Special Chapt. ViaSyah0393 yang sabar nungguin. :-)
***
Diana’s POV
Pandanganku kabur. Seperti cermin keruh yang rapuh. Mobil-mobil berlalu-lalang di depan mataku yang berkabut, embunnya menggumpal, dan menetes dari kedua sudut mata.
Nyatanya menjadi gelandangan tidak buruk juga. Aku sedikit mensyukurinya. Kendati aku berharap satu di antara puluhan mobil yang berlalu di depanku, akan ada yang berhenti. Seperti dulu, wajah Marc tiba-tiba menyembul, memanggiliku dari dalam mobilnya.
Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana canggungnya aku duduk kursi depan, tepat di sisinya. Dan saat ia berkata,
“Mari kita cari bersama!”
Malam itu kami mencari Jupri bersama, untuk pertama kalinya. Kini, apa yang harus ku katakan padanya jika ia bertanya?
Tidak. aku tidak perlu menyiapkan jawaban apapun. Karena kami pun tak akan lagi bertemu. Aku akan kembali. Yang terpenting adalah jawaban apa yang ku beri untuk Pak Asep dan Bu Maryam---orang tua Jupri, juga orang tuaku. Ya, itulah yang harus ku persiapkan. Ku rasa aku bisa. Aku akan memikirkan itu nanti selama di pesawat, mungkin sembari meneguk air putih.
Ku rasa aku bisa?
***
Marc’s POV
Aku telah menunggu nyaris satu jam sejak ia berjalan membanting pintu dan membiarkan wanita basah kuyup itu uring-uringan tidak jelas. Aku tidak akan pernah lupa ucapannya pada wanita itu, sungguh kasar sekaligus menggelikan walaupun aku tidak sepenuhnya paham dengan apa yang mereka permasalahkan. Yang ku yakin pasti wanita berambut merah itu bukan pacar Cam.
“KAU TIDAK PERLU MENAMPARNYA!” Sentak Cam, menendang lemari kayu di sampingnya, hingga pintu lemari itu terbuka. “Lihat! Ganti baju sialanmu, dan enyahlah, Jalang!”
“Cam.” Panggilku, menahan gelak tawaku. Aku hanya memastikan bahwa ia tidak lupa dengan janji yang sudah kami sepakati, karena aku sudah membayar.
Cam menatapku yang nyaris mati kebosanan di sofa. “Aku tidak lupa, beri aku waktu setengah jam. Aku ada kepentingan.” Jelasnya kalut, sebelum beringsut pergi sambil mengacak-acak rambutnya, dan tak lupa meluapkan amarah dengan membanting pintu.
Aku benar-benar tidak ada gagasan dengan apa yang terjadi padanya. Yang ku lakukan berikutnya adalah keluar dari ruangan busuk itu. Memberi waktu wanita itu untuk sendiri, untuk mengganti baju. Sebelum kini terduduk di sofa yang sama, menunggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITE. (Marc Marquez)
FanfictionCerita tentang cinta beda agama. Iremos a un Hotel (Kita pergi ke Hotel) Iremos a cenar (Kita pergi makan malam) Pero nunca iremos juntos al Altar (Tapi kita tidak bisa pergi ke Altar bersama) ©IGNITE. released... Marc Marquez Fanfiction All about m...
