memang tidak pernah menemukan gagasan tentang topik pembicaraan yang tepat. Disaat itulah aku begitu ingin menyalahkan diriku sendiri.

Ayolah Diana! Putar otakmu! Berpikirlah!

"Eh, Luca?" panggilku tiba-tiba, yang entah mengapa tampak mengejutkan bagi pria berambut pirang itu.


Aku tahu, aku memang harus mengajaknya berbicara, dan sedikit menghilangkan keegoisanku yang begitu terobsesi untuk segera bertemu Jupri.

"What kind of song do you like?"

"Let me think.." Luca menggumam, aku dapati ia menyeringai. Oh tidak! Apa artinya itu? Apa itu semacam pertanyaan bodoh baginya? Jujur, aku tak nyaman dengan seringaiannya.



"I'll show you." jelas Luca, yang sampai detik lamanya tak dapat tercerna dipemikiranku. Alhasil, aku hanya dapat mengernyitkan dahi, menyaksikan mobilnya mulai menepi ke trotoar dan berhenti disebuah tempat, tentu bukan POM Bensin, tempat itu tampak seperti Restauran, bukan sembarang Restauran, ku rasa. Lagi, tertulis disana 'Muños Restaurate'.


"Come with me." ajaknya datar, bergerak membuka pintu, dan merangkak keluar.


"J-jup.. Jupri, in there?" tanyaku terbatah-batah. Tetapi tidak digubrisnya. Jupri disana?


Langkah kakiku terus berusaha mengimbangi jalannya Luca. Namun ia hanya tampak seperti orang yang tergesah-gesah. Bahkan aku sempat berpikir ia berniat meninggalkanku diarea parkir ini.



Memasuki pintu utama Restauran, kini kedua kakiku bak terpaku, bahkan kedua lututku mulai bertautan bergerak hingga menggetarkan sekujur tubuhku. Dalam hati aku bertanya-tanya tempat apa ini? Tentu aku tahu bahwa ini adalah Restauran, ada beberapa meja kursi tertata horizontal ditepi sebuah telaga yang luas, indah bukan main, ditambah lagi ratusan atau mungkin ribuan lambu chandelier batu safir biru menggantung diatasnya. Mereka menggantung mengelilingi telaga itu, menerangi petangnya malam, tepat disisi bulan purnama yang bulat sempurna diatas sana. Oh, Jupri, kau berada dimana?

Desperté, otra vez, con la ausencia de tu voz
Y pinte, con mis manos tu silueta amor
Si te llamo no contestas, si te busco nunca estas
Nena dame otra oportunidad

Sontak mataku terbelalak lebar, setelah memutar tumitku, dan menemukan suara itu berasal dari seseorang yang saat ini tengah berdiri dengan kharismanya diatas panggung.


"L-LUCA??"

Jantungku tak dapat bekerja sewajarnya sejak detik itu. Aku terperangah dalam mulut yang terkatup dan hanya dapat berdiri mematung diambang pintu, sedangkan Luca tampak semakin berkharisma bernyanyi diatas panggung sana.

IGNITE. (Marc Marquez)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang