"First they'll make your heart skip beats and then they'll make your insides ache until you forget the difference between love and hate."
***
Aku berjalan cepat menuju parkiran sekolah, pasti Davin sudah menungguku disana. Aku semakin mempercepat langkahku, dan aku melihat Adit yang sedang memantul-mantulkan bola basket dengan sangat emosi di lapangan, tumben banget main basketnya pake emosi. Ah paling dia lagi ada masalah sama pacarnya, Maudy.
Aku menghampiri Davin yang sedang mendengarkan lagu melalui headset-nya itu. Kenapa dia makin ganteng kalau bergaya seperti itu?
"Udah lama ya nunggunya?"tanyaku memastikan.
Davin menggeleng, "Enggak kok. Lagian gue biasa kok kayak gini kalau nunggu nyokap."
Aku terkekeh kecil mendengar penuturannya, "Tadi gue ngumpulin tugas dulu ke Bu Dona."
Davin mengangguk sambil mengacak-acak rambutku, "Iya gapapa. Yaudah yuk."ucapnya sambil membukakan pintu mobil untukku.
Aku masuk ke dalam mobilnya, dan tersenyum senang karena perlakuan Davin yang sangat manis. Sementara Davin, memutari mobilnya dan masuk ke tempat pengemudi tepat disampingku.
"Mau langsung pulang liv?"tanya Davin sambil menyalakan mesinnya.
Aku menggeleng dengan cepat, "Kita ke café black sugar dulu, gue ada urusan sama abang gue."
Davin mengangguk paham, dan segera menancapkan gas meninggalkan sekolah yang semakin sunyi.
***
Adit POV
Ini semua gara-gara maudy. Aku memang pernah menjalin hubungan dengan perempuan itu, dia adalah cinta pertamaku dan aku sangat sulit untuk melupakannya. Tapi, berbeda dengan sekarang, Oliv datang membuat hidupku yang awalnya abu-abu menjadi berwarna. Dia tak pernah menganggap perasaan itu ada. Tapi, aku nyaman dengan hubungan friendzone seperti ini, walaupun aku harus menancapkan duri tajam ke hatiku sendiri.
Aku suka cara dia tertawa, aku suka membuatnya kesal, aku suka membuat semburat merah dipipinya ketika aku lagi menggodanya, aku suka apapun yang ada pada dirinya.
Ketika tamu bulanannya datang, dia menjadi sangat emosional. Dia kecewa ketika aku bilang kepadanya kalau aku tidak cemburu. Aku meminta maaf, dan dia entah kenapa menjadi makin galak kepadaku. Tapi, aku tau cara meluluhkannya yaitu dengan memberinya cokelat. Because, she loves chocolate. Walaupun, aku membuatnya menangis karena hampir tidak jadi membelikannya cokelat.
Cukup lebay memang. Laki-laki seharusnya tidak menye-menye seperti ini, tapi laki-laki tidak salahkan kalau dia patah hati karena perempuannya? Laki-laki memang memakai logikanya, tetapi laki-laki juga punya hati. Lebih tepatnya sih, aku laki-laki patah hati karenamu.
Aku memantul-mantulkan bola basket dengan emosi karena aku sedang terbayang-bayang kejadian tadi pagi. Dimana Oliv kembali memilih Davin.
Flachback on
Aku yang sedang berjalan santai menuju lorong sekolah terdiam ditempat karena aku mendengar suara yang membuatku hatiku menjadi sangat sakit.
"Pulang bareng yuk?"ajak Davin.
Aku melihat tatapan berbinar dari mata Oliv, "Boleh deh dav. Ntar, tungguin gue ya."
Aku menghela nafas melihat kejadian itu, semenjak kemarin Oliv menghiraukanku hanya karena Maudy yang mengaku sebagai pacarku.
Flashback off
Aku melemparkan kembali bola itu ke arah ring basket. Aku melihat Oliv yang sedang berjalan menuju parkiran sekolah, aku tahu dia pasti tidak menyadari keberadaanku disini. Untungnya lapangan sekolah menghadap arah parkiran, dan ternyata Oliv menghampiri Davin. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku bisa lihat tatapan dari matanya Oliv ke Davin. Hatiku mencelos, parahnya Davin melakukan hal yang biasa aku lakukan ke Oliv; mengacak-acak rambutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are
Подростковая литератураAku adalah perempuan biasa saja, perempuan yang sangat susah melupakan seseorang dimasa lalu. Sampai akhirnya ada dia yang mencoba membantuku move on, tapi dia sempat membuatku sakit hati dan membuatku ingin dia menjauh dari hidupku, kenyataan berka...
