.
.
.
"neo.. gwenchana?" tanyanya pelan. Ada rasa kasihan, sedih, dan juga khawatir di hati pelayan toko itu melihat jinhwan yang seperti orang bodoh berdiri disana
Ia melangkah mendekat pada jinhwan. Tangannya ia gunakan untuk membalikkan tubuh jinhwan. Ditatapnya pria mungil yang sudah berlinang air mata. Ia mengelus pipi jinhwan sangat halus. Membelai surai coklatnya dan jinhwan merasa mendapat kehangatan karena itu. Pelayan toko itu kemudian mendekap tubuh jinhwan dalam tubuhnya. Jinhwan tidak menolak dekapan hangat yang dengan suka rela diberikan
"menangislah, jangan kau tahan" ucapnya pelan namun masih didengar oleh jinhwan
Jinhwan diam sebentar mendengar itu. Dan dua detik kemudian tangisnya pecah. Benar-benar pecah hingga membuat pelayan toko itu ikut menangis. Tangannya ia gunakan menepuk-nepuk punggung jinhwan. Memberikan kekuatan pada pria mungil yang masih mengeluarkan air mata bak air terjun.
"gwenchana, semua akan baik-baik saja" ucapnya lagi
Jinhwan tak bisa berhenti menangis. Rasanya sulit sekali baginya untuk menghentikan air matanya. Sakit. benar-benar sakit. hatinya terluka. Masa depannya hancur hanya karena satu malam. Ia merekatkan tubuhnya pada pelayan toko yang bahkan ia tidak ketahui siapa namanya. Memperdalam pelukannya. Napasnya tak beraturan karena menangis. Keputusan yang tepat bagi pelayan toko itu menutup tokonya
Jinhwan masih merasa air matanya mengalir deras. Wajahnya memerah karena menangis terlalu kencang. Ia bahkan lupa kalau kini saatnya dia berangkat kuliah. Rasanya dunia berhenti padanya sekarang. Tidak akan ada kehidupan yang menyenangkan lagi. tidak akan ada hari-hari cerah bagi paginya lagi. tidak, tidak akan pernah ada kebahagiaan di hidupnya lagi. ia putus asa. Dia tidak suka dengan ini. Rasanya terlalu berat baginya. Bagaimana dia akan bilang kepada kedua orang tuanya, bagaimana jika hanbin tahu keadaannya, dan bagaimana ia meminta pertanggung jawaban jiwon sang ayah bayi yang kini bersarang diperutnya.
.
.
Disini mereka berada. Di rooftop toko obat yang di paksa tutup oleh pegawainya. Jinhwan sudah bisa berhenti menangis setelah air matanya dirasa tak dapat keluar lagi. dan terimakasih pada pelayan toko yang memberikan kehangatan bagi jinhwan
Tangannya ia arahkan pada jinhwan
"aku kim donghyuk" ucapnya. Jinhwan menatap tangan itu dan kemudian mengaitkannya pada tangannya yang mungil.
"aku kim jinhwan" ujarnya memberikan senyuman tipis. Sangat tipis. Kemudian ia menunduk lagi
Donghyuk menatap jinhwan dengan tatapan sendu. Jinhwan kini terlihat seperti orang yang benar-benar kehilangan sebagian hidupnya.
"jadi.. sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanyanya. Jinhwan mengangkat kepalanya
"entah, hanya.." kalimatnya tidak ia teruskan. Sulit sekali rasanya bagi jinhwan berbicara sekarang. Terutama bicara kehidupan di hari esok.
"jinhwanie, kau tidak boleh berfikir untuk menggugurkan kandunganmu" ujarnya. Dan persetan, jinhwan baru saja memikirkan untuk melakukan itu
"jangan sekali-sekali kau berfikir se—mudah bagimu untuk berkata seperti itu. Tapi sangat sulit bagiku" ucapannya dipotong oleh jinhwan.
Donghyuk menghela napas dalam, ia memberikan senyuman tipis.
"karena aku telah menyesali perbuatan itu" ujarnya, jinhwan menatap pria manis di hadapannya
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE SICK
Romance"Apakah kita hanya benar-benar mendapatkan satu kesempatan akan cinta sejati?"
