Chapter 17 -Flashback-

16.9K 919 16
                                        

Hei, gue post nih yang ke-17. Ternyata gue bisa nyelesaiin tulisan gue lebih cepat dari yang gue bayangkan. Mungkin lagi banyak ide+mood nulis. Hehe.

Chapter ini khusus buat ReYn--Rey-Ryn. Semoga suka ya.

-

Ryn mendongak agar bisa melihat siapa orang yang sudah berani-beraninya menabraknya dan menjatuhkan es krimnya. Dan ternyata..

“REY! LO PUNYA MATA GAK SIH? ISH, ES KRIM GUE JATUH GARA-GARA LO, PADAHAL GUE BARU JILAT LIMA KALI!!”

Ryn menatap nanar es krim yang jatuh dan melumuri sebagian tangan Rey.

“HUWAA.. gue udah rela-relain ngantri lama-lama buat dapetin es krim ini. Hiks..” rengek Ryn masih dengan posisi duduk sambil kakinya menendang-nendang tak karuan.

Kontan saja perbuatannya itu membuat para pengunjung memperhatikannya.

Karena banyak yang memperhatikan mereka, Rey langsung memeluk Ryn erat agar Ryn tidak membuat kehebohan dan melakukan hal yang aneh-aneh yang dapat membuat mereka tambah malu. Eh, bukan, Rey malu. Soalnya Rey percaya bahwa Ryn tak tahu malu, sudah dapat dipastikan bahwa Ryn gak punya malu.

“Ssst.. Ryn, udah deh, lo gak usah bikin malu gue. Ntar gue beliin es krim lagi deh,” bisik Rey pelan.

Mendengar kata ‘beliin es krim’, Ryn langsung terdiam dan mejauhkan tubuhnya yang sebelumya berada di pelukan Rey agar dapat melihat wajah Rey.

“Beneran?” tanyanya.

“Iya, gue beliin dua deh,” jawab Rey sambil menatapnya dan tersenyum manis.

Deg.

Lagi-lagi Ryn merasa De Javu.

Mata itu. Senyum itu.

“Iya, kalau perlu aku beliin dua deh. Jadi, nangisnya udahan ya. Kamu jadi jelek kalau nangis,”

“Pangeran Es Krim?” gumam Ryn. Ia menatap Rey tak percaya.

Rey menghela napas pelan. “Hmm.. Akhirnya lo ingat juga, Gadis Kecil,?

Flashback

“Aunt May, Aunt May,” panggil seorang gadis kecil berusia enam tahun pada seorang gadis remaja yang umurnya baru menginjak enam belas tahun.

Gadis remaja yang dipanggil Aunt May itu tak menyahut karena sibuk menerima telpon dari seseorang. Ia terus berjalan tanpa menyadari kalau gadis kecil yang tadinya berada di sampingnya sudah berada jauh di belakangnya.

Karena kesal akibat Aunt May tidak mendengar panggilannya dan meninggalkannya sendirian, gadis kecil itu mengerucutkan bibir merahnya kesal dan mengembungkan kedua pipi tembemnya yang menggemaskan. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah stand es krim dengan gambar es krim beraneka rasa.Ia tergiur dan ingin membelinya.

Segera saja ia memeriksa kantong pada rok dress pink-nya. Seingatnya Mom-nya memberinya uang rupiah sebelum ia pergi dengan Aunt May kesini.

“Nah, ketemu!” serunya riang. Lalu, ia berjalan menuju stand es krim tersebut.

“Aunt, ng.. be..beli? es klim vanillanya!” katanya terbata-bata. Untung saja ia bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia karena Mom-nya selalu mengajarinya.

“Berapa, dek?” Gadis tersebut menunjukkan jari telunjuk kanannya. Menandakan ia hanya ingin membeli satu.

“Ini dek, lima ribu,” Mbak yang menjaga stand es krim tersebut memberikan es krim vanillanya.

Be My StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang