Sehun sangat hancur. Ia tak mau bertemu Baekhyun lagi. Ia tak mampu melihat Baekhyun. Rasanya sakit. Ia benci. Hatinya sudah pecah berkeping-keping. Artinya, kepingan itu tidak akan bisa menyatu sempurna meskipun kelak ada seseorang yang akan memperbaiki kepingan itu.
Ia benci Baekhyun. Tapi hati kecilnya tak bisa. Meski ia menolak ratusan telepon dari wanita mungil itu, namun sedetik pun Sehun tak bisa berhenti memikirkannya.
Ada satu hal pula yang mengganggu Sehun. Ya. Dokter cantik itu. Luhan. Ia teringat malam itu. Malam dimana ia melamar Baekhyun, dan ia ditolak mentah-mentah. Luhan. Ia menemukan sosok Baekhyun dalam diri Luhan. Dan ini sudah hampir dua bulan, ia tak bertemu Luhan, pun tak saling memberi kabar.
Ia ingin menelepon Luhan. Tapi Sehun mengurungkan niatnya. Ia malu mengingatnya. Malam dimana ia seperti kemasukan setan. Dan menghabiskan tiga ronde bersama Luhan hingga keduanya lemas tak berdaya.
"Haruskah aku menelponnya? Kenapa dia menghilang tanpa kabar? Apa dia menyesal? Apa dia marah padaku?," Sehun bergumam pada dirinya sendiri.
Setelah berpikir panjang, Sehun akhirnya memutuskan untuk menelepon Luhan. Dia mengangkatnya.
"Halo"
"Halo, Lu. Kau apa kabar?"
"Hi, Hun. Baik. Aku sangat sibuk sekarang. Ada apa?"
"Hm... Ayo bertemu. Malam ini bisa?"
"Baiklah. Jam 7 malam di kafe biasa. Nanti aku kabari lagi. Bye."
Luhan menutup teleponnya.
======
Luhan berusaha menahan gejolak di hatinya. Ia dan timnya punya tiga operasi hari ini. Apapun masalah yang sedang dihadapi, Luhan harus tetap konsentrasi dan melakukan yang terbaik karena pekerjaannya menyangkut hidup dan mati seseorang.
"Lu, kau baik-baik saja?", Yifan, sunbaenimnya, menyapanya sebelum mereka masuk ke ruang operasi. Mereka sama-sama berasal dari China dan berasal dari universitas yg sama. Yifan adalah salah satu yang paling Luhan kenal di Korea.
"Ehm. Ini yang terakhir untuk hari ini kan? Sejujurnya, aku merasa lelah, Sunbae."
Yifan mengusap dahi Luhan.
"Kau keringat dingin. Istirahatlah setelah ini. Atau ambillah cuti besok."
Luhan mengangguk.
Mereka pun melakukan operasi pada pasien. Hanya butuh waktu setengah jam untuk menyelesaikannya. Berbeda dengan operasi sebelumnya, dokter harus berada di ruang operasi selama hampir empat jam lamanya hingga cukup menguras energi.
Luhan ingin segera menyelesaikan ini. Ia hampir tak kuat lagi menopang beban tubuhnya.
"Selesai. Terima kasih untuk hari ini. Kalian telah bekerja dengan baik. Istirahatlah." Ketua Shin mengakhiri operasi timnya hari ini.
Luhan segera melepas baju operasinya dan setengah berlari keluar. Yifan yang melihatnya merasa ada yang tidak beres dengan Lu. Ia pun mengikutinya.
Di kamar mandi, Luhan mengeluarkan semua isi perutnya. Ia muntah. Lemah. Pandangannya kabur. Ia ingin menangis. Mengingat apa ia lihat kemarin sore, saat ada dua garis di alat tes kehamilan yang ia pegang. Ia tak tahu kenapa ia menangis. Sedih atau bahagia.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Luhan berjalan sempoyongan menuju kamar piket dokter. Ia bertemu Yifan di lorong depan kamar mandi. Kepalanya makin berat, pandangannya semakin kabur.
"Sunbae...,"
Bruk!!! Luhan kalah. Ia jatuh tak sadarkan diri.
"Lu han... Lu, kau kenapa??? Luhan sadarlah!!!," Yifan yang panik segera membopong Luhan ke UGD rumah sakit.
Dokter UGD segera memeriksa Luhan dan memasang infus di tangannya.
"Kenapa dia?," tanya Yifan khawatir.
"Ayo bicara sebentar di luar."
Dokter Jung adalah teman Yifan dan Luhan.
"Kenapa? Dia baik-baik saja? Belakangan dia terlihat kurus dan pucat."
"Luhan hamil."
"Apa??? Kau bercanda?," Yifan ternganga tak percaya.
"Dia hamil. Mungkin baru sekitar sebulan usia kandungannya. Apa kaulah ayah bayi itu?"
"Ya!!! Kau gila? Luhan bahkan selalu menolak ku ajak berkencan. Lalu, siapa yang melakukannya??? Ya Tuhan.. Aku bahkan sudah janji pada orang tuanya agar menjaganya dengan baik."
"Tanyakan saja pada Lu. Aku akan merahasiakan ini. Kau jagalah dia."
*-*
19.30
Ponsel Luhan terus berdering. Yifan melihatnya. Seseorang bernama Oh Sehun terus menelepon Luhan.
"Lu... Kau dimana? Aku sudah di sini. Apa perlu aku jemput di rumah sakit?"
"Maaf.. Ini aku, Wu Yifan teman Luhan."
Sehun kaget. Seorang pria mengangkat telepon milik Luhan. Wu Yifan. Nama yang tak asing karena Luhan pernah bercerita tentangnya.
"Ah... Dokter Wu. Chogi... Bisakah aku bicara dengan Luhan?"
"Tidak bisa."
"Kenapa? Ini penting sekali."
"Luhan.. Luhan sedang dirawat. Ia pingsan dan belum sadar sampai sekarang."
"Mwo??? Apa yang terjadi padanya dokter? Aku akan ke sana sekarang."
Sehun menutup teleponnya.
*-*
"Apa kau orangnya?".
"Apa maksudmu?," Sehun bertanya bingung.
"Luhan... Dia gadis yang baik kenapa kau melakukannya hah??? Masa depannya bisa hancur karenamu!!!" Yifan benar-benar marah karena ini. Ia memukul wajah Sehun dengan keras hingga darah segar mengalir di sudut bibir Sehun.
"Jelaskan yang sebenarnya terjadi! Aku benar-benar tidak paham apa yang kau katakan."
"Itu kau kan??? Itu pasti Kau! Kau adalah ayah janin itu kan? Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!"
Kaki Sehun lemas seketika.
"Mwo??? Ja... Janin???"
"Iya! Bayi itu. Luhan bahkan sangat lemah. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Jika sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku akan membunuhmu!"
"Andwae... Lu...," Sehun menangis sendiri di lorong rumah sakir yang sepi
•ㅅ•
YOU ARE READING
Your Name (Semi HIATUS)
Fanfiction#Indonesian On Process 👌 Use many plots, so it'll be little confusing. Looks like a scenario of a Korean Drama. It will take much time. Casts : Park Chanyeol Byun Baekhyun (gs) Oh Sehun Luhan (gs) Kim Jongin Do Kyungsoo (gs) All EXO members. Genr...
