Chapter 14

642 56 12
                                        

Song of this Chapter :
The Weeknd-Can't feel my face

***

Alex's POV

Aku tak dapat merasakan wajahku. Ya, tepat disetiap kali aku hanya berdua dengan Luca dalam suatu ruangan. Tak perduli gender. Wanita atau pria. Aku hanya sadari bahwa inilah cinta, ketika aku bersama dengan Luca. Caranya berbicara, munculnya senyuman manis per kata yang terlontar dari bibir tipisnya, bagaimana aku tidak mati lantaran itu? Roman wajahnya yang menenangkan dengan tatapan mata biru terangnya yang bak batu safir, bagaimana aku bisa hidup tanpa itu?

Bagaimana aku mampu mengelak perasaan ini? Aku mencintainya dan dia telah menjadi milikku sekarang. Aku tidak minta lebih dari itu, Tuhan. Hidupku sudah lebih dari kata cukup setelah memilikinya. Salahkan Cupid yang mengarahkan anak panahnya pada hati yang salah? Ampun, jangan murka padaku, Jesus. Karena aku tak sanggup memudarkan pesona Luca Marini dari otak dangkalku.

Dan soal Marc yang mengataiku tidak waras, biarlah Marc mengecapku seperti itu. Aku tidak perduli, lagipula aku juga mempertanyakan kejantanannya? Marc juga sama tak warasnya. Buktinya aku tidak pernah melihatnya mengencani seorangpun wanita. Dan belakangan hari ini aku berpikir bahwa kemungkinan Marc adalah seorang Asexual.

Well, kami memang kakak beradik yang sama-sama tidak waras. Kasihan Mom dan Dad, mereka memiliki anak yang sama-sama abnormal-nya. Okey, lagi-lagi salahkan si Cupid yang telah salah membidik anak panahnya dihati pria ke pria. Juga, salahkan Cupid yang kehabisan panahnya sehingga tidak ada jatah anak panah ke hati Marc. Jajaja, kendati aku tidak yakin kalau Cupid itu ada.

"Lex.." panggil Luca, yang tiba-tiba muncul diambang pintu kamar hotelku. Oh, pagi-pagi sekali ia telah rapi dan wangi, untuk sekedar menemuiku.

"Iya, Mi Corazón, ada apa?" tanyaku dengan menyungging senyuman termanisku. Berjalan kearahnya sambil menyibakkan rambutku dengan sela-sela jemari tanganku.

"Aku mau bertanya, apakah kau melihat Diana? Aku belum melihatnya kemarin dan hari ini."

"WHAT??" sentakku. Membanting pintu dengan keras, kemudian melempar tubuhku pada matras, kemudian menangis meronta-ronta dengan membenamkan wajahku pada bantal.

Apa dia gila? Aku inikan pacarnya? Bingung setengah mati! Apa yang special dari Diana??

Kemarin Marc mencari Diana dan hari ini Luca juga mencarinya. Semua orang yang ku sayangi mencarinya. Oh, DAMN!

"Lex?" panggil Luca sambil mengetuk pintuku pelan. "Open the door?!"

Berdecih kesal, aku mengerjapkan pelupuk mataku, dan menatap pintu. Mempertimbangkan untuk membuka atau tidak pintu itu. Ah, tidak. Ku rasa aku butuh waktu sendirian, mungkin dua-tiga menit kedepan.

"LEAVE ME ALONE!!!" Sentakku padanya.

"Okey.. I'll leave you alone," ucapnya berikutnya dari balik pintuku. Aku terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan Luca berikutnya.


"I guess we're done..." (Ku rasa, kita sudah berakhir)


***

Marc's POV

"Kemana kau kemarin malam, Diana?" Tanya Marc melalui sambungan telepon.

"A-aku di kamar Hotel." Jawabnya, singkat.

"Aku tahu kau berbohong, aku telah mengecheck kau di kamarmu semalam dan kau tidak ada." Kataku sambil bercekak pinggang, dia bahkan bisa berbohong. Kenapa tidak jujur saja dengan mengatakan bahwa ia mencari teman prianya itu.

"Kau mengecheck sampai ke kamarku??"

Memejamkan mataku, bagaimana bisa aku kelepasan bicara?! Ini akan semakin tampak bahwa aku mencarinya dan memang begitulah kenyataannya.

IGNITE. (Marc Marquez)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang