Chapter 10 -Blue Eyes Secret-

19.2K 939 10
                                        

Hai, nih author persembahkan chapter ke sepuluhnya. Di sini banyak Rey sama Ryn-nya loh. Hehe. Buat nge-bayar karena adegan Rey-Ryn dikit banget, bahkan ada yang chapter-nya gak ada Rey-nya.

Author mau say thanks to yang udah ngasih vote dan komennya. apalagi yang sudah nyempetin baca cerita yang abal-abal ini.

Oke, Selamat membaca !

-

JRENG..JRENGG..

Ryn pun menyudahi nyanyiannya. Karena bosan dan tak ada yang dapat ia lakukan, Ryn pun memutuskan untuk menyanyi sambil memainkan Gina. Dan seperti biasa, lagu yang ia nyanyikan pasti selalu menyangkut dengan ‘dia’ dan ‘dia’.

Tak sadar, ia telah menangis. Mengeluarkan semua penderitaannya selama ini. Menumpahkan segala keluh kesah yang tak dapat diungkapkan.

Ia pun menghapus air matanya dengan kasar. Lalu, menghela napasnya pelan.

“Lo nangis?”  tanya sebuah suara dari arah sampingnya. Ia pun melihat Rey sedang bersender di tembok samping pintu balkon dan menengadahkan kepalanya, menatap langit. Entah mengapa, Rey tampak terlihat sangat keren. Eh?

“Bukan urusan lo,” balas Ryn datar. Ia pun mengalihkan pandangannya dan memetik gitarnya dengan asal-asalan. Dari sudut matanya ia melihat Rey melangkah menuju ke arahnya dan duduk di kursi yang berada di sampingnya.

“Gue lihat, lo selalu galau ya? Ck,” sambung Rey tanpa memperdulikan jawaban datar dari Ryn. Ia pun berdecak pelan sambil melirik sinis ke arah Ryn.

Ryn menghela napas panjang. Lalu, melirik ke arah Rey. Masih dengan tatapan datar. “Sekali lagi, ini bukan urusan lo,” ucapnya penuh penekanan, tapi entah mengapa suaranya terdengar lirih. Seperti menahan perih.

Tiba-tiba saja, Rey mendekatkan wajahnya ke arah Ryn. Ryn pun terbelalak melihat wajah Rey dengan jarak yang sangat dekat. Baru saja ia ingin mengata-ngatai Rey, tapi tiba-tiba tangan Rey menyentuh pipinya dan menghapus jejak-jejak air matanya yang masih tertinggal.

Ryn pun mengerjapkan matanya. Ia tak mengerti dengan cowok yang ada dihadapannya sekarang. Sungguh aneh.

“Lo jelek kalau nangis,” kata Rey sambil menjauhkan wajahnya. Spontan saja, Ryn langsung menegok ke arah Rey dan melotot tajam.

“Maksud lo apaan?”

Rey pun tak mengubris Ryn, ia malah asyik menatap langit. Tiba-tiba saja, Calvin muncul dari balik pintu sambil memegang kunci  mobil.

“Eh, Ryn, Rey, gue tinggal dulu ya, gue mau jemput nyokap di bandara dulu. Pak Ujang kan lagi pulang kampung, so gue yang mesti ke bandara. Dan gue peringati selama gue tinggal, jangan ‘bertengkar’! Ngerti?”  ucap Calvin dengan penuh penekanan.

“WHAAAT??“ teriak Ryn reflek ketika mendengar perkataan Calvin. Bagaimana tidak menjengkelkan apabila kamu ditinggal bersama orang  yang kamu benci. Mana orangnya kayak patung es lagi, ngirit ngomong, sekali ngomong kata-katanya menohok sampai ke hati yang paling dalem. Oke, ini lebay. Tapi, setidaknya anggap saja itu perumpamaan.

“Ryn, jangan mulai deh. Baik-baik lo sama Rey. Sudah gue mau pergi dulu, Bye..” balas Rey. Lalu, ia langsung nyelonong pergi begitu saja tanpa memperdulikan wajah Ryn yang sungguh mengenaskan. Sedangkan Rey hanya menghela napas panjang seolah-olah ia sedang memikul beban yang sangat berat.

Hening.

Itu yang mereka rasakan kali ini. Ryn melirik Rey yang sedari tadi hanya diam saja. Ia berharap Rey akan mengajaknya berbicara meskipun akhirnya mereka pasti selalu bertengkar. Tak masalah baginya, lebih baik ia bertengkar dengan Rey daripada diam begini saja. Setidaknya ada yang ia kerjakan.

Be My StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang