3 - Wedding Dress

594 47 4
                                        

Baekhyun sangat kesal hari ini karena tamu yang ia tunggu tak jadi datang. Ia berjalan menuju mobilnya sambil menendang-nendang kaleng minuman ringan.

"Apakah dia orang yang sangat sibuk? Kenapa seenaknya sendiri!!! Apa semua orang kaya selalu egois seperti ini??? Arrrgh... Tiga hari lagi? Aku punya firasat kalau orang itu berubah pikiran. Mungkin dia pikir-pikir lagi... Uang sebanyak itu sangat sayang kalo disumbangkan. Iya kan? Bukankah orang kaya selalu pelit???." Baekhyun terus saja bicara sendiri.

Hapenya berdering. Ia pun mengambil hape di sakunya. Ada nama "Yellow" di sana.

"Halo..."

"Kau dimana? Sudah makan?," tanya seorang pria yang ia beri nama Yellow itu.

"Belum. Aku sedang maraaah... Tidak napsu makan."

"Makanlah... Jangan sampai sakit huum... Malam ini datanglah ke Butik Aeri. Aku tunggu jam 7 malam."

"Butik? Untuk a... Ba... Baiklah... Kita ketemu di sana atau kau mau menjemputku di kantor?"

"Langsung ketemu di sana saja. Kebetulan aku sore ini bertemu klien di dekat situ."

"Baiklah. Sampai jumpa nanti."

"Sampai jumpa. Jangan lupa makan ya. Nanti aku akan meneleponmu lagi." Pria itu menutup teleponnya. Baekhyun menarik nafas panjang.

*-*

Jam di tangan Baekhyun sudah menunjukkan pukul 06.45 malam. Ia masih di kantornya bersama beberapa rekan kerjanya. Meskipun jam kerja sudah berakhir jam 5 sore tadi, namun masih banyak pekerjaan yang belum selesai sehingga terpaksa mereka harus lembur.

Baekhyun menghampiri Jongdae.
"Chenchen, aku ijin pulang dulu ya. Aku teruskan nanti di rumah."

Chen merupakan nama panggilan Jongdae. Dan Baekhyun biasa memanggilnya Chenchen. Keduanya memang sudah bersahabat sejak 7 tahun lalu karena mereka ikut tes pegawai di tahun yang sama.

"Tumben buru-buru amat. Mau kemana?"

"Ada janji."

"Dengannya?"

Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah... Hati-hati di jalan. Baekhyuna... Kalau kita punya waktu luang, aku ingin minum kopi denganmu. Saat itu, ceritakanlah semua padaku. Oke?"

Baekhyun menepuk bahu Jongdae.

"Geurae... Setelah acara penyerahan sumbangan esok lusa, aku akan menraktirmu minum kopi. See you, Chen."

"See you tomorrow."

Baekhyun pun meninggalkan Jongdae. Ia segera berangkat ke Butik Aeri yang berjarak kurang lebih 10 km dari kantornya.

"Yellow" kembali meneleponnya.

"Kau tidak lupa kan?"

"Ani... Aku sedang menyetir. Tutup teleponnya. Kau sudah di situ?"

"Sudah... Baiklah. Hati-hati. Jangan ngebut."

"Ne..."

Baekhyun tersenyum lagi. Sendiri. Ia terlihat bahagia. Bahagia karena memiliki seorang pria yang begitu lembut dan tulus. Yang tak pernah lupa mengingatkannya untuk makan, mengingatkannya untuk menyetir dengan hati-hati dan mengingatkannya untuk membawa payung ketika langit mulai mendung. Seseorang yang tak pernah lupa memberi Baekhyun bunga di hari ulang tahunnya bahkan sejak 20 tahun yang lalu.

Baekhyun sudah sampai di Butik Aeri. Ia pun masuk. Seseorang telah menunggunya di sana. Seorang diri.

Pria itu sangat tampan. Wajahnya sempurna. Dagu yang tajam, garis-garis muka yang tegas menambah wibawanya.

"Oh Sehun...", Baekhyun memanggilnya. Ia pun menoleh dan segera berdiri menghampiri Baekhyun.

"Kau lama sekali."

"Jalanan lumayan padat..."
Baekhyun memandangi Sehun dari atas ke bawah dan sebaliknya.

"Wae?," tanya Sehun bingung.

"Jasmu baru ya? Pantas kau jadi lebih tampan dari biasanya," goda Baekhyun.

"Tidak. Ini bukan jas baru."

"Lalu?"

"Ini jas yang akan ku pakai di hari pernikahanku nanti."

Baekhyun terdiam.

"Kenapa? Terkejut?"

"A... Ani... Itu sangat cocok untukmu"

"Aku juga sudah memilihkannya untukmu. Ada 3 yang ku pilih. Kau cobalah. Dan pilihlah yang kau suka."

"Sehuna....," ucap Baekhyun lirih.

Sehun memanggil penjaga butik.

"Ini calon pengantin wanitanya. Tolong bantu dia memilih gaun yang paling cantik dan cocok untuknya."

"Baik, Tuan. Mari Nona, silakan ganti di dalam. Tuan Oh sudah memilihkan 3 gaun terbaik untuk Nona."

Baekhyun pun berjalan ke ruang ganti. Sehun menunggunya.

Baekhyun dibantu oleh empat orang petugas butik.

"Silakan Nona Byun. Dicoba satu per satu. Mau pilih yang mana dulu?" petugas butik berkata dengan ramah pada Baekhyun.

"Tidak... Tidak usah. Aku hanya akan memilih satu yang paling ku suka."

"Oh.. Begitu.. Baiklah. Silakan Anda pilih yang terbaik."

Baekhyun melihat satu per satu gaun yang ada di depannya. Semuanya bagus dan anggun. Pun terlihat mewah. Dia yakin Sehun menghabiskan banyak uang untuk ini.

"Aku memilih ini. Bantu aku memakainya."

"Baik Nona. Ini memang sangat cocok untuk Anda. Tidak terlalu terbuka, terlihat sopan namun anggun dan mewah."

Baekhyun pun memakai gaun itu. Benar. Ia melihat dirinya di cermin. Ia sangat cantik dan gaun itu sangat cocok untuknya.

"Tuan Oh, Nona Baek sudah selesai memilih. Ia sangat cantik," ucap salah satu pegawai butik pada Sehun.

"Benarkah?"

"Iya. Itu dia."

Baekhyun pun berdiri tepat di depan Sehun dengan gaunnya yang indah. Sehun tersenyum lebar.

"Kau memang wanita tercantik yang pernah kutemui."

Baekhyun tersenyum sambil menatap mata indah Sehun yang bersinar.

Dan hatinya pun berkata

"Aku, Byun Baekhyun akan menikah dengan Oh Sehun. Pria yang tinggi dan sangat tampan, yang telah ku kenal selama 20 tahun. Ya. Dia Oh Sehun. Dia. Sahabatku sendiri."

*-*

Your Name (Semi HIATUS)Stories to obsess over. Discover now